Halaman

Ekstrak Serai, Pengusir Nyamuk Alamiah

Oleh Budi Imansyah
(sanitarian dan dosen pembimbing pada AKL Kutamaya, Bandung)

SERAI merupakan tumbuhan herba menahun dan merupakan jenis rumput-rumputan dengan tinggi antara 50-100 cm. Daun tunggal berjumbai, panjang sekira 1 m, lebar 1,5 cm, tetapi kasar dan tajam, tulang daun sejajar, permukaan atas dan bawah berambut, serta berwarna hijau. Batang tidak berkayu, berusuk-usuk pendek, dan berwarna putih. Akar serabut, perbanyakan dengan pemisahan tunas atau anakan.
Manfaat serai terutama pada batang dan daun yang kering digunakan untuk bumbu masak, minyak wangi, bahan pencampur pada jamu, juga dapat dibuat minyak asiri. Selain itu, ramuan serai dapat dimanfaatkan sebagai pengusir (mengendalikan) serangga, contohnya nyamuk sebagai vektor (pembawa) penyakit.
Pembangunan kesehatan adalah bagian integral dari pembangunan nasional. Tujuan pembangunan kesehatan pada intinya adalah mencapai kemampuan hidup sehat bagi setiap penduduk Indonesia. Salah satunya adalah dalam pengendalian vektor penyakit. Hal ini sesuai dengan UU RI No. 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan, pasal 22 ayat 2 yang berbunyi, ”Pengendalian vektor penyakit merupakan tindakan pengendalian untuk mengurangi atau melenyapkan gangguan yang ditimbulkan oleh binatang pembawa penyakit, seperti serangga (nyamuk malaria dan nyamuk demam berdarah), binatang pengerat.
Demam Berdarah Dengue (DBD), misalnya adalah penyakit infeksi akut yang disebabkan oleh virus dengue dan terutama menyerang anak-anak dengan tanda-tanda demam tinggi mendadak dan manifestasi pendarahan dan bertendensi menimbulkan renjatan (shock) dan kematian. Penyakit ini ditularkan melalui gigitan nyamuk aedes aegypty.
Pemberantasan vektor ini adalah dengan memutuskan rantai penularannya, yaitu melalui pemberantasan vektor dengan bahan kimia, masyarakat secara aktif berperan berusaha menghindari gigitan nyamuk penular dengan menggunakan kelambu waktu tidur, mengoles kulit dengan obat antinyamuk, menghilangkan tempat perindukan, dan peristirahatan nyamuk penular.
Untuk menghindari vektor penyakit (nyamuk) tentu dengan menggunakan bahan kimia dan ekstrak serai (andropogen nardus)merupakan senyawa kimia alamiah yang dapat digunakan dalam upaya pengendalian dan pemberantasan vektor penyakit tersebut.
**
NYAMUK yang berperan sebagai vektor penyakit biasanya kita berantas dengan cara penyemprotan dengan menggunakan insektisida sintesis sebagai racun serangga. Obat nyamuk semprot, obat nyamuk bakar ataupun obat antinyamuk yang dioleskan tentunya mengandung insektisida beberapa senyawa kimia. Namun, bagi mereka yang tidak tahan, insektisida ini menimbulkan bau yang menyengat dan bisa menimbukan sesak napas atau alergi pada kulit sehingga akan berpengaruh terhadap kesehatan.
Nyamuk jenis culex sp, aedes aegypty, biasanya diberantas dengan penyemprotan racun serangga. Namun, di samping adanya dampak positif —seperti dapat membunuh nyamuk penular— juga mempunyai khasiat tergantung macam, bentuk, dan konsentrasi insektisida serta masuknya ke tubuh.
Ada pula dampak negatifnya, di antaranya keracunan pada manusia, hewan ternak, polusi lingkungan, dan hama menjadi resisten (tahan). Di samping itu, penyemprotan dengan insektisida sintesis juga membutuhkan biaya yang cukup besar.
Berbeda dengan serai yang mengandung senyawa kimia yang alamiah. Kandungan kimia tanaman serai lebih banyak dilakukan pada batang dan daun. Caranya, batang dan daun dihaluskan, kemudian dicampur dengan pelarut dan menghasilkan minyak asiri yang mengandung senyawa sitral, sitronela, geraniol, mirsena, nerol, farsenol methil heptenon, dan dipentena.
**
SERAI mengandung senyawa berbentuk padat yang mempunyai bau yang khas, minyak asiri yang merupakan produksi serai terdiri dari berbagai senyawa —salah satu senyawa yang dapat membunuh nyamuk adalah sitronela. Sitronela mempunyai sifat racun (desiscant). Menurut cara kerjanya, racun ini seperti racun kontak yang dapat memberikan kematian karena kehilangan cairan secara terus-menerus sehingga tubuh nyamuk kekurangan cairan.
Dalam pembuatannya, serai ini dibuat dalam bentuk ekstrak. Ekstrak adalah sediaan kering, kental atau cair dibuat dengan menyari simplisia nabati atau hewani menurut cara yang cocok, di luar pengaruh cahaya matahari.
Ekstrak kering harus mudah digerus atau campuran etanol dari air. Yang paling mudah adalah dengan menghaluskan bahan ekstrak (diblender), kemudian dicampur dengan air sebagai pelarut.
Pengadaan ekstrak serai dilakukan dengan cara:
(1) Daun dan batang serai sebanyak 1 kg, dicuci kemudian ditiriskan sampai kering dan dihaluskan dengan menggunakan blender;
(2) Hasil blenderan kemudian dilarutkan ke dalam air sebanyak 250 ml dan direndam selama satu malam;
(3) Rendaman tersebut kemudian disaring, hasil saringan kemudian disimpan dalam botol dan diencerkan dengan aquadest.
Bahan inilah yang nanti digunakan dalam penyemprotan nyamuk dengan konsentrasi senyawa kimia yang cukup rendah dan alamiah. Di samping tidak mengeluarkan biaya yang cukup besar, bahan ini bisa dibuat dengan cara yang sederhana dan banyaknya cairan ini disesuaikan dengan kebutuhan yang kita inginkan. ()***

Kapan Gigi Susu Mesti Dicabut?

Oleh drg. Gandung Perkasa A.

