Halaman

Beberapa Tips untuk Para Ibu

Oleh Siti Mardiah

DALAM kehidupan sehari-hari, banyak hal yang dapat dijadikan pengalaman untuk kemudian berbagi dengan orang lain. Di bawah ini beberapa tips yang mungkin dapat bermanfaat bagi para ibu rumah tangga.

1. Nasi agar tidak cepat kuning dan bau.
Penggunaan magic jar atau magic com telah umum di kalangan ibu-ibu karena memang manfaatnya yang telah dirasakan. Alat ini sangat meringankan ibu-ibu dalam menyiapkan nasi, terutama yang membutuhkan jangka waktu singkat.
Problem baru yang muncul dari penggunaan magic jar maupun magic com ini adalah nasi yang kuning dan bau sehingga tidak aneh lagi banyak nasi yang terbuang mubazir. Untuk menghindari hal seperti itu sangatlah mudah untuk mengatasinya, yaitu ketika proses pemasakan nasi, gunakanlah jeruk nipis, caranya:
a. Masukkan perasan air jeruk nipis pada saat nasi dikarih, sebelum nasi dikukus, ketika airnya mendidih.
b. Apabila memasak dengan magic com, masukkan perasan air jeruk nipis bersamaan dengan beras sebelum proses memasak dimulai. Takaran yang diperlukan adalah 1 liter beras cukup dengan 1/2 butir jeruk nipis yang sedang besarnya, insya Allah nasi tidak akan cepat kuning dan bau.

2. Lalab daun pepaya agar tidak pahit.
Agar lalab daun pepaya tidak pahit atau berkurang pahitnya maka dapat ditambahkan daun jambu batu ketika daun pepaya sedang direbus. Perbandingan antara daun jambu batu dengan daun pepaya dapat diatur sesuai selera. Apabila ingin tidak pahit sama sekali, buatlah perbandingan yang hampir seimbang antara daun pepaya dengan daun jambu batunya. Apabila masih diinginkan rasa pahitnya, jangan terlalu banyak menggunakan daun jambu batunya. Setelah daun pepaya matang, tentu saja daun jambu batunya dibuang.

3. Arang untuk mengurangi alergi.
Apabila Anda mempunyai penyakit alergi bila memakan sesuatu, dapat memanfaatkan tips ini. Misalnya alergi bila memakan daging ayam maka ketika memasaknya, masukkanlah arang hitam yang telah dicuci bersih ke dalam wajan atau panci tempat yang digunakan memasak, ketika masakan itu sedang mendidih. Biarkanlah arang itu sampai bahan masakan benar-benar masak. Ketika masakannya telah matang, arangnya tentu saja kita buang. Agar tidak mengubah warna masakan, sebaiknya gunakan arang hitam yang keras.
Demikianlah beberapa tips yang sangat mudah ini, semoga bermanfaat dan selamat mencoba.(Sumber: Pikiran Rakyat)***

Perlukah Minum Obat Saat Influensa?

Oleh Silvia Retnawati
(Mahasiswa Pendidikan Kimia UPI Bandung)

