Halaman

Puasa pada Anak-anak, Ibu Hamil/ Menyusui, atau Lansia

Oleh dr. Budi R.S.T.

BERPUASA berarti tidak makan dan minum serta tidak melakukan aktivitas seksual sekira lima belas jam sehari. Permasalahannya, apakah puasa memengaruhi kesehatan seseorang? Beberapa penelitian menunjukkan bahwa puasa mengakibatkan perubahan-perubahan parameter darah dan zat lainnya dalam tubuh seperti kenaikan kadar lemak, kolesterol, dan asam urat di dalam plasma darah, meski memang perubahan tersebut tidak sampai membahayakan kesehatan.
Menurut pakar kesehatan, selama puasa terlihat penurunan frekuensi dan peningkatan intake kalori. Kadar lipit darah meningkat sebagai akibat meningkatnya pengaliran asam lemak bebas. Ini terjadi bila seseorang makan sekaligus dalam jumlah besar satu kali sehari. Oleh sebab itu, disarankan saat berbuka puasa, pertama kali minumlah air sedikit dan makan makanan kecil dulu. Baru kemudian, makan dalam porsi biasa.
Dengan melihat terjadinya beberapa perubahan dalam mekanisme tubuh selama bulan puasa, tanpa mengesampingkan segi positifnya, bagaimana pula puasa pada anak-anak, ibu hamil atau menyusui, dan lansia? Akankah memengaruhi kesehatannya?

Pengosongan makanan pada lambung anak lebih cepat
Ajaran Islam menyebutkan, puasa diwajibkan bagi mereka yang sudah mencapai usia akil balig. Pada anak perempuan usia ini ditandai dengan datangnya haid pertama, sekira 10-16 tahun. Usia akil balig pada anak lelaki sekira 11-14,5 tahun ditandai dengan keluarnya sperma pertama kali. Jadi, anak di bawah usia akil balig tidak diwajibkan puasa. Hal ini erat kaitannya dengan proses tumbuh kembangnya.
Penyebabnya adalah pengosongan makanan di lambung anak lebih cepat tiga sampai empat jam dibandingkan orang dewasa. Dengan demikian, wajar bila anak mudah lapar. Di samping itu, pada usia balita atau saat anak menempuh pendidikan SD, waktunya banyak tersita oleh kegiatan fisik yang luar biasa, misalnya bermain atau olah raga. Terkadang di kalangan tak mampu, anak-anak harus membantu orang tuanya bekerja. Aktivitas tinggi ini membutuhkan energi cukup yang hanya bisa dipenuhi dengan makanan bergizi dan adekuat.

Ibu hamil asal janinnya sehat
Hamil muda atau hamil tua, boleh saja puasa, dengan catatan, tidak sedang mengidap penyakit atau gangguan yang membahayakan keselamatan ibu dan janin. Asal ibu dan janin sehat, ibu bebas melakukan puasa.
Janin akan bertindak seperti parasit. Kalau ia kekurangan makan, bila ibu sehat, janin akan menggunakan cadangan makanan dalam tubuh ibu. Mudahnya, janin tidak akan kekurangan zat makanan yang dibutuhkan bagi pertumbuhan dan perkembangannya selama cadangan makanan tersebut cukup. Toh, bila ibu hamil tidak makan siang hari, cadangan makanan dalam tubuh tidak akan habis dan malamnya sudah dipenuhi lagi.
Jadi, yang perlu bagi ibu hamil yang puasa harus menjaga agar tubuh tidak kekurangan makan, terutama yang bernilai gizi tinggi. Porsi makannya per hari juga perlu ditingkatkan. Umumnya wanita hamil memerlukan kalori 1/6 dan protein 1/5 lebih banyak dibandingkan ketika tidak sedang hamil.
Memang ada pengecualian tertentu karena pertimbangan medis, ibu hamil disarankan absen puasa. Misalnya, penderita diabetes dibebaskan puasa bergantung pada kadar gula darah (umumnya kadar gula darah tinggi), berat ringannya penyakit, dan kesehatan umum. Pertimbangan lain, bila ibu hamil mengidap intra uterin growth reterdation, pertumbuhan janin terhambat karena fungsi ari-ari terganggu. Sementara itu, ari-ari berperan penting menjembatani antara ibu dan janin, yaitu mengatur segala sesuatu yang diperlukan janin dari ibunya. Entah itu berupa makanan atau zat-zat penting lainnya.

Ibu menyusui butuh energi lebih banyak
Kebutuhan nutrisi selama masa laktasi sedikit lebih banyak dibandingkan ibu yang tidak menyusui karena nutrisi pada ibu menyusui selain digunakan untuk dirinya sendiri, juga sangat dibutuhkan bayi dalam bentuk air susu ibu (ASI). Bayi akan merasa terpuaskan —juga sehat— bila sejak lahir hingga minimal empat bulan mendapatkan ASI dengan kualitas dan kuantitas cukup baik. Untuk mendapatkan ASI yang demikian, si ibu harus mendapatkan nutrisi yang cukup dan bergizi.
Boleh tidaknya ibu menyusui melakukan puasa bergantung pada kemauan si ibu itu sendiri. Bila ibu ingin menyusui bayinya secara benar dengan memberikan penuh ASI selama empat bulan, tentunya kebutuhan gizi harus terpenuhi secara baik pula. Bila ibu menyusui melakukan puasa, rasanya sulit untuk memenuhi keseimbangan gizi dan kebutuhan energi yang memang lebih banyak, meski telah makan sebanyak mungkin ketika sahur ataupun saat berbuka puasa.
Besarnya kebutuhan energi bagi ibu menyusui erat kaitannya dengan frekuensi ibu memberikan ASI pada bayinya. Semakin sering ASI diberikan, semakin besar pula energi yang dikeluarkan. Akibatnya, ibu cepat lapar.