GIGI susu atau gigi sulung, yang oleh awam lebih dikenal sebagai gigi anak-anak, keberadaannya sering dianggap sepele dengan asumsi kalau ada apa-apa toh masih ada pengantinya. Bahkan, orang tua sering mempunyai persepsi yang keliru, datang ke dokter gigi meminta gigi anaknya untuk segera dicabut karena kondisinya yang berantakan atau karies di banyak permukaan gigi.
Memang, gigi susu kelak pada saatnya akan diganti dengan gigi tetap. Namun, ini bukan berarti begitu ada kerusakan lalu satu-satunya alternatif harus dicabut. Gigi susu mempunyai ”jatah waktu” tertentu untuk tanggal sehingga keberadaannya harus dipertahankan sampai tiba saatnya untuk tanggal. Meskipun kerusakannya sudah parah, dokter gigi masih akan berusaha mempertahankan. Bahkan, bila memungkinkan, akan dilakukan perawatan seperti aplikasi fluor ataupun penambalan. Bila dokter gigi tidak mengabulkan permintaan orang tua untuk mencabut gigi anaknya meskipun kondisinya dianggap sudah sedemikian parah, itu karena memang ada pertimbangan tertentu sehingga belum diindikasikan untuk dicabut.

Fungsi istimewa
Gigi susu mempunyai fungsi istimewa yang tidak dimiliki gigi tetap. Sama halnya dengan gigi tetap, gigi susu secara umum berfungsi membantu proses pencernaan, pengucapan, dan estetika. Di samping itu, fungsi istimewa yang tidak dimiliki oleh gigi tetap adalah sebagai petunjuk gigi tetap agar kelak tumbuh (erupsi) pada tempatnya dan menjaga pertumbuhan lengkung rahang.
Bila gigi susu tanggal sebelum saatnya, baik karena karies ataupun dicabut, gigi tetap yang akan tumbuh tidak mempunyai petunjuk sehingga sering salah arah dan rahang yang ditinggal gigi susu jauh sebelum saatnya. Ini akan mengalami penyempitan sehingga tidak cukup untuk menampung semua gigi dalam susunan yang teratur. Akibatnya, susunan gigi-geligi menjadi crowded (tidak beraturan).

Periode pertumbuhan gigi
Orang tua yang mengetahui periode pertumbuhan gigi-geligi — baik gigi susu maupun gigi tetap — akan sangat membantu. Bukan hanya dalam segi perawatan dalam menjaga kebersihannya, tetapi juga mencegah agar anak-anak tidak melakukan kebiasaan buruk misalnya mengisap jempol yang bisa mengakibatkan gigi depan maju (tonggos=Sunda), menggigit pensil atau benda lain yang bisa mengikis email atau timbulnya celah gigi (distema).
Gigi susu yang tumbuh pertama kali adalah gigi seri tengah rahang bawah. Biasanya tumbuh saat bayi berusia sekira enam bulan. Hal ini sering ditandai dengan gejala bayi sering rewel, bahkan badannya disertai panas. Gusinya terasa gatal sehingga ingin menggigit setiap benda yang dipegang. Untuk mengatasinya, bayi tersebut bisa diberi mainan yang lunak dan dijauhkan dari benda-benda yang membahayakan keselamatannya.
Gigi susu diharapkan sudah tumbuh lengkap saat anak berusia dua tahun. Namun, usia yang tercantum dalam tabel tersebut hanyalah sebagai patokan perkiraan. Kadang-kadang, ada bayi yang usianya belum genap enam bulan giginya sudah mulai tumbuh, sedangkan yang lain sudah menginjak satu tahun giginya belum tumbuh sama sekali. Kondisi ini tidak perlu dirisaukan karena ada pengaruh beberapa faktor misalnya nutrisi, hormonal, ataupun keturunan.
Gigi susu bila tumbuh lengkap berjumlah dua puluh gigi yang macamnya terdiri dari gigi seri, taring, dan geraham. Gigi geraham pada gigi susu hanya satu macam, sedangkan pada gigi tetap terdapat dua macam sehingga dibedakan menjadi gigi geraham besar dan gigi geraham kecil.
Gigi tetap bila tumbuh semua (termasuk gigi bungsu/geraham ketiga/terakhir) berjumlah 32 gigi. Jumlah yang lebih besar ini disebabkan pada gigi tetap dijumpai gigi geraham kecil dan gigi geraham besar ketiga (gigi bungsu).
Saat gigi susu tanggal, biasanya bersamaan dengan saat gigi tetap tumbuh, tetapi ada pengecualian pada gigi geraham besar. Patut digarisbawahi bahwa gigi geraham besar pertama mulai tumbuh pada umur enam sampai tujuh tahun. Gigi geraham ini bukan gigi pengganti. Artinya, gigi ini langsung muncul pada deretan di belakang gigi-gigi susu, baik pada rahang atas maupun rahang bawah. Jadi, gigi ini (dan juga gigi geraham besar lainnya) tumbuh tidak menggantikan gigi susu, sedangkan gigi lainnya, geraham kecil, taring, dan seri akan tumbuh menggantikan gigi pendahulunya (gigi susu).
**
BANYAK kasus menunjukkan bahwa orang tua sering kecolongan karena tidak mengetahui gigi putra-putrinya sudah rusak parah. Padahal, gigi yang bersangkutan merupakan gigi tetap. Selain itu, letak gigi-geligi secara keseluruhan tidak beraturan sehingga mengganggu bukan hanya secara estetika, tetapi juga fungsinya.
Sebagai patokan utama, ketika anak mulai masuk TK, anak perlu lebih diperhatikan secara intensif. Usia 5,5-11 tahun adalah periode gigi campur. Gigi kelihatan tidak beraturan karena berada pada masa peralihan saat tanggalnya gigi susu dan saat tumbuhnya gigi tetap. Usia ini dianggap rawan dan penentu. Kelainan gigi-geligi bisa terdeteksi saat ini yang juga merupakan saat yang tepat untuk mengoreksinya.
Sesungguhnya, hal ini tidak perlu dikhawatirkan sejauh rahang cukup menampung semua gigi yang tumbuh. Bila ada gigi yang ”nakal” tumbuhnya, biasanya masih bisa ditangani tanpa perlu bantuan alat. Si anak dianjurkan untuk mengembalikan posisi gigi ke posisi gigi semula dengan bantuan lidahnya.
Namun, bila posisi gigi mengganggu sedemikian rupa, baik untuk fungsi maupun estetika secara ”serius”, inilah saat yang tepat untuk mengaturnya dengan perawatan pengawatan (orthodonti). Seusia anak-anak masih memungkinkan untuk dilakukan perawatan secara maksimal mengingat tulang anak-anak masih dalam periode pertumbuhan sehingga masih bisa dibentuk dan diarahkan. Dengan demkian, kemungkinan keberhasilannya lebih besar.