PADA musim hujan tentu banyak yang terserang influensa. Penderita tentu merasa tersiksa dengan keluarnya ingus dari hidung. Namun tidak sedikit di antara kita yang menggap remeh ketika terserang influensa sehingga banyak orang yang membiarkan penyakit itu sampai berlarut-larut.
Memang, pada awal terserang influensa, penderita tidak merasakan sakit yang berarti karena sakitnya baru akan terasa setelah 3 sampai 7 hari infeksi terjadi.
Setelah infeksi terjadi, gejala yang akan dialami adalah kedinginan, sakit kepala, pegal linu otot, dan kehilangan nafsu makan.
Jika sudah kehilangan nafsu makan, bisa berbahaya karena dengan demikian berarti kita telah memberikan kesempatan kepada penyakit tersebut untuk berkembang lebih lanjut.
Sebenarnya apa sih influensa itu? dan perlukah minum obat saat kita menderita influensa? Influensa merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus orthomyxovirus yang berbentuk seperti partikel sferis. Struktur virus orthomyxovirus terdiri atas 8 lembaran RNA yang berbeda-beda di dalam kapsid spiral.
Pengamatan mikroskop terhadap ekor (alat penempel) virus menunjukkan bahwa bagian kapsid virus ini dilapisi oleh selubung lemak yang dikelilingi duri dan tersusun rapat. Selubung duri tersebut terdapat dalam dua bentuk yang berbeda, yang satu sebagai hemaglutinin dan yang lainnya neuromiditase.
Antibodi tubuh manusia secara langsung dapat melawan hemaglutinin untuk mencegah infeksi. Virus influensa ditularkan lewat udara dan masuk ke tubuh manusia melalui alat pernapasan. Virus influensa pada umumnya terbatas pada sistem pernapasan.
Terdapat tiga tipe serologi virus influensa, yaitu tipe A, B, dan C. Tipe A dapat menginfeksi manusia dan hewan, sedangkan B dan C hanya menginfeksi manusia. Penanggulangan virus ini telah diusahakan oleh beberapa ahli dengan pembuatan vaksin.
Pendekatan terbaru adalah dengan pemakaian mutan virus hidup yang dilemahkan untuk mendorong agar respons kekebalan tubuh meningkat. Di samping itu, untuk menangulangi virus ini, ”The US Food and Drug Administration” (FDA) telah mengeluarkan dua obat antiviral yaitu Relenza (Zanamivir) dan Tamiflu (osotamivir Phosphate). Obat tersebut diproduksi pada musim panas 1999 dan dikenal sebagai penghambat neuraminidase.
Relenza diproduksi untuk mengobati flu ketika pertama kali flu tersebut terjadi dan Tamiflu dapat digunakan untuk pengobatan atau pencegahan flu.
Jadi, sebenarnya penggunan obat-obatan untuk mengobati flu itu tidak sempurna untuk penyembuhannya. Namun, setidaknya dengan penggunaan obat itu, dapat membantu mencegah penyebaran virus yang dapat menginfeksi sel-sel tubuh lebih lanjut.
Oleh karena itu, ketika terserang influensa, jangan menganggap remeh dan membiarkan berlarut-larut. Segeralah pergi ke dokter untuk diobati dan istirahatlah yang cukup karena setidaknya penggunaan obat-obat tersebut dapat mencegah penyebaran virus yang menginfeksi sel-sel tubuh.
Jadi di saat kita terserang influensa, harus segera diobati dengan saksama. Ingat, sebenarnya influensa berbahaya dan hingga sampai saat ini belum dapat ditemukan obat yang mampu mematikan virus penyebab influensa tersebut. Ada pun obat-obatan yang telah disebutkan di atas,hanyalah dapat mencegah penyebaran virus untuk menginfeksi sel tubuh lebih lanjut. Pencegahan terhadap penyakit influensa ini dapat dilakukan dengan menjaga daya tahan tubuh dan menghindari kontak dengan penderita influensa. (Sumber: Pikiran Rakyat).***

Berbagai Jenis Sisir dan Kegunaannya

Oleh Syae

KALAU Anda ingin bepergian, apa yang tidak akan dilupakan dalam genggaman tangan Anda? Sisir bisa jadi jawabannya. Barang yang tergolong vital ini, senantiasa menjadi teman akrab, tidak saja bagi wanita, tetapi juga bagi kaum pria.
Sejak dulu hingga kini, rasanya sisir belum berubah fungsi. Sebagai alat untuk merapikan rambut sehingga wajah terlihat elok. Saat ini beragam bentuk dan warna sisir terlihat di berbagai toko, dari sisir yang kecil sampai sisir yang besar, dari yang bergerigi kasar sampai yang rapat dan dari yang warnanya merah muda sampai hitam kelam.
Tampaknya sekarang, orang mulai selektif dengan pemilikan rambutnya. Mereka lebih bebas dalam memilih sisir yang disesuaikan dengan jenis rambut dan tujuannya, makanya jangan heran kalau kita melihat seorang wanita, bisa memiliki banyak sisir dengan jenis dan model yang berbeda. Oleh karena itu, ada baiknya kita mengenal berbagai jenis sisir dengan beragam kegunaannya.