Porsi cukup bagi lansia, tetapi bergizi baik
Kriteria lansia yaitu bila usia seseorang lebih dari 60 tahun. Sejalan dengan perkembangan usianya, lansia akan mengalami kemunduran fungsi organ-organ tubuh yang menyebabkan terjadinya beberapa perubahan. Misalnya, menurunnya nafsu kebutuhan kalori dan nafsu makan, mudahnya terjadi gangguan pencernaan dan sirkulasi pada ginjal.
Pada lansia, sekira 20 persen sel-sel pada ginjalnya sudah tidak berfungsi lagi. Akibatnya, tak jarang dijumpai gangguan pengeluaran urine. Itulah sebabnya lansia dianjurkan agar minum air lebih banyak. Tujuannya menghindari terjadi sakit pinggang yang sering dijumpai pada lansia yang minum terlalu sedikit.
Meski lansia mengalami kemunduran fungsi organ-organ tubuhnya, bukan alasan untuk meninggalkan ibadah puasa. Boleh saja puasa, asal kondisinya sehat. Artinya, tidak sedang ataupun memunyai riwayat penyakit yang akan kambuh atau bertambah parah kalau ia puasa.
Hanya, jika lansia tetap ingin puasa, meski organ tubuhnya tidak berjalan maksimal, pengaturan gizi harus dilakukan lebih hati-hati. Setiap makanan yang dikonsumsi sewaktu berbuka ataupun sahur harus mengandung karbohidrat, vitamin, lemak, mineral, dan protein. Jumlah protein usahakan mencapai 15 persen dari jumlah kalori yang dibutuhkan. Bisa juga vitamin dan mineral diperbesar jumlahnya dengan cara minum tablet.
Karena keterbatasan sistem pencernaan pada lansia, pada saat berbuka puasa mulailah mengonsumsi makanan ringan dulu, terutama makanan yang mengandung karbohidrat. Sekira 5-10 menit kemudian, saat pencernaan mulai menyesuaikan dan menyiapkan pengeluaran enzim pencerna dan siap menerima makanan utama barulah lansia boleh mengonsumsi makanan besar.
Demikian pula ketika sahur, jangan makan sekenyang-kenyangnya. Hal yang penting makan secukupnya, tetapi bergizi baik. (Sumber: Pikiran Rakyat).***

Berbahayakah Telur bagi Jantung?

Oleh Syae

BAGI semua orang, telur bukan makanan yang aneh. Sebagai sumber protein hewani, bahan pangan yang bentuknya lonjong dengan berat kurang lebih 60 gram ini oleh orang Amerika disebut sebagai wonderful food dan ada juga yang mengatakan ”kapsul gizi”.
Walaupun mengandung sumber gizi yang lengkap, tetapi masih ada yang beranggapan bahwa telur dapat menyebabkan penyakit jantung karena mengandung kolesterol. Sehingga, ada juga yang mengatakan bahwa memakan telur dua butir per hari kurang aman untuk kesehatan jantung.

Mengandung mineral lengkap
Telur mengandung gizi yang cukup lengkap. Di dalam sebuah telur terkandung sejumlah vitamin, protein, mineral, dan sejumlah asam lemak tidak jenuh. Kandungan lemak yang ada dalam telur berupa trigliserida (lemak netral), phospolipida (umumnya lecithin) yang berfungsi untuk menyediakan energi yang diperlukan untuk kegiatan sehari-hari, serta kolesterol yang digunakan untuk membentuk garam-garam empedu yang berguna untuk pencernaan lemak dan pangan.
Hampir semua jenis vitamin terdapat dalam telur kecuali vitamin C. Selain itu, telur juga mengandung mineral lengkap —kalsium, besi, phospor, natrium, kalium dan zinc— yang tidak dapat disamai oleh bahan pangan tunggal lainnya kecuali susu.
Sementara masih ada anggapan bahwa makan telur bisa menyebabkan sakit jantung karena telur banyak mengandung kolesterol. Anggapan ini tidak benar karena pada penderita jantung koroner didapati kadar kolesterol darah yang meningkat. Sedangkan dalam pembuluh darah jantung terdapat endapan kolesterol dan lemak lain pada dinding pembuluh darah yang menyebabkan pembuluh darah menyempit. Akan tetapi, sebenarnya keadaan ini hanya dijumpai pada:

1. Orang yang mempunyai penyakit keturunan (hyperlipedemia primer) karena kadar kolesterol dan lemak darah lainnya tinggi sehubungan adanya gangguan proses metabolisme lemak dalam tubuhnya.

2. Orang-orang yang mengonsumsi lemak dalam kedua hal di atas, tidak perlu khawatir karena kolesterol memang dibutuhkan oleh tubuh dalam jumlah yang cukup besar antara 1.000-1.500 mg. Apalagi seorang yang mengonsumsi dua butir telur per hari, sebenarnya ia baru memperoleh sekira 400 mg kolesterol.

Penderita jantung sendiri masih diperbolehkan mengonsumsi kolesterol sebanyak 200-300 mg atau sama dengan satu butir telur sehari. Dari hasil penelitian, memang ditemukan pada sebagian orang, telur memengaruhi kesehatan jantung. Bahkan, ada peneltian yang menunjukkan bahwa makan telur menurunkan kadar kolesterol. Mengapa?
Banyak variasi terhadap respons kolesterol telur belum dapat dijelaskan. Yang pasti, respons tersebut masih bersifat individual. Bagi orang normal yang tak sensitif terhadap kolesterol dan lemak jenuh, kandungan lemak jenuh telah memberikan nilai aman karena telur mengandung antara lain 4 gr lemak tidak jenuh dan lemak jenuh yang terdapat dalam kuning telur.