Kapan mesti dicabut?
Anak-anak belum mampu merawat gigi-geliginya secara maksimal dan tentunya peran orang tua sangat menentukan. Begitu gigi susu menunjukkan gejala mulai tumbuh, saat itu juga harus mulai diperhatikan.
Ketika gigi susu telah tumbuh dan sementara si anak masih minum ASI ataupun susu botol, jangan lupa untuk membersihkan giginya dengan cara mengusapnya dengan kain atau tisu yang telah dibasahi air ketika dia akan tidur. Email gigi susu lebih tipis dibandingkan gigi tetap karena itu tidak mengherankan bila gigi anak-anak sangat mudah mengalami karies. Apabila membiarkan mereka tertidur dalam keadaan rongga mulut terdapat sisa-sisa susu atau makanan, hal ini akan ikut memperparah keadaan.
Anak-anak harus dibiasakan menyikat giginya secara benar dan teratur sejak dini. Selain itu, akan sangat bijaksana jika mulai mengenalkannya dengan dokter gigi meskipun tidak mengalami kerusakan atau kelainan apa-apa. Bahkan, kedatangannya pertama kali tidak diapa-apakan, suasana keramahtamahan akan membuatnya bersahabat dengan dokter gigi, dan segala ”pernik-perniknya”. Hal ini akan membuat si anak merasa ”nyaman” sehingga kelak tidak mengalami kesulitan bila harus melakukan perawatan. Kesan trauma bisa timbul bila anak dibawa ke dokter gigi dalam kondisi ”kesakitan” serta dipaksa melakukan perawatan yang justru akan membuatnya kapok.
Gigi susu harus dicabut bila sudah terjadi resorbsi akar gigi susu oleh gigi tetap di bawahnya yang akan tumbuh. Biasanya ditandai dengan kegoyahan gigi. Pencabutan akan memberi kesempatan gigi tetap tersebut tumbuh dengan leluasa.
Namun, meskipun gigi susu belum goyah sama sekali bahkan masih kuat tertanam, sementara gigi tetap telah terlihat mulai tumbuh, gigi susu tersebut juga harus segera dicabut. Kondisi seperti ini disebut presistensi (kesundulan). Keterlambatan pencabutan mengakibatkan gigi akan tetap terhambat pertumbuhannya. Sama halnya dengan pencabutan yang belum saatnya, kondisi ini juga bisa mengakibatkan gigi-geligi susunannya tidak beraturan.
Sering dijumpai, gigi taring tetap atas seseorang, tumbuh tidak pada tempatnya (gingsul=Jawa). Kondisi ini kadang bisa mempermanis penampilan seseorang. Namun, bila letaknya sedemikian rupa sehingga mengganggu penampilan, hal ini akan menimbulkan rasa risih.
Beberapa kasus menunjukkan bahwa hal tersebut ternyata diakibatkan yang bersangkutan masih menyimpan gigi taring-gigi susu di bawahnya. Hal ini bisa terjadi karena bagi orang awam kadang tidak bisa membedakan secara pasti antara gigi susu dan gigi tetap karena tidak mengalami kegoyahan dan dianggap gigi tetap sehingga ”disimpan” lalu menghalangi gigi taring yang akan tumbuh. Dengan demikian, akan sangat membantu bila orang tua bisa membedakan gigi susu dengan gigi tetap. Secara sepintas, gigi susu bisa dibedakan dengan gigi tetap karena warnanya lebih putih, bentuknya lebih kecil, dan permukaannya cenderung menguncup. (Sumber: Pikiran Rakyat)***

Jangan Hardik Narkoba! Ia tidak dan belum Pernah Bersalah

Oleh Wawan Gunawan

DI Kolombia, gara-gara seorang Pablo Escobar, tidak kurang dari sebelas ribu rumah digeledah untuk mencarinya. Dan, 1.700 orang yang diperkirakan ada hubungannya dengan Escobar ditangkap. Para penyelidik —lengkap dengan peralatan canggih sumbangan pemerintah AS yang telah teruji di medan perang teluk— memburunya ke segenap penjuru. Akan tetapi, sepandai-pandainya tupai melompat akhirnya jatuh juga. Inilah salah satu drama perang melawan narkoba (tepatnya gembong narkoba).
Perang melawan narkoba sepertinya sudah menjadi kesepakatan bersama, bahkan secara internasional, narkoba telah dinobatkan sebagai salah satu musuh peradaban manusia. Namun, terpikirkah oleh kita bahwa ada yang salah kaprah dalam hal itu semua.
Narkotika (selanjutnya sebut saja narkoba) telah menjadi objek salah sasaran dari common sense kita. Seolah narkoba telah menjadi momok yang amat mengerikan dan menakutkan. Kita telah salah tuding, calah caci. Padahal, narkoba sama sekali bukan pokok persoalan, bukan sasaran tembak yang sebenarnya. Jangan hardik narkoba, ia tidak dan belum pernah bersalah. Yang salah adalah sikap dan mental busuk para pemakai/pengguna narkoba. Mengapa kesalahkaprahan ini bisa terjadi?