1. Sisir dengan gerigi jarang dan besar. Sisir ini cocok digunakan untuk rambut kering karena rambut kering memiliki daya lengkung dan cenderung mudah rontok jika tidak hati-hati menyisirnya.

2. Sisir ramping dengan ujung lancip. Sisir ini cocok digunakan untuk membuat jalinan kepang rambut atau membuat belahan pada saat kita sedang memotong rambut.

3. Sisir multiguna. Sisir ini digunakan untuk rambut lurus atau juga baik dipakai untuk mengatur rambut lurus ketika akan dipotong.

4. Sisir sikat radial (ukuran kecil), baik digunakan untuk mem-blow atau mengeriting rambut.

5. Sisir sikat radial (ukuran sedang), baik digunakan untuk mengeringkan rambut dengan jenis keriting sesudah keramas.

6. Sisir sikat beradial (ukuran besar). Cocok dipakai untuk menyisir rambut ikal atau bergelombang besar.

7. Sisir dengan bantal karet dari plastik. Cocok digunakan untuk mengeringkan rambut yang akan diluruskan.

Membersihkan rambut
Keramas, sampai saat ini masih merupakan cara untuk membersihkan rambut dan memelihara rambut agar rambut tetap segar. Membersihkan rambut sebaiknya dilakukan selama 2-3 kali seminggu dengan jenis sampo yang sesuai dengan jenis rambut.
Setelah keramas, orang biasanya sering mengeringkannya dengan menggosok-gosokkan rambutnya oleh handuk. Cara ini sebenarnya tidak dianjurkan karena akan menyebabkan kerontokan rambut.
Biarkanlah rambut kering secara alamiah jika mungkin, tetapi jika terpaksa menggunakan hair dryer (pengering rambut), maka usahakanlah menggunakan alat tersebut dengan panas yang sedang dan dalam jarak tidak lebih dari 18 cm dari rambut. (Sumber: Pikiran Rakyat)***