Telur mentah atau matang
Memakan telur sebaiknya dalam keadaan matang karena telur mentah tidak baik untuk kesehatan. Putih telur yang mentah mengandung senyawa avidin, suatu senyawa yang dihasilkan oleh selaput lendir saluran telur ayam ke dalam putih telur.
Avadin ini menghalangi penyerapan biotin —koensim yang mengakalisis karbon dioksida dan karboksilasi— dalam karboksilasi yang mengakalisasi fiksasi karbon dioksida. Sehingga bila seseorang memakan putih telur mentah, ia akan mengalami defisiensi biotin pada tubuhnya dan bila tubuh terus-menerus kekurangan biotin akan menyebabkan serangan dematitis pada sekeliling mata. Untuk menghindari hal ini, sebaiknya kita memakan telur matang atau dipanaskan terlebih dahulu. Dengan pemanasan avidin akan rusak dan penyerangan biotin tidak dihalangi.

Ibu hamil membutuhkan telur
Karena kandungan gizi yang cukup lengkap, telur berguna untuk ibu hamil, ibu menyusui, anak balita, dan anak remaja. Ibu hamil membutuhkan sejumlah tambahan vitamin dan mineral untuk pertumbuhan organ bayinya dan produksi ASI-nya.
Sedangkan anak balita terutama pada saat berusia 6 bulan, memerlukan gizi berkualitas baik yang digunakan untuk pertumbuhan otaknya. Karena pada umur tersebut, pertumbuhan otak sedang berkembang pesat. Kebutuhan gizi yang berkualitas baik ini terutama berupa protein dapat diperoleh dari telur.(Sumber: Pikiran Rakyat)***

Memperlambat Munculnya Uban

Oleh Syae

UBAN kerap diidentikkan dengan ketuaan karena hampir tak ada orang yang mengharapkan kehadirannya. Bila memungkinkan, rambut ingin tetap hitam sampai tua. Namun, apa boleh buat toh ada sebagian dari kita yang harus ”menderita” ubanan, bahkan pada usia yang dini (muda).
Penyebab uban sampai saat ini masih teka-teki. Oleh karena itu, sampai saat ini pun belum ditemukan cara yang jitu untuk mengatasinya selain hanya dengan cara menyemir rambut yang putih itu. Untuk memahami hal itu, agaknya yang terbaik yang bisa kita lakukan adalah tindakan pencegahan, di antaranya dengan pendekatan gizi.

Ketidakcukupan elemen Cu
Karena proses ubanan erat kaitannya dengan degradasi melanosit, timbul logika bahwa dengan menjaga secara tetap fungsi sel itu secara baik, proses ubanan bisa dicegah atau setidaknya diperlambat. Bagaimana caranya?
Peneliti Denks dan Stevens menyebutkan, demi terjadinya aktivitas tyrosin, tubuh membutuhkan masukan mineral tembaga (Cu) yang cukup. Tyrosin berperanan besar dalam mendukung kerja sel melanosit. Aktivitas tyrosin yang menurun mengakibatkan menurun pula aktivitas melanosit.
Kedua peneliti tersebut mendapati bahwa ketidakcukupan elemen Cu dapat berakibat terjadinya depigmentasi rambut yang salah satu tandanya adalah munculnya uban.
Makanan yang kaya Cu antara lain hati, ginjal, tiram, kerang, kacang-kacangan, dan polong-polongan kering. Disebut kaya karena mengandung Cu lebih dari 100 ug Cu per 100 kcal.
Kebutuhan normal Cu bergantung pada usia seseorang. Bayi kecil lebih besar memerlukan Cu yaitu 50 ug/kg/BB/hari. Sementara itu, anak besar (umur 5-15 tahun) membutuhkan 40 ug/kg/BB/hari dan 30 ug/kg/BB/hari untuk orang dewasa. Oleh karena itu, untuk mencegah ubanan, Anda dianjurkan untuk tidak berlebihan mengonsumsi Cu, tetapi cukup dengan kebutuhan-kebutuhan normal saja.
Akan tetapi, dalam mengonsumsi Cu ini, kita perlu memperhatikan agar pada saat yang bersamaan menghindari makan yang mengandung seng (Zn) terlalu tinggi karena mineral terakhir ini bisa berfungsi antagonis yaitu bisa meningkatkan pengeluaran Cu lewat feses.
Beberapa cara untuk menekan berlebihnya asupan seng ini yaitu dengan berolah raga, mengonsumsi makanan kaya vitamin, serta karbohidrat kasar karena semua ini mampu menghambat absorpsi seng oleh tubuh.
Kecuali kekurangan Cu, kenyataan lain menunjukkan bahwa penyakit anemia pernisiosa (salah satu penyakit kurang darah) juga dapat mempercepat lahirnya uban.
Penyakit tersebut tidak lain disebabkan tubuh kekurangan masukan vitamin B-12 yang kronis. Penyakit ini sebenarnya mudah diatasi sebagaimana disarankan oleh Minot dan Murphy (pemenang hadiah Nobel) dengan memakan hati dalam jumlah banyak. Selain hati, makanan sumber vitamin B-12 adalah daging dan produknya serta dalam jumlah sedikit pada susu dan produknya.
Perlu diketahui, vitamin B-12 tidak pernah didapati pada tanaman, kecuali jika ada kontaminasi dengan mikroba (misalnya nodula yang terdapat pada jenis kacang-kacangan tertentu yang mengandung sedikit vitamin B-12).
Untuk mendapatkan manfaat optimal vitamin B-12 ini, sebaiknya dihindari mengonsumsi vitamin C dosis tinggi yang menurut penelitian bisa memberi pengaruh berlawanan pada pemanfaatan vitamin B-12. Bahkan, pasien yang diberikan dosis lebih tinggi (1 gram setiap hari) akan menderita defisiensi vitamin itu.
Zat gizi lain yang disarankan untuk mencegah kehadiran uban adalah protein. Sebaiknya, jangan mengonsumsi protein kurang dari 1-1,5 gram kg/BB/hari. Selain itu, disarankan mengonsumsi vitamin B-2, seperti yodium dan minyak ikan karena membantu memelihara kesehatan rambut.
Vitamin B-2 banyak ditemukan pada yoghurt, produk hewani, dan sayur-mayur berdaun hijau. Selain itu, yodium terdapat pada udang dan hasil laut lainnya, bawang bombay, dan sayuran yang ditanam di tanah beryodium. Akan halnya minyak ikan atau minyak tumbuhan, vitamin ini berfungsi baik dalam membuat rambut berkilau dan lembut. (Sumber: Pikiran Rakyat)***