Cara berpikir yang salah?
Benarkah hal itu merupakan refleksi dari cara berpikir kita yang salah? Atau, diam-diam cara berpikir yang salah itu sengaja dibentuk dan dipelihara agar para produsen narkoba tetap dapat mencari mangsa (pengguna). Artinya, ketika kita ribut —dan seolah sengaja dibuat ribut— untuk berperang terhadap narkoba, para produser dan pengedar narkoba dengan tenang menjerat mangsa-mangsa baru hingga ke tingkat anak-anak sekolah dasar.
Terbentuklah kemudian opini masyarakat yang benci terhadap narkoba (sebuah bentuk kebencian yang tidak pada tempatnya, salah sasaran) dan kalau toh ada pengguna dan pengedar yang tertangkap oleh aparat, bisa dipastikan adalah mereka dari kalangan kelas teri. Kalaupun suatu waktu ada kelas kakap yang terjaring, proses hukumnya menjadi raib, entah bagaimana, kasusnya menjadi buram alias tidak jelas.
Sudah saatnya ada pencerahan terhadap masyarakat agar tidak menghardik dan membenci narkoba, terutama dalam hubungannya dengan kebutuhan medis. Mulai sekarang harus ada penyuluhan yang benar dan berbasis kepada akal sehat, bukan melalui kata-kata yang menyesatkan.
Seharusnya tidak ada kalimat perang atau kampanye antinarkoba. Namun harus digalang kampanye antipenyalahgunaan narkoba. Dibangun upaya sistematis dari semua pihak agar perang terhadap mental busuk penyalahgunaan narkoba.
Artinya, kata-kata dalam poster perang terhadap narkoba sesungguhnya merupakan refleksi dari ketidakcerdasan cara berpikir. Dalam bahasa lain, apabila kita salah berpikir dan salah kaprah terhadap suatu persoalan maka selama itu kita tidak mungkin bisa menyelesaikan persoalan yang bersangkutan. Itulah sebabnya mengapa selama ini kita tidak juga mampu menyelesaikan persoalan ini. Sekali lagi, kita telah salah alamat. Kita telah salah mengidentifikasi musuh. Musuh kita bukan narkoba, musuh kita adalah mental busuk. Mental busuk semua kalangan sebab persoalan penyalahgunaan narkotika merupakan siklus yang multikompleks. Inilah sebenarnya yang harus kita jadikan musuh bersama.

Membangun kesadaran masyarakat
Dalam perspektif seperti itulah, membangunkan kesadaran masyarakat dalam relasi antiterhadap mental busuk menyalahgunakan narkoba harus segera dibentuk secara komprehensif. Dalam hal ini, peran keluarga yang dinakhodai ayah-ibu memiliki tanggung jawab yang besar dalam memberdayakan mental positif setiap anggota keluarganya. Sebab, apa pun narkoba, ia akan tidak berdampak apa-apa apabila setiap anggota keluarga telah memiliki mental positif. Tumbuhlah kemudian jenis keluarga yang bebas dari penyalahgunaan narkoba tetapi sekaligus tidak membenci narkoba.
Memang harus diakui, cara berpikir seperti ini terbilang langka. Akan tetapi harus kita yakini, cara inilah yang dapat dijadikan bekal awal dalam menahan laju penyalahgunaan narkoba di negara ini. Kemudian elemen sekolah. Inilah elemen kedua terpenting setelah keluarga, sebab pada institusi sekolah terdapat berbagai bentuk tanggung jawab terhadap keberlangsungan sekaligus perkembangan mental dan moralitas setiap anak didik.
Jangan cekoki anak dengan sikap salah kaprah terhadap narkoba. Justru setiap anak memiliki hak memperoleh pengetahuan tentang narkoba secara benar. Artinya, menumbuhkan kesadaran anak dalam rangka membangun moralitas dan mentalitas anak lebih memiliki penting ketimbang menjejali anak dengan larangan akrab pada narkoba.
Kalau kita tidak jeli mencermati fenomena yang memprihatinkan ini, kita malah akan terjerumus untuk membincangkan yang sebenarnya bukan topik bersama. Kita mengharamkan narkoba, kita takut-takuti anak-anak dengan narkoba, tetapi kita pelit terhadap informasi (barangkali kita memang tidak mengetahuinya?) tentang narkoba yang seharusnya diberikan kepada anak-anak kita. Bagaimanapun membentuk kesadaran akan bahaya penyalahgunaan narkoba jauh lebih penting ketimbang menghambur-hamburkan kalimat yang tidak efektif.

Menegakkan hukum
Di sinilah kemudian peran pemerintah —melalui lintas departemen— memiliki peran dan tanggung jawab yang sangat besar. Pemerintah harus berpikir ulang tantang bagaimana memberantas penyalahgunaan narkoba. Dalam hal ini penindakan tegas terhadap kalangan yang sengaja meraup keuntungan lewat bisnis narkoba harus diberantas sampai ke akar-akarnya. Perlihatkan kepada publik bahwa aparat penegak hukum juga berani menindak para bandar besar hingga kalau perlu menghukum mati.
Dalam konteks aparat inilah sering kita dengar praduga adanya kongkalikong antara bandar besar dengan aparat keamanan. Kita seharusnya sadar betul bahwa salah satu kunci memberantas penyalahgunaan narkoba adalah penegakan supremasi hukum. Tentu saja akan kita dapatkan dua keuntungan sekaligus apabila supremasi hukum dapat kita tegakkan.
Pertama, akan lahir efek jera dari mereka yang meraup keuntungan dari bisnis ini dan kedua, adanya kepercayaan dari masyarakat terhadap aparat penegak hukum. Selama hal penegakan hukum ini kita abaikan, selama itu pula kita tidak mungkin berharap banyak akan adanya penurunan penyalahgunaan narkoba.
Itulah sebabnya, barangkali cara kita yang salah kaprah dalam mengungkapkan kebencian kita terhadap narkoba, berbanding lurus dengan belum cakapnya aparat penegak hukum dalam menindak secara tegas mereka yang terlibat dengan segala bentuk penyalahgunaan narkoba. Ini memang patut kita sayangkan.
Jangan hardik narkoba! Perbaikilah mental busuk kita! (Sumber: Pikiran Rakyat)***

Makanan Kaya Nutrisi dan Pencegah Penyakit

Oleh Agah Nugraha

PEPATAH Barat mengatakan, You are what you eat. Pepatah lama ini hingga kini masih relevan. Simak saja, sudah banyak contoh akibat pola makan yang salah mengakibatkan penyakit darah tinggi, penyakit jantung, asam urat, dan kolesterol.
Semua penyakit tersebut disebabkan mengonsumsi makanan yang mengandung kadar lemak berlebihan. Oleh karena itu, telitilah memilih makanan. Berikut ini berbagai makanan mengandung nutrisi tinggi yang baik untuk kesehatan kita dan bisa menolak datangnya penyakit.