Tempe, Makanan Sehat Antikolesterol

Oleh I Nyoman Tika

TEMPE, merupakan makanan khas Indonesia. Hasil fermentasi kedelai dengan rhizopus oligosporus itu, kini semakin banyak diminati orang, baik di dalam maupun di luar negeri. Nilai gizi yang tinggi menyebabkan tempe dinobatkan sebagai menu baru untuk program pemberian makanan tambahan bagi anak sekolah (PMTAS). Senyawa-senyawa aktif yang terkandung dalam tempe, juga sangat baik untuk menurunkan kadar kolesterol dalam darah.
Senyawa apa yang ada dalam tempe, yang menurunkan kolesterol dalam darah dan bagaimana mekanisme yang terjadi, adalah dua hal menarik untuk diketahui. Alasannya, pemahaman terhadap komponen gizi pada tempe diharapkan dapat membantu seseorang dalam proses pengelolaan tempe menjadi makanan generasi baru tanpa mengganggu sifat-sifat dari senyawa/unsur gizi yang dikandung di dalamnya, lebih-lebih bila tempe digunakan sebagai bahan makanan untuk menurunkan kolesterol.
Keluhan akan meningkatnya kolesterol dalam darah semakin banyak menjangkiti masyarakat, seiring dengan semakin berubahnya pola makan. Masyarakat modern lebih menyukai makanan cepat saji, dengan kadar lemak tinggi. Itu sebabnya, ke depan, makanan olahan dari tempe akan menjadi salah satu alternatif dalam mengatasi kecenderungan penyakit karena kelebihan kolesterol.
Tempe memiliki nilai cerna yang lebih baik apabila dibandingkan dengan kedelai. Selain itu, pada tempe juga terjadi peningkatan nilai gizi, seperti kadar vitamin B2, vitamin B12, niasin, dan asam pantorenat. Bahkan juga terjadi peningkatan asam-asam amino bebas, asam lemak bebas dan zat besi. Hasil analisis gizi tempe menunjukkan, kandungan niasin sebesar 1,13 mg/100 gram berat tempe yang dapat dimakan (Bdd). Kandungan ini meningkat kurang lebih 2 kali lipat setelah kedelai difermentasi menjadi tempe karena kadar niasin pada kedelai hanya berkisar 0,58 mg (Hermana dan kawan-kawan, 1996).
Dari kandungan gizi itu, niasin adalah senyawa yang paling menarik untuk dibahas berkenaan dengan penggunaan tempe sebagai bahan makanan yang dapat menurunkan kadar kolesterol dalam darah. Mengapa demikian? Senyawa niasin merupakan nama generik untuk asam nikotinat dan nikotinamida yang berfungsi sebagai sumber vitamin dalam makanan.
Asam nikotinat merupakan derivat asam monokarboksilat dari piridin. Niasin aktif adalah nikotinamida adenin dinukleotida (NADD+) dan nikotinamida adenin dinukleotida fosfat (NADP+). Kedua senyawa itu merupakan koenzim dari banyak enzim oksidoreduktase. Artinya, niasin aktif ini merupakan komponen penting dalam lintasan metabolik yang melibatkan metabolisme karbohidrat, lipid, serta asam amino.
Dalam jalur sintesis, niasin juga berasal dari diet asam amino triptofan (suatu asam amino ensensial), yang juga banyak terdapat dalam tempe, yaitu sebanyak 256 mg/100 gram berat tempe yang dapat dimakan (Bdd).
Di tubuh manusia, kolesterol terdapat di dalam jaringan dan lipoprotein plasma, yang bisa dalam bentuk kolesterol bebas atau gabungan dengan asam lemak rantai panjang sebagai ester kolesterol. Unsur ini disintesis dalam banyak jaringan dari asetil-KoA dan akhirnya dikeluarkan dari tubuh lewat empedu sebagai garam kolesterol atau empedu. Perlu diketahui, kolesterol merupakan prekursor semua senyawa steroid dalam tubuh, seperti kortikosteroid, hormon seks, asam empedu, dan vitamin D. Kolesterol adalah produk khas hasil metabolisme hewan dan dengan demikian terdapat dalam segala makanan yang berasal dari hewan seperti kuning telur, daging, hati, dan otak.
Kolesterol dan ester kolesterol diperantarai oleh lipoprotein. Low density lipoprotein (LDL) merupakan pengantara pengambilan kolesterol di banyak jaringan, sedangkan kolesterol bebas diangkut oleh hight density lipoprotein (HDL) ke organ hati untuk diubah menjadi asam empedu dalam proses reverse cholesterol transport (pengangkutan balik kolesterol).

Ada tiga hal yang menyebabkan penurunan keseimbangan kolesterol dalam tubuh, yaitu:
1. Aliran ke luar kolesterol dari membran sel ke lipoprotein dengan potensial kolesterol yan rendah, khususnya HDL, yang digalakkan oleh enzim lesitin: kolesterol asiltransferase.
2. Esterifikasi kolesterol oleh enzim asil: KoA: kolesterol asiltransferase.
3. Penggunaan kolesterol untuk sintesis senyawa steorid lainnya, seperti hormon atau asam empedu dalam hati.