Membuat Gula dari Singkong

Oleh Handri
(mahasiswa Program Studi Teknologi Pangan Universitas Padjadjaran)

KRISIS ekonomi di negara kita sampai saat ini masih terus berlanjut. Dampak negatif yang paling dapat dirasakan oleh masyarakat dari keadaan ini adalah terus menanjaknya harga-harga terutama bahan bakar minyak dan sembilan bahan pokok.
Gula pasir sebagai salah satu komoditas sembilan bahan pokok juga tak luput mengalami kenaikan harga. Sejak dulu, sebenarnya negara kita memang sudah mengalami kekurangan suplai gula pasir karena tingkat produksi dalam negeri masih sangat rendah. Hal ini disebabkan oleh terbatasnya areal tanah yang sesuai untuk tanaman tebu ditambah dengan besarnya modal yang diperlukan untuk mendirikan atau merehabilitasi pabrik-pabrik gula.
Dalam keadaan seperti itu, diperkirakan Indonesia tetap akan menghadapi masalah kekurangan gula sampai beberapa dasawarsa mendatang. Salah satu solusi yang mungkin dapat ditawarkan adalah mencari alternatif lain bahan pembuat gula selain tebu, seperti nira sadapan pohon lontar atau bahan pati. Bahan baku pati bisa diperoleh dari beberapa jenis tanaman pangan dan salah satunya adalah ubi kayu atau singkong.
Sebagaimana kita ketahui, singkong mudah ditanam dan budidayanya tidak terlalu sulit serta jarang terserang hama penyakit. Singkong sudah sangat memasyarakat di seluruh tanah air, harganya relatif murah, dan telah banyak dijadikan makanan olahan tradisional.
Singkong merupakan komoditas pertanian yang memiliki prospek cukup baik. Tahun 1982 sampai 1987, Indonesia mendapat kuasa ekspor gaplek ke negara-negara MEE dalam jumlah mencapai 825.000 ton. Penduduk Indonesia sendiri masih mengonsumsi singkong sebagai komoditas pangan sebesar 8,25 juta ton atau sekira 51% dari kebutuhan nasional sebanyak l5,06 juta ton pada tahun l988. Singkong digunakan untuk pakan ternak sebesar 272.000 ton, industri nonpakan 1,13 juta ton, dan industri tapioka 3 juta ton (1989).
Dari segi kandungan kimia dan gizi, singkong kaya akan karbohidrat dan vitamin C serta rendah lemak. Berdasarkan FAO Food Balance Sheet 1964-1968, singkong dapat mencukupi 50% kebutuhan kalori total atau 90% kebutuhan kalori berupa karbohidrat bagi penduduk Afrika Tengah. Di Indonesia, singkong memenuhi 15% kebutuhan kalori total atau 31% kebutuhan kalori berupa karbohidrat.
Berikut kandungan nilai gizi tanaman singkong:
Zat Makanan Jumlah
Kalori (joule) 567,0Air (g) 65,5Protein (g) 1,0Karbohidrat (g) 32,4Lemak (g) 0,2Serat (g) 1,0Abu (g) 0,9Kalsium (mg) 26,0Fosfor (mg) 32,0Besi (mg) 0,9Thiamin (mg) 0,05Riboflavin (mg) 0,04Niacin (mg) 0,6 Asam Askorbat (mg) 34,0
DARI data-data di atas, sangat jelas bahwa pemanfaatan singkong sebagai salah satu komoditas pertanian yang melimpah masih sangat kurang. Untuk itu, pembuatan gula dari singkong menjadi salah satu usaha dalam peningkatan nilai tambah singkong agar lebih dimanfaatkan, selain dari tujuan utama untuk mencari alternatif bahan pembuat gula nontebu.
Pembuatan gula dari singkong pada dasarnya sama seperti pembuatan sirup glukosa dan maltosa dalam sebuah industri. Prinsipnya adalah menghidraulis pati dari singkong menjadi glukosa melalui proses pengolahan tertentu. Dalam hal ini, untuk skala rumah tangga, prosesnya dapat kita sederhanakan dengan memasak susu pati dari singkong sehingga didapat cairan glukosa yang rasanya manis. Bahan yang diperlukan hanya singkong, air, dan sedikit HCl (asam klorida). Adapun alat yang digunakan antara lain pisau, panci, parutan, kain penyaring, dan kompor.
Langkah pembuatannya sebagai berikut:
1. Singkong dipotong dari batangnya.
2. Dikupas kulitnya dan dicuci.
3. Singkong dihancurkan dengan parutan. Penghancuran ini bertujuan mendapatkan sari pati dari singkong.
4. Hasil parutan dicampur dengan air kemudian disaring menggunakan kain penyaring sehingga air yang bercampur pati akan lolos.
5. Air perasan yang diperoleh tersebut lalu disaring kembali agar benar-benar bersih. Hasil peyaringan kedua ini adalah susu pati.
6. Susu pati yang didapat kemudian dimasak selama beberapa jam setelah itu tambahkan sedikit HCl.
7. Hasil pemasakan susu pati merupakan cairan dengan rasa sangat manis yang terjadi akibat perubahan sebagian besar pati menjadi gula (glukosa).
Catatan: Saat pemasakan, dijaga agar kandungan air dalam susu pati tidak terlalu banyak yang hilang (menguap). (Sumber: Pikiran Rakyat)***

Ekstrak Serai, Pengusir Nyamuk Alamiah

Oleh Budi Imansyah
(sanitarian dan dosen pembimbing pada AKL Kutamaya, Bandung)