Apel
Buah ini sangat populer dan universal. Manfaat apel antara lain mencegah kolestrol, mengurangi gejala akibat salah cerna, dan mencegah kelebihan lemak. Mengonsumsi dua buah apel setiap hari bisa mengurangi nyeri karena radang sendi, rematik, dan gout (kelainan pada metabolisme uric acid hingga menimbulkan nyeri di persendian).

Apricot
Buah yang satu ini kaya dengan beta karoten, bermanfaat untuk menyembuhkan infeksi dan menghaluskan kulit.

Avokad
Mereka yang suka mengonsumsi avokad (alpukat), teruskanlah kebiasaan ini karena buah ini kaya dengan vitamin A,B,C, dan E. Buah ini mengandung potasium yang bermanfaat untuk menetralisasi pencernaan yang jelek. Avokad mengandung monounsaturated fat atau lemak yang secara kimiawi demikian kuat sehingga mampu menyerap hidrogen tambahan, tetapi tidak sebanyak lemak tak jenuh jamak atau polyunsaturated fat. Avokad juga memproduksi banyak kolagen karena bermanfaat untuk membuat kulit mulus dan tampak awet muda. Buah ini juga baik untuk sistem sirkulasi dan berguna untuk menambah kesuburan.

Anggur
Buah ini paling cepat diserap pencernaan selain rasanya yang manis dan lezat. Oleh karena itu, anggur adalah buah utama yang disediakan di bangsal-bangsal pasien rumah sakit di negeri Barat. Anggur bermanfaat meringankan radang sendi, rematik, dan kelelahan.

Pisang
Sumber potasium, seng, zat besi, asam folic, kalsium, vitamin B6, dan serat bermanfaat untuk melancarkan sistem pencernaan dan menstruasi. Atlet yang membutuhkan suplai potasium secara instan dianjurkan mengonsumsi pisang.

Cranberry
Buah ini kaya vitamin C, zat besi, potasium, dan beta karoten. Jumlah zat besi dalam buah ini sangat baik untuk melengkapi program diet vegetarian. Sementara itu, jusnya bermanfaat untuk membasmi bakteri dan efektif untuk mengobati infeksi saluran kencing dan cystitis (radang kandung kemih).

Kentang
Mengandung banyak serat, vitamin B, mineral, dan vitamin C. Kentang yang paling baik untuk dikonsumsi adalah yang direbus atau dipanggang. Karena kaya nutrisi — khususnya potasium dan serat — kentang baik untuk kesehatan kulit.

Brokoli
Sayur berwarna hijau gelap ini sumber beta karoten, zat besi, dan serat sehingga bermanfaat untuk menyembuhkan anemia dan mereka yang sering merasa kelelahan. Brokoli juga dikenal sebagai antikanker bila dikonsumsi bersama blumkol, lobak, kol, spring green, turnip (lobak cina), dan brusell spout.

Bawang putih
Dalam dunia masak-memasak, bawang putih selalu diikutsertakan. Boleh dikatakan, setiap hidangan lezat adalah berkat andil bumbu bawang putih.
Selain melezatkan dan mengharumkan masakan, bawang putih sejak dulu dikenal sebagai salah satu ramuan obat yang manjur dan digunakan oleh para tabib semasa kekuasaan para dinasti di Cina sampai kekaisaran di Eropa.
Bawang putih yang berbau menyengat ini bisa mencegah penyakit jantung, tekanan darah tinggi, mencegah penggumpalan darah, penyebab serangan jantung, memerangi berbagai infeksi, gangguan perut, dan pencegahan kanker. Karena kemanjurannya, bawang putih dijuluki King of Healing Plants.

Minyak zaitun
Mengandung vitamin E, monounsaturated , asam lemak yang bermanfaat untuk mencegah kolesterol, menstimulasi kinerja empedu karena membantu mencernakan lemak. Minyak zaitun yang dalam pemasaran internasional disebut olive oil ini merupakan ramuan utama dalam masakan masyarakat di negara-negara Mediterania. Oleh karena itu, tak heran bila penduduk Mediterania jarang yang berpenyakit jantung.

Bawang
Bumbu dapur sehari-hari ini melindungi dan mengatur sistem sirkulasi, antibiotik yang kuat, membantu penyembuhan gangguan di dada dan perut, infeksi saluran kencing, radang sendi, rematik, gout, dan mengikis lemak dalam darah.

Yoghurt
Cairan kental berwarna putih ini bermanfaat untuk mengobati gangguan perut, seperti sembelit dan diare. Kandungan vitamin B dan kalsiumnya cocok bagi mereka yang alergi terhadap susu.

Susu dan keju
Kaya kalsium sehingga baik untuk kesehatan, tetapi buruk bagi penderita sinusitis dan mereka yang alergi susu. Bagi penderita migrain, tidak dianjurkan mengonsumsi keju, begitu pula susu skim, dan semi-skim termasuk pada anak balita.

Pasta
Makanan — seperti pizza — yang bukan berasal dari tanah air kita ini sudah menjadi jajanan bergengsi di kota-kota besar. Nah, apakah makanan asal negeri Italia ini mengandung nutrisi? Asal tidak disertai lemak dan saus, pasta lumayan bernutrisi, mengandung serat, mineral, dan vitamin B.
Itulah sebagian dari daftar panjang makanan yang bernutrisi tinggi, pandai-pandailah memilih. (Sumber: PikiranRakyat/New Idea).***