Agar rasio HDL selalu lebih besar dari LDL, niasin digunakan untuk terapi menurunkan kadar kolesterol plasma. Cara pengobatan ini didasarkan pada inhibisi aliran asam lemak bebas dari jaringan adiposa yang mengurangi pembentukan lipoprotein yang membawa kolesterol, yaitu VLDL (very low density lipoprotein), (IDL (intermediate density lipoprotein), dan LDL (low density lipoprotein).
Aliran asam lemak untuk pembentukan lipoprotein itu berkurang karena terjadi penyimpangan oksidasi asam lemak. Penyimpangan ini dihambat oleh meningkatnya ratio (NADH)/(NAD+). Seperti dijelaskan di depan, niasin aktif adalah bentuk NAD+ sehingga dengan mengonsumsi tempe, maka sebenarnya kita telah membuat ratio (NADH)/(NAD+) itu meningkat dalam tubuh. Dengan kata lain, mengonsumsi tempe secara kontinyu, dapat menghambat terbentuknya VLDL, IDL, dan LDL, yang pada akhirnya dapat menurunkan kadar kolesterol dalam darah.
Dari gambaran itu, amat jelas bila mengonsumsi tempe secara kontinyu, berarti kita telah meningkatkan kadar niasin dan triptofan dalam tubuh. Oleh karena itu, tempe memang pantas disebut sebagai makanan sehat untuk menurunkan kadar kolesterol.
Namun yang perlu diperhatikan selanjutnya adalah, pengolahan tempe itu menjadi makanan olahan, haruslah bebas dari senyawa-senyawa yang justru meningkatkan kadar kolesterol itu sendiri. Pengolahan tempe menjadi kripik misalnya jika tetap digoreng dengan minyak goreng yang sudah berwarna hitam (minyak yang berulangkali digunakan). Justru dari minyak inilah sumber masalah baru karena minyak seperti itu kaya akan peroksida lemak. Peroksida lemak inilah yang sering meningkatkan gangguan jantung. (Sumber: Pikiran Rakyat)***