SERAI merupakan tumbuhan herba menahun dan merupakan jenis rumput-rumputan dengan tinggi antara 50-100 cm. Daun tunggal berjumbai, panjang sekira 1 m, lebar 1,5 cm, tetapi kasar dan tajam, tulang daun sejajar, permukaan atas dan bawah berambut, serta berwarna hijau. Batang tidak berkayu, berusuk-usuk pendek, dan berwarna putih. Akar serabut, perbanyakan dengan pemisahan tunas atau anakan.
Manfaat serai terutama pada batang dan daun yang kering digunakan untuk bumbu masak, minyak wangi, bahan pencampur pada jamu, juga dapat dibuat minyak asiri. Selain itu, ramuan serai dapat dimanfaatkan sebagai pengusir (mengendalikan) serangga, contohnya nyamuk sebagai vektor (pembawa) penyakit.
Pembangunan kesehatan adalah bagian integral dari pembangunan nasional. Tujuan pembangunan kesehatan pada intinya adalah mencapai kemampuan hidup sehat bagi setiap penduduk Indonesia. Salah satunya adalah dalam pengendalian vektor penyakit. Hal ini sesuai dengan UU RI No. 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan, pasal 22 ayat 2 yang berbunyi, ”Pengendalian vektor penyakit merupakan tindakan pengendalian untuk mengurangi atau melenyapkan gangguan yang ditimbulkan oleh binatang pembawa penyakit, seperti serangga (nyamuk malaria dan nyamuk demam berdarah), binatang pengerat.
Demam Berdarah Dengue (DBD), misalnya adalah penyakit infeksi akut yang disebabkan oleh virus dengue dan terutama menyerang anak-anak dengan tanda-tanda demam tinggi mendadak dan manifestasi pendarahan dan bertendensi menimbulkan renjatan (shock) dan kematian. Penyakit ini ditularkan melalui gigitan nyamuk aedes aegypty.
Pemberantasan vektor ini adalah dengan memutuskan rantai penularannya, yaitu melalui pemberantasan vektor dengan bahan kimia, masyarakat secara aktif berperan berusaha menghindari gigitan nyamuk penular dengan menggunakan kelambu waktu tidur, mengoles kulit dengan obat antinyamuk, menghilangkan tempat perindukan, dan peristirahatan nyamuk penular.
Untuk menghindari vektor penyakit (nyamuk) tentu dengan menggunakan bahan kimia dan ekstrak serai (andropogen nardus)merupakan senyawa kimia alamiah yang dapat digunakan dalam upaya pengendalian dan pemberantasan vektor penyakit tersebut.
**
NYAMUK yang berperan sebagai vektor penyakit biasanya kita berantas dengan cara penyemprotan dengan menggunakan insektisida sintesis sebagai racun serangga. Obat nyamuk semprot, obat nyamuk bakar ataupun obat antinyamuk yang dioleskan tentunya mengandung insektisida beberapa senyawa kimia. Namun, bagi mereka yang tidak tahan, insektisida ini menimbulkan bau yang menyengat dan bisa menimbukan sesak napas atau alergi pada kulit sehingga akan berpengaruh terhadap kesehatan.
Nyamuk jenis culex sp, aedes aegypty, biasanya diberantas dengan penyemprotan racun serangga. Namun, di samping adanya dampak positif —seperti dapat membunuh nyamuk penular— juga mempunyai khasiat tergantung macam, bentuk, dan konsentrasi insektisida serta masuknya ke tubuh.
Ada pula dampak negatifnya, di antaranya keracunan pada manusia, hewan ternak, polusi lingkungan, dan hama menjadi resisten (tahan). Di samping itu, penyemprotan dengan insektisida sintesis juga membutuhkan biaya yang cukup besar.
Berbeda dengan serai yang mengandung senyawa kimia yang alamiah. Kandungan kimia tanaman serai lebih banyak dilakukan pada batang dan daun. Caranya, batang dan daun dihaluskan, kemudian dicampur dengan pelarut dan menghasilkan minyak asiri yang mengandung senyawa sitral, sitronela, geraniol, mirsena, nerol, farsenol methil heptenon, dan dipentena.
**
SERAI mengandung senyawa berbentuk padat yang mempunyai bau yang khas, minyak asiri yang merupakan produksi serai terdiri dari berbagai senyawa —salah satu senyawa yang dapat membunuh nyamuk adalah sitronela. Sitronela mempunyai sifat racun (desiscant). Menurut cara kerjanya, racun ini seperti racun kontak yang dapat memberikan kematian karena kehilangan cairan secara terus-menerus sehingga tubuh nyamuk kekurangan cairan.
Dalam pembuatannya, serai ini dibuat dalam bentuk ekstrak. Ekstrak adalah sediaan kering, kental atau cair dibuat dengan menyari simplisia nabati atau hewani menurut cara yang cocok, di luar pengaruh cahaya matahari.
Ekstrak kering harus mudah digerus atau campuran etanol dari air. Yang paling mudah adalah dengan menghaluskan bahan ekstrak (diblender), kemudian dicampur dengan air sebagai pelarut.
Pengadaan ekstrak serai dilakukan dengan cara:
(1) Daun dan batang serai sebanyak 1 kg, dicuci kemudian ditiriskan sampai kering dan dihaluskan dengan menggunakan blender;
(2) Hasil blenderan kemudian dilarutkan ke dalam air sebanyak 250 ml dan direndam selama satu malam;
(3) Rendaman tersebut kemudian disaring, hasil saringan kemudian disimpan dalam botol dan diencerkan dengan aquadest.
Bahan inilah yang nanti digunakan dalam penyemprotan nyamuk dengan konsentrasi senyawa kimia yang cukup rendah dan alamiah. Di samping tidak mengeluarkan biaya yang cukup besar, bahan ini bisa dibuat dengan cara yang sederhana dan banyaknya cairan ini disesuaikan dengan kebutuhan yang kita inginkan. ()***

Kapan Gigi Susu Mesti Dicabut?

Oleh drg. Gandung Perkasa A.