Anting, dari Jimat hingga Aksesori

Oleh Edwin

SEKARANG hampir tidak ada wanita yang tidak mengenakan anting di telinganya sebagai ciri khas kaum hawa. Bahkan, sejak kecil pun — untuk menandai bahwa dia wanita atau lelaki — orang bisa melihat apakah dia memakai anting atau tidak .
Anting ini merupakan evolusi dari sumbat telinga yang lazim dikenakan oleh masyarakat tradisional sebagai ornamen telinga. Sumbat telinga yang pernah ditemukan pun terbuat dari berbagai bahan, misalnya di kediaman suku Ainu di Jepang bagian utara ditemukan sumbat telinga dari kain, sedangkan suku Maya di Amerika menggunakan sumbat telinga yang beragam bahannya, seperti giok, bebatuan, tulang, kerang, kayu, dan logam, dengan berbagai ukuran.
Di tanah air pun, masyarakat di Kalimantan mengenakan sumbat telinga yang berdiameter 9,5 cm, sedangkan milik suku Masai di Afrika Timur bergaris tengah 11,4 cm dan berat hingga 1,3 kg.
Namun tidak ada catatan kapan persisnya anting-anting tersebut dibuat. Baru anting yang ditemukan Ur, Mesopotamia lah yang dilabeli anting tertua. Anting dari masa 3500 SM itu berbentuk seperti cincin besar berpinggiran tipis. Diduga bentuk cincin itu merupakan bentuk asal muasal anting.
Selain di Mesir, model yang sama muncul pada masa awal berdirinya bangsa Yunani (2500-1600 SM). Malah bangsa berbudaya seni tinggi itu pula yang memperkenalkan satu bentuk anting yang serupa, yaitu Bulan Sabit. Melimpahnya persediaan emas di masa jayanya, membuat Yunani (600-4750) menghasilkan bentuk anting-anting emas yang beraneka macam, misalnya yang berbentuk perahu lengkap dengan manusia sebagai penumpangnya.
Meski anting-anting gantung dengan panjang mencapai bahu populer pada akhir masa klasik (475-330 SM), tetap saja bentuk model cincin banyak dipilih. India, misalnya, membuat model serupa namun berukuran lebih besar menjelang berakhirnya abad I SM. Tak cuma itu, sebuah lukisan Cina dari abad VII pun menggambarkan beberapa wanita mengenakan anting-anting cincin.
Namun anting sempat tenggelam dari sejarah peradaban manusia, terutama di Eropa kurang lebih abad XVII, XVIII, dan XIX. Penyebabnya, tak lain karena munculnya tren baru seperti munculnya gaya rambut, rambut palsu, dan hiasan kepala yang menutupi kepala yang menutupi telinga. Namun ketika ditemukan anting jepit, juga cara melubangi daun telinga yang tidak sakit — di abad XX — anting-anting berjaya kembali.
Sebagai aksesori, anting memang sering dipandang sebagai perhiasan ekslusif kaum wanita, seperti pada masyarakat di Asia bagian barat termasuk Israel dan Mesir kuno. Namun kenyataannya, di Yunani dan Roma kuno misalnya, pria beranting dapat segera dikenali sebagai pria dari Timur, misalnya Timur Tengah. Malah, kaum pria Eropa pada masa Renaissance (1400-1600) dan Barok (1500-1750) pernah suka mengenakan anting sebelah. Lucunya, di abad XVII dan XVII, mereka menambahnya dengan mutiara. Pemicunya konon Pangeran Inggris Charles I yang selamat dari tiang gantungan dengan mengenakan anting semacam itu.
Selain mutiara, telah sejak lama berbagai batu permata pun digunakan untuk menyemarakkan model anting-anting. Seperti kecubung, pirus, akik, dan jasper yang diikat dengan emas dan perak pada anting-anting kaum wanita Mesir. Lain lagi dengan masyarakat India yang memasukan perunggu dan emas, kemudian memadatinya dengan mutiara dan batu-batuan.
Setelah platina diperkenalkan untuk pengikat batu permata, tahun 1920-an ditemukan cara budi daya permata, terlebih saat makin berkembangnya proses produksi plastik. Hasilnya setelah PD II membanjirlah anting maupun giwang warna-warni yang tak kalah kilauannya dengan batu permata asli.
Anting-anting terus berkembang, dari fungsi sebagai jimat dan ciri khas seseorang menjadi aksesori untuk memenuhi dorongan untuk berhias yang tampaknya berlaku universal. Pemakaiannya memang didominasi kaum hawa, tetapi semakin berkembangnya mode ternyata kaum pria pun sekarang ini banyak yang memakainya walaupun hanya sekadar untuk bergaya. (Sumber: Pikiran Rakyat)***