Wortel, Turunkan Risiko Serangan Stroke

Oleh Tonny Sumarsono

PERGESERAN pola penyakit di Indonesia, ternyata telah berubah. Penyebab utama kematian yang dulunya disebabkan oleh penyakit-penyakit infektif, maka kini telah beralih ke penyakit-penyakit degeneratif. Hal ini menyiratkan bahwa negara kita bukan lagi tergolong negara-negara miskin yang biasanya akrab dengan penyakit infeksi.
Penyakit degenaratif seperti kardiovaskuler (penyakit jantung dan stroke), kini menduduki peringkat atas di Indonesia, dan hal ini banyak disebabkan oleh perubahan pola hidup dan pola makan yang berubah dari pola tradisional ke pola modern. Di samping penyakit jantung dan stroke, maka penyakit degenaratif lainnya seperti hipertensi, diabetes melitus, hiperkolesterol, gangguan pencernaan dan kegemukan, geliatnya mulai terus terlihat.
Pola makan tradisional yang kaya akan karbohidrat, tinggi serat dan rendah lemak, berubah ke pola makan modern yang tinggi lemak, tapi rendah serat dan karbohidrat. Serat dapat berasal dari buah-buahan dan sayuran, dan jumlahnya harus cukup agar bisa menjaga kenaikan kolesterol.
Salah satu sayuran yang akan kita bahas adalah wortel, sayuran yang berwarna oranye yang jumlahnya melimpah ruah di negara kita ini. Wortel, sayuran yang pertama kali ditemukan di Afganistan sekira abad ke-7 ini sudah lama dikenal sebagai sayuran yang memiliki khasiat untuk menjaga kesehatan penglihatan (mata) kita. Wortel terkenal kaya akan betakaroten, yang dalam tubuh akan diubah menjadi vitamin A yang sangat penting dalam menjaga fungsi retina mata.
Selain itu, beta karoten juga merupakan zat antioksidan yang mampu melindungi tubuh dari kemungkinan serangan kanker. Kandungan lainnya yang dominan dalam sayuran ini adalah asam fenolat. Kadar betakaroten dalam wortel terdapat sekira 754 ug, hampir dua kali lipat lebih banyak dibandingkan pada kangkung yang hanya 380 ug dan juga bayam yang hanya 404 ug. Semakin oranye warnanya, maka semakin tinggi pula kandungan betakarotennya.
Proses memasak wortel juga sangat berpengaruh terhadap kandungannya. Wortel yang direbus dan ditambah sejumlah minyak/lemak (biasanya dalam membuat tumis), ternyata kadarnya akan meningkat kira-kira sepertiga apabila dibandingkan dengan wortel mentah. Kebaikan lainnya, wortel yang dimasak akan lebih mudah diserap tubuh.
Para peneliti juga mengungkapkan, kadar antioksidan ini akan terus meningkat selama satu minggu penyimpanan dalam suhu tinggi dan sesudah itu, baru kadarnya akan menurun, namun tidak akan lebih rendah dari wortel mentah.
Sebuah riset yang dilakukan oleh Robertson et al memperlihatkan bahwa dengan mengonsumsi wortel sebanyak 200 gr/hari dan selama 3 minggu berturut-turut, bisa mengurangi kadar kolesterol darah sampai 11%. Hal ini cukup bermakna karena penurunan 1% saja kolesterol, dapat mengurangi risiko terkena serangan jantung sampai 2%. Jadi dengan kata lain, dengan mengonsumsi wortel selama 3 minggu, bisa mengurangi risiko terkena serangan jantung sampai 22%.
Peneliti lain — Immanuel Griffith et al. dari Universitas Missouri di Amerika Serikat — juga menyuguhkan hal yang serupa. Para relawan yang rata-rata sudah berusia di atas 40 tahun yang pernah terkena serangan jantung, diharuskan mengonsumsi wortel selama 1 bulan penuh dengan jumlah 250 gr/hari. Ternyata, hasil pemeriksaan kolesterolnya bisa menurun rata-rata 27%.
Kaitan terdekat bagi mereka yang berkolesterol tinggi, selain risiko serangan jantung, juga risiko terkena stroke. Jika Anda rajin mengonsumsi wortel paling sedikit 5 kali dalam seminggu, ternyata dalam riset bisa menekan risiko terkena stroke sampai 68% apabila dibandingkan dengan mereka yang hanya satu kali, atau bahkan tidak pernah mengonsumsi wortel dalam setiap bulannya. Penelitian di atas cukup representatif karena melibatkan puluhan ribu perawat selama hampir 8 tahun di Universitas Harvard.
Hasil ini juga melengkapi penelitian sebelumnya yang mengatakan dengan mengonsumsi satu setengah batang wortel ukuran sedang setiap hari, bisa mengurangi stroke sampai 40%. Aktivitas antistroke dari wortel ini diduga karena aktivitas beta karoten yang akan mencegah terjadinya plak atau timbunan kolesterol dalam pembuluh darah. Beta karoten merupakan pigmen paling aktif apabila dibandingkan dengan alpha dan gamma karoten. Biasanya betakaroten lebih dikenal sebagai pro vitamin A yang akan menjadi vitamin A pada dinding usus halus.
Bagi mereka yang sudah terkena stroke, vitamin A dapat mencegah kematian atau cacat setelah stroke. Hal ini merupakan hasil penelitian dari para ahli di Universitas Brussel, Belgia yang menganalisis sekira 80% pasien selama 24 jam setelah mereka terserang stroke. Ternyata para peneliti menemukan kadar vitamin A yang berlebih atau di atas rata-rata pada pasien-pasien itu, menjaga daya tahannya lebih baik dan lebih sedikit mengalami kerusakan neurologisnya. Hal ini menyimpulkan, bahwa vitamin A bisa meredam kerusakan oksidatif tatkala otak kekurangan oksigen selagi terkena serangan stroke.
Jadi bagi mereka yang kini sudah berusia di atas 40 tahun dan ”biasanya” cukup rawan dengan berbagai penyakit degeneratif karena kolesterolnya yang selalu meninggi, maka tunggu apalagi, makanlah wortel dengan teratur. Bukankah upaya mencegah itu lebih baik dari pada mengobati? Pilihlah wortel yang masih segar, halus kulitnya, dan warnanya yang masih menyala. Untuk mempertahankan kadar betakarotennya agar tidak menurun, maka wortel jangan dikupas, tapi cukup digosok atau disikat sedikit saja, kecuali kalau memang kulitnya sudah rusak atau mengeras. (Sumber: Pikiran Rakyat)***

Wortel, Turunkan Risiko Serangan Stroke

Oleh Tonny Sumarsono

PERGESERAN pola penyakit di Indonesia, ternyata telah berubah. Penyebab utama kematian yang dulunya