GIGI susu atau gigi sulung, yang oleh awam lebih dikenal sebagai gigi anak-anak, keberadaannya sering dianggap sepele dengan asumsi kalau ada apa-apa toh masih ada pengantinya. Bahkan, orang tua sering mempunyai persepsi yang keliru, datang ke dokter gigi meminta gigi anaknya untuk segera dicabut karena kondisinya yang berantakan atau karies di banyak permukaan gigi.
Memang, gigi susu kelak pada saatnya akan diganti dengan gigi tetap. Namun, ini bukan berarti begitu ada kerusakan lalu satu-satunya alternatif harus dicabut. Gigi susu mempunyai ”jatah waktu” tertentu untuk tanggal sehingga keberadaannya harus dipertahankan sampai tiba saatnya untuk tanggal. Meskipun kerusakannya sudah parah, dokter gigi masih akan berusaha mempertahankan. Bahkan, bila memungkinkan, akan dilakukan perawatan seperti aplikasi fluor ataupun penambalan. Bila dokter gigi tidak mengabulkan permintaan orang tua untuk mencabut gigi anaknya meskipun kondisinya dianggap sudah sedemikian parah, itu karena memang ada pertimbangan tertentu sehingga belum diindikasikan untuk dicabut.

Fungsi istimewa
Gigi susu mempunyai fungsi istimewa yang tidak dimiliki gigi tetap. Sama halnya dengan gigi tetap, gigi susu secara umum berfungsi membantu proses pencernaan, pengucapan, dan estetika. Di samping itu, fungsi istimewa yang tidak dimiliki oleh gigi tetap adalah sebagai petunjuk gigi tetap agar kelak tumbuh (erupsi) pada tempatnya dan menjaga pertumbuhan lengkung rahang.
Bila gigi susu tanggal sebelum saatnya, baik karena karies ataupun dicabut, gigi tetap yang akan tumbuh tidak mempunyai petunjuk sehingga sering salah arah dan rahang yang ditinggal gigi susu jauh sebelum saatnya. Ini akan mengalami penyempitan sehingga tidak cukup untuk menampung semua gigi dalam susunan yang teratur. Akibatnya, susunan gigi-geligi menjadi crowded (tidak beraturan).

Periode pertumbuhan gigi
Orang tua yang mengetahui periode pertumbuhan gigi-geligi — baik gigi susu maupun gigi tetap — akan sangat membantu. Bukan hanya dalam segi perawatan dalam menjaga kebersihannya, tetapi juga mencegah agar anak-anak tidak melakukan kebiasaan buruk misalnya mengisap jempol yang bisa mengakibatkan gigi depan maju (tonggos=Sunda), menggigit pensil atau benda lain yang bisa mengikis email atau timbulnya celah gigi (distema).
Gigi susu yang tumbuh pertama kali adalah gigi seri tengah rahang bawah. Biasanya tumbuh saat bayi berusia sekira enam bulan. Hal ini sering ditandai dengan gejala bayi sering rewel, bahkan badannya disertai panas. Gusinya terasa gatal sehingga ingin menggigit setiap benda yang dipegang. Untuk mengatasinya, bayi tersebut bisa diberi mainan yang lunak dan dijauhkan dari benda-benda yang membahayakan keselamatannya.
Gigi susu diharapkan sudah tumbuh lengkap saat anak berusia dua tahun. Namun, usia yang tercantum dalam tabel tersebut hanyalah sebagai patokan perkiraan. Kadang-kadang, ada bayi yang usianya belum genap enam bulan giginya sudah mulai tumbuh, sedangkan yang lain sudah menginjak satu tahun giginya belum tumbuh sama sekali. Kondisi ini tidak perlu dirisaukan karena ada pengaruh beberapa faktor misalnya nutrisi, hormonal, ataupun keturunan.
Gigi susu bila tumbuh lengkap berjumlah dua puluh gigi yang macamnya terdiri dari gigi seri, taring, dan geraham. Gigi geraham pada gigi susu hanya satu macam, sedangkan pada gigi tetap terdapat dua macam sehingga dibedakan menjadi gigi geraham besar dan gigi geraham kecil.
Gigi tetap bila tumbuh semua (termasuk gigi bungsu/geraham ketiga/terakhir) berjumlah 32 gigi. Jumlah yang lebih besar ini disebabkan pada gigi tetap dijumpai gigi geraham kecil dan gigi geraham besar ketiga (gigi bungsu).
Saat gigi susu tanggal, biasanya bersamaan dengan saat gigi tetap tumbuh, tetapi ada pengecualian pada gigi geraham besar. Patut digarisbawahi bahwa gigi geraham besar pertama mulai tumbuh pada umur enam sampai tujuh tahun. Gigi geraham ini bukan gigi pengganti. Artinya, gigi ini langsung muncul pada deretan di belakang gigi-gigi susu, baik pada rahang atas maupun rahang bawah. Jadi, gigi ini (dan juga gigi geraham besar lainnya) tumbuh tidak menggantikan gigi susu, sedangkan gigi lainnya, geraham kecil, taring, dan seri akan tumbuh menggantikan gigi pendahulunya (gigi susu).
**
BANYAK kasus menunjukkan bahwa orang tua sering kecolongan karena tidak mengetahui gigi putra-putrinya sudah rusak parah. Padahal, gigi yang bersangkutan merupakan gigi tetap. Selain itu, letak gigi-geligi secara keseluruhan tidak beraturan sehingga mengganggu bukan hanya secara estetika, tetapi juga fungsinya.
Sebagai patokan utama, ketika anak mulai masuk TK, anak perlu lebih diperhatikan secara intensif. Usia 5,5-11 tahun adalah periode gigi campur. Gigi kelihatan tidak beraturan karena berada pada masa peralihan saat tanggalnya gigi susu dan saat tumbuhnya gigi tetap. Usia ini dianggap rawan dan penentu. Kelainan gigi-geligi bisa terdeteksi saat ini yang juga merupakan saat yang tepat untuk mengoreksinya.
Sesungguhnya, hal ini tidak perlu dikhawatirkan sejauh rahang cukup menampung semua gigi yang tumbuh. Bila ada gigi yang ”nakal” tumbuhnya, biasanya masih bisa ditangani tanpa perlu bantuan alat. Si anak dianjurkan untuk mengembalikan posisi gigi ke posisi gigi semula dengan bantuan lidahnya.
Namun, bila posisi gigi mengganggu sedemikian rupa, baik untuk fungsi maupun estetika secara ”serius”, inilah saat yang tepat untuk mengaturnya dengan perawatan pengawatan (orthodonti). Seusia anak-anak masih memungkinkan untuk dilakukan perawatan secara maksimal mengingat tulang anak-anak masih dalam periode pertumbuhan sehingga masih bisa dibentuk dan diarahkan. Dengan demkian, kemungkinan keberhasilannya lebih besar.