Hubungan Kesenian dan Perilaku Anak

Oleh Adelia

ANAK memang dapat diibaratkan seperti kertas putih, masih bersih dan belum ternoda. Orangtualah yang pertama kali memberinya warna.
KALIMAT di atas sering diucapkan oleh pemuka agama pada acara syukuran atas kelahiran atau pemberian nama bayi. Ucapan tersebut sekaligus untuk mengingatkan tugas dan tanggung jawab orangtua terhadap anaknya.
Meskipun demikian, kenyataannya banyak orangtua sering bersikap apatis terhadap tugasnya dalam membangun kepribadian anak. Dalam hal ini, banyak orangtua yang berpandangan sempit tentang tugas dan tanggung jawabnya terhadap anak, yakni sebatas memberi nafkah (pangan, sandang, dan papan), sedangkan tugas mendidik sepenuhnya diserahkan kepada pihak sekolah (guru).
Kenyataan tersebut menunjukkan, anak akhirnya berkembang tanpa campur tangan orangtua. Oleh karenanya, jangan heran jika suatu saat orangtua pun terkejut ketika melihat anaknya berperilaku buruk, misalnya suka berkata jorok, bertindak kasar, dan berperilaku jahat.
Dari mana dia belajar keburukan-keburukan tersebut? Inilah pertanyaan yang sering diucapkan orangtua karena terkejut melihat anaknya bersikap dan berperilaku buruk. Pertanyaan demikian bisa jadi merupakan ungkapan penyesalan orangtua yang dapat dikatakan sudah terlambat.
Yang jelas, ungkapan anak yang berkonotasi kotor tadi bukan dari lingkungan sekolah, tetapi kebanyakan dari lingkungan pergaulannya di luar sekolah. Masalahnya, masa sekolah pun sangat terbatas.
Memanfaatkan kesenian
Jika orangtua sudah terlambat menyesali perkembangan kepribadian anaknya yang cenderung buruk, sebaiknya segera memanfaatkan seni untuk memperbaikinya. Dalam hal ini, orangtua perlu merangsang anak untuk menyukai jenis-jenis kesenian yang diminatinya.
Misalnya, jika anak berminat belajar memainkan alat musik tertentu, gitar misalnya, orangtua sebaiknya berusaha membelikannya. Atau jika anak berminat belajar melukis, orangtua pun sebaiknya segera membelikan alat-alat untuk melukis yang dibutuhkan anak.
Jika anak sudah dapat menyalurkan minatnya terhadap kesenian di rumah, dengan sendirinya akan betah berada di lingkungan rumah. Di samping itu, anak yang asyik menyukai berkesenian biasanya cenderung peka. Dalam hal ini, orangtua dapat menyusun strategi yang bijak untuk mendekatinya agar bisa membangun kepribadiannya sesuai dengan yang diharapkan.
Jika anak sudah telanjur memiliki sikap dan perilaku buruk, orangtua sebaiknya berusaha mengikisnya sedikit demi sedikit melalui kritikan. Misalnya, orangtua bisa melontarkan kritikan kepada anak yang suka berkata jorok.
Jika orangtua menyampaikan kritikan dengan lembut ketika anak sedang asyik berkesenian di rumah, tentu akan diperhatikan oleh anak sehingga anak akan menyadari keburukannya.
Anak ”jinak”
Di tengah kondisi sosial yang serba mencemaskan seperti sekarang, anak-anak tentu lebih aman menghabiskan waktunya di rumah, selain belajar di sekolah atau di tempat kursus. Untuk membuatnya betah di rumah, orangtua harus dapat membuatnya menjadi penurut. Maksud dalam hal ini, anak ”jinak” berarti anak yang mudah didekati dan diajak bersahabat oleh orangtua.
Dalam praktiknya, membuat anak ”jinak” memang bukan hal yang sulit jika suasana rumah dapat memberikan kegembiraan bagi anak. Sedangkan kegembiraan di rumah, salah satunya bisa diwujudkan dengan berkesenian.
Akan tetapi, bagaimana jika si anak tidak berminat sama sekali terhadap bidang seni? Dalam hal ini orangtua tetap bisa merangsangnya untuk berkesenian. Misalnya, orangtua membeli gitar atau piano.
Sebab, menurut beberapa hasil penelitian, adanya alat-alat musik seperti gitar atau piano di rumah, cepat atau lambat akan membuat anak tertarik untuk belajar memainkannya. Jika anak sudah bisa memainkan alat musik, biasanya akan berusaha untuk lebih mahir dengan rajin belajar secara tekun dan serius.
Maka, tidak berlebihan pernyataan Mozart bahwa seni —khususnya seni musik— bisa menjinakkan manusia di segala usia dan di sepanjang zaman. Konon, Hitler dan Nero pun yang terkenal sangat bengis itu, ternyata sejak kecil memang ”liar” karena tidak pernah dirangsang untuk menyukai kesenian oleh orangtuanya ketika di rumah. (Sumber: Pikiran Rakyat)***

Dibalik Gurihnya Minyak Goreng : Jelantah, Merangsang Kanker Kolon

Oleh Yuga Pramita

MAU laku dagang makanan? Gampang, cantumkanlah dalam labelnya bebas atau nonkolesterol. Kalau tidak percaya, tanyalah pada penjual kacang. Bebas kolesterol rupanya telah dianggap ungkapan sakti. Produk yang mencantumkan ”gelar” itu dianggap bakal laris atau paling tidak bisa menjatuhkan saingannya.
Begitu pun pada minyak goreng, tapi mungkin lantaran sudah dianggap umum dan semua orang tahu bahwa kolesterol bukan berasal dari bahan nabati, persaingan rayuan lalu meningkat, meluncurkan kata-kata manis seperti ”Penyaringan dua kali”, ”Mengandung omega-9”; ”Sejernih akal sehat”; dan sebagainya.
Meski sebetulnya kurang memiliki arti — karena sebagian besar masyarakat Indonesia menggunakannya untuk menggoreng — bagi konsumen awam, rayuan tersebut bisa membuatnya terjebak.

Sama saja
Bahan dasar minyak goreng bisa bemacam-macam: kelapa, sawit, kedelai, jagung, dan lain-lain. Meski beragam, secara kimia isi kandungannya sebetulnya tak jauh beda, yakni terdiri dari beraneka asam lemak jenuh (ALJ) dan asam lemak tidak jenuh (ALTJ). Dalam jumlah kecil kemungkinan terdapat juga lesitin, cephalin, fosfatida lain, sterol, asam lemak bebas, lilin, pigmen larut lemak, dan hidrokarbon, termasuk karbohidrat dan protein. Hal yang kemudian berbeda adalah kompisisinya. Minyak sawit mengandung sekira 45,5% ALJ yang didominasi asam lemak palmitat dan sekira 54,1% ALTJ yang didominasi asam lemak oleat —sering juga disebut omega-9. Minyak kelapa mengandung 80% ALJ dan 20% ALTJ, sementara minyak zaitun dan minyak biji bunga matahari hampir 9% komposisinya adalah ALTJ.
Oleh pemrosesan, tampilan minyak goreng bisa berbeda juga, ada yang jernih dan ada yang keruh. Supaya tidak mudah teroksidasi, beberapa produsen kerap menambahkan antioksidan ke dalam produknya.
Perbedaan tersebut bisa berpengaruh terhadap kesehatan pengkonsumsinya. Dicontohkan Prof.Dr. Ali Khomsan —Dosen Pascasarjana Jurusan Gizi Masyarakat dan Sumber Daya Keluarga, Fakultas Pertanian Bogor— berdasar hasil penelitian mahasiswanya pada kelinci percobaan, kelinci yang diberi makanan mengandung minyak sawit menunjukkan penurunan kolesterol yang tajam dibandingkan dengan kelinci yang diberi makanan mengandung minyak kelapa (”Republika”, 15/2). Dengan kata lain, kalau anda ingin buru-buru menurunkan kolesterol maka pilihlah minyak goreng yang mengandung ALTJ tinggi.
Akan tetapi, ceritanya jadi lain manakala minyak tersebut dimanfaatkan sebagai media penggorengan —bukan minyak makan seperti bumbu salad atau bahan dasar may onaise. Prof. Dr. Tien Muchtadi, pengajar teknologi pangan dan gizi, Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor mengatakan ketika dipakai menggoreng, semua minyak sama sehatnya untuk orang yang tidak sensitif terhadap asam lemak darah. Alasannya, pada suhu penggorengan (200 derajat Celcius), rantai kimia minyak akan terurai. Dengan demikian, penggunaan minyak nabati yang diklaim tinggi asam lemak tak jenuhnya seperti minyak jagung, minyak bunga matahari, dan minyak kedelai sebenarnya tidak memberikan banyak manfaat (”Kompas”, 23/7). Demikian juga dengan minyak yang disaring dua kali yang tampilannya jernih atau yang telah ditambahkan antioksidan.
Jadi, jika anda ingin merasakan manfaat maksimal bagi kesehatan dari perbedaan minyak goreng, minyak tersebut sebaiknya diminum langsung atau tidak digunakan sebagai media penggorengan.

Efek negatif
Penggunaan minyak sebagai media penggorengan bisa menjadi makanan gurih dan renyah, namun pada bahan makanan tertentu perlakuan tersebut justru dapat merugikan. Beberapa zat gizi yang dikandungnya bisa rusak karena tidak tahan terhadap panasnya. Bahan makanan kaya omega-3 —yang diketahui dapat menurunkan kadar kolesterol darah— akan tidak berkhasiat bila digoreng sebab komposisi ikatan rangkapnya rusak.
Di sisi lain, rupanya tidak setiap orang bisa menikmati kegurihan dan kerenyahan itu dalam jangka panjang. Periset Australia menemukan, makanan dengan margarin dan minyak nabati tinggi ternyata bisa melipatduakan kemungkinan anak-anak untuk menderita asma. Kesimpulan diperoleh berdasar penelitian pada orang tua dari 1.000 anak usia 3-5 tahun.
Menurut Dr. Michele Haby, peneliti Royal Children’s Hospital Melbourne dan pimpinan penelitian, seperlima anak-anak itu mengalami asma dan risiko untuk mendapat asma menjadi dua kali lipat jika orangnya juga mengidapnya (koran ”Tempo”, 20/7/2001).
Bagi mereka yang sudah menderita gangguan hiperlipidemia, dianjurkan Walujo Soerjodibroto —Dosen bagian Gizi FKUI dan dokter ahli Gizi Rumah Sakit Tebet Jakarta— untuk menjauhi semua jenis minyak goreng karena akan memancing terjadinya pembentukan kolesterol yang berlebihan pada tubuh. (”Kompas”, 8/1/1995).

Minyak rusak
Terutama oleh pedagang goreng-gorengan pinggir jalan, minyak goreng sering dipakai berulang-kali tak peduli apakah warnanya sudah ubah —menjadi coklat tua sampai hitam— atau belum. Alasan yang diketemukan simpel saja, demi mengirit biaya produksi. Minyak yang telah dipakai menggoreng biasa disebut minyak jelantah. Kebanyakan minyak jelantah sebenarnya merupakan minyak yang telah rusak.
Minyak yang tinggi kandungan LTJ-nya memiliki nilai tambah hanya pada gorengan pertama saja, sementara yang tinggi ALJ-nya bisa lebih lama lagi, meski pada akhirnya akan rusak juga. Oleh proses penggorengan sebagian ikatan rangkap akan menjadi jenuh. Penggunaan yang lama dan berkali-kali dapat menyebabkan ikatan rangkap teroksidasi, membentuk gugus peroksida dan monomer siklik. Penelitian pada binatang menunjukkan gugus peroksida dalam dosis yang besar dapat merangsang terjadinya kanker kolon,
tapi kerusakan tidak hanya terjadi karena dipakai menggoreng. Penyimpanan yang salah dalam jangka waktu tertentu dapat menyebabkannya pula karena pecahnya ikatan trigliserida menjadi gliserol dan asam lemak bebas (free fatty acid/ FFA). Selain menyebabkan tengik, FFA juga bisa menaikkan kolesterol darah.
Kerusakan minyak tidak bisa dicegah, namun dapat diperlambat dengan memperhatikan beberapa faktor yang mempengaruhinya. Pertama, oksigen. Semakin banyak oksigen semakin cepat teroksidasi; Kedua, ikatan rangkap. Semakin banyak ALTJ-nya semakin mudah teroksidasi; Ketiga, suhu. Suhu penggorengan dan penyimpanan yang tinggi akan mempercepat reaksi; Keempat, cahaya serta ion logam tembaga (Cu++) dan besi (Fe++) yang merupakan faktor katalis proses oksidasi; dan Kelima, antioksidan. Semakin tinggi antioksidan ditambahkan semakin tahan terhadap oksidasi.
Meski demikian bukan berarti minyak rusak tidak dapat membuat makanan lezat. Faridatus Saa’adah dkk. dari SMU BPTT Lamongan —juara III LKIR tingkat nasional beberapa waktu lalu— telah membuktikan, pengolahan kembali dengan mencampurkan perasan buah mengkudu dapat meningkatkan mutu minyak rusak (”Republika”, 12/4).
Caranya: Buah mengkudu masak —satu mengkudu untuk seperempat liter minyak— ditumbuk dan diperas untuk diambil sarinya. Sari ini lalu dicampur minyak goreng yang telah berulangkali dipakai. Setelah tercampur dibiarkan selama kurang 5 sampai 10 menit, selanjutnya diendapkan, dipanaskan pada suhu 50 derajat Celcius, dan terakhir disaring.
Bahan lain yang juga mampu berbuat hal serupa adalah arang tempurung dan lidah buaya. Subetty, siswa SMU Stela Duce 1 Yogyakarta —pemenang I bidang teknologi LKIR-LIPI tahun 2001— berdasar penelitiannya menyimpulkan, perendaman arang tempurung dan lidah buaya dalam minyak jelantah sisa penggorengan selama 24 jam, terbukti memperbaiki kualitas khemis maupun fisik minyak. Bahan yang terbukti lebih baik dalam meningkatkan kualitas minyak adalah lidah buaya (”Republika”, 25/2). Perlakuan itu dapat menurunkan dampak negatif terhadap kesehatan meliputi penurunan FFA sebanyak 58,3% dan penurunan angka peroksida sebesar 75%.(Sumber: Pikiran Rakyat)***