Kapan mesti dicabut?
Anak-anak belum mampu merawat gigi-geliginya secara maksimal dan tentunya peran orang tua sangat menentukan. Begitu gigi susu menunjukkan gejala mulai tumbuh, saat itu juga harus mulai diperhatikan.
Ketika gigi susu telah tumbuh dan sementara si anak masih minum ASI ataupun susu botol, jangan lupa untuk membersihkan giginya dengan cara mengusapnya dengan kain atau tisu yang telah dibasahi air ketika dia akan tidur. Email gigi susu lebih tipis dibandingkan gigi tetap karena itu tidak mengherankan bila gigi anak-anak sangat mudah mengalami karies. Apabila membiarkan mereka tertidur dalam keadaan rongga mulut terdapat sisa-sisa susu atau makanan, hal ini akan ikut memperparah keadaan.
Anak-anak harus dibiasakan menyikat giginya secara benar dan teratur sejak dini. Selain itu, akan sangat bijaksana jika mulai mengenalkannya dengan dokter gigi meskipun tidak mengalami kerusakan atau kelainan apa-apa. Bahkan, kedatangannya pertama kali tidak diapa-apakan, suasana keramahtamahan akan membuatnya bersahabat dengan dokter gigi, dan segala ”pernik-perniknya”. Hal ini akan membuat si anak merasa ”nyaman” sehingga kelak tidak mengalami kesulitan bila harus melakukan perawatan. Kesan trauma bisa timbul bila anak dibawa ke dokter gigi dalam kondisi ”kesakitan” serta dipaksa melakukan perawatan yang justru akan membuatnya kapok.
Gigi susu harus dicabut bila sudah terjadi resorbsi akar gigi susu oleh gigi tetap di bawahnya yang akan tumbuh. Biasanya ditandai dengan kegoyahan gigi. Pencabutan akan memberi kesempatan gigi tetap tersebut tumbuh dengan leluasa.
Namun, meskipun gigi susu belum goyah sama sekali bahkan masih kuat tertanam, sementara gigi tetap telah terlihat mulai tumbuh, gigi susu tersebut juga harus segera dicabut. Kondisi seperti ini disebut presistensi (kesundulan). Keterlambatan pencabutan mengakibatkan gigi akan tetap terhambat pertumbuhannya. Sama halnya dengan pencabutan yang belum saatnya, kondisi ini juga bisa mengakibatkan gigi-geligi susunannya tidak beraturan.
Sering dijumpai, gigi taring tetap atas seseorang, tumbuh tidak pada tempatnya (gingsul=Jawa). Kondisi ini kadang bisa mempermanis penampilan seseorang. Namun, bila letaknya sedemikian rupa sehingga mengganggu penampilan, hal ini akan menimbulkan rasa risih.
Beberapa kasus menunjukkan bahwa hal tersebut ternyata diakibatkan yang bersangkutan masih menyimpan gigi taring-gigi susu di bawahnya. Hal ini bisa terjadi karena bagi orang awam kadang tidak bisa membedakan secara pasti antara gigi susu dan gigi tetap karena tidak mengalami kegoyahan dan dianggap gigi tetap sehingga ”disimpan” lalu menghalangi gigi taring yang akan tumbuh. Dengan demikian, akan sangat membantu bila orang tua bisa membedakan gigi susu dengan gigi tetap. Secara sepintas, gigi susu bisa dibedakan dengan gigi tetap karena warnanya lebih putih, bentuknya lebih kecil, dan permukaannya cenderung menguncup. (Sumber: Pikiran Rakyat)***

Jangan Hardik Narkoba! Ia tidak dan belum Pernah Bersalah

Oleh Wawan Gunawan

DI Kolombia, gara-gara seorang Pablo Escobar, tidak kurang dari sebelas ribu rumah digeledah untuk mencarinya. Dan, 1.700 orang yang diperkirakan ada hubungannya dengan Escobar ditangkap. Para penyelidik —lengkap dengan peralatan canggih sumbangan pemerintah AS yang telah teruji di medan perang teluk— memburunya ke segenap penjuru. Akan tetapi, sepandai-pandainya tupai melompat akhirnya jatuh juga. Inilah salah satu drama perang melawan narkoba (tepatnya gembong narkoba).
Perang melawan narkoba sepertinya sudah menjadi kesepakatan bersama, bahkan secara internasional, narkoba telah dinobatkan sebagai salah satu musuh peradaban manusia. Namun, terpikirkah oleh kita bahwa ada yang salah kaprah dalam hal itu semua.
Narkotika (selanjutnya sebut saja narkoba) telah menjadi objek salah sasaran dari common sense kita. Seolah narkoba telah menjadi momok yang amat mengerikan dan menakutkan. Kita telah salah tuding, calah caci. Padahal, narkoba sama sekali bukan pokok persoalan, bukan sasaran tembak yang sebenarnya. Jangan hardik narkoba, ia tidak dan belum pernah bersalah. Yang salah adalah sikap dan mental busuk para pemakai/pengguna narkoba. Mengapa kesalahkaprahan ini bisa terjadi?

Cara berpikir yang salah?
Benarkah hal itu merupakan refleksi dari cara berpikir kita yang salah? Atau, diam-diam cara berpikir yang salah itu sengaja dibentuk dan dipelihara agar para produsen narkoba tetap dapat mencari mangsa (pengguna). Artinya, ketika kita ribut —dan seolah sengaja dibuat ribut— untuk berperang terhadap narkoba, para produser dan pengedar narkoba dengan tenang menjerat mangsa-mangsa baru hingga ke tingkat anak-anak sekolah dasar.
Terbentuklah kemudian opini masyarakat yang benci terhadap narkoba (sebuah bentuk kebencian yang tidak pada tempatnya, salah sasaran) dan kalau toh ada pengguna dan pengedar yang tertangkap oleh aparat, bisa dipastikan adalah mereka dari kalangan kelas teri. Kalaupun suatu waktu ada kelas kakap yang terjaring, proses hukumnya menjadi raib, entah bagaimana, kasusnya menjadi buram alias tidak jelas.
Sudah saatnya ada pencerahan terhadap masyarakat agar tidak menghardik dan membenci narkoba, terutama dalam hubungannya dengan kebutuhan medis. Mulai sekarang harus ada penyuluhan yang benar dan berbasis kepada akal sehat, bukan melalui kata-kata yang menyesatkan.
Seharusnya tidak ada kalimat perang atau kampanye antinarkoba. Namun harus digalang kampanye antipenyalahgunaan narkoba. Dibangun upaya sistematis dari semua pihak agar perang terhadap mental busuk penyalahgunaan narkoba.
Artinya, kata-kata dalam poster perang terhadap narkoba sesungguhnya merupakan refleksi dari ketidakcerdasan cara berpikir. Dalam bahasa lain, apabila kita salah berpikir dan salah kaprah terhadap suatu persoalan maka selama itu kita tidak mungkin bisa menyelesaikan persoalan yang bersangkutan. Itulah sebabnya mengapa selama ini kita tidak juga mampu menyelesaikan persoalan ini. Sekali lagi, kita telah salah alamat. Kita telah salah mengidentifikasi musuh. Musuh kita bukan narkoba, musuh kita adalah mental busuk. Mental busuk semua kalangan sebab persoalan penyalahgunaan narkotika merupakan siklus yang multikompleks. Inilah sebenarnya yang harus kita jadikan musuh bersama.

Membangun kesadaran masyarakat
Dalam perspektif seperti itulah, membangunkan kesadaran masyarakat dalam relasi antiterhadap mental busuk menyalahgunakan narkoba harus segera dibentuk secara komprehensif. Dalam hal ini, peran keluarga yang dinakhodai ayah-ibu memiliki tanggung jawab yang besar dalam memberdayakan mental positif setiap anggota keluarganya. Sebab, apa pun narkoba, ia akan tidak berdampak apa-apa apabila setiap anggota keluarga telah memiliki mental positif. Tumbuhlah kemudian jenis keluarga yang bebas dari penyalahgunaan narkoba tetapi sekaligus tidak membenci narkoba.
Memang harus diakui, cara berpikir seperti ini terbilang langka. Akan tetapi harus kita yakini, cara inilah yang dapat dijadikan bekal awal dalam menahan laju penyalahgunaan narkoba di negara ini. Kemudian elemen sekolah. Inilah elemen kedua terpenting setelah keluarga, sebab pada institusi sekolah terdapat berbagai bentuk tanggung jawab terhadap keberlangsungan sekaligus perkembangan mental dan moralitas setiap anak didik.
Jangan cekoki anak dengan sikap salah kaprah terhadap narkoba. Justru setiap anak memiliki hak memperoleh pengetahuan tentang narkoba secara benar. Artinya, menumbuhkan kesadaran anak dalam rangka membangun moralitas dan mentalitas anak lebih memiliki penting ketimbang menjejali anak dengan larangan akrab pada narkoba.
Kalau kita tidak jeli mencermati fenomena yang memprihatinkan ini, kita malah akan terjerumus untuk membincangkan yang sebenarnya bukan topik bersama. Kita mengharamkan narkoba, kita takut-takuti anak-anak dengan narkoba, tetapi kita pelit terhadap informasi (barangkali kita memang tidak mengetahuinya?) tentang narkoba yang seharusnya diberikan kepada anak-anak kita. Bagaimanapun membentuk kesadaran akan bahaya penyalahgunaan narkoba jauh lebih penting ketimbang menghambur-hamburkan kalimat yang tidak efektif.

Menegakkan hukum
Di sinilah kemudian peran pemerintah —melalui lintas departemen— memiliki peran dan tanggung jawab yang sangat besar. Pemerintah harus berpikir ulang tantang bagaimana memberantas penyalahgunaan narkoba. Dalam hal ini penindakan tegas terhadap kalangan yang sengaja meraup keuntungan lewat bisnis narkoba harus diberantas sampai ke akar-akarnya. Perlihatkan kepada publik bahwa aparat penegak hukum juga berani menindak para bandar besar hingga kalau perlu menghukum mati.
Dalam konteks aparat inilah sering kita dengar praduga adanya kongkalikong antara bandar besar dengan aparat keamanan. Kita seharusnya sadar betul bahwa salah satu kunci memberantas penyalahgunaan narkoba adalah penegakan supremasi hukum. Tentu saja akan kita dapatkan dua keuntungan sekaligus apabila supremasi hukum dapat kita tegakkan.
Pertama, akan lahir efek jera dari mereka yang meraup keuntungan dari bisnis ini dan kedua, adanya kepercayaan dari masyarakat terhadap aparat penegak hukum. Selama hal penegakan hukum ini kita abaikan, selama itu pula kita tidak mungkin berharap banyak akan adanya penurunan penyalahgunaan narkoba.
Itulah sebabnya, barangkali cara kita yang salah kaprah dalam mengungkapkan kebencian kita terhadap narkoba, berbanding lurus dengan belum cakapnya aparat penegak hukum dalam menindak secara tegas mereka yang terlibat dengan segala bentuk penyalahgunaan narkoba. Ini memang patut kita sayangkan.
Jangan hardik narkoba! Perbaikilah mental busuk kita! (Sumber: Pikiran Rakyat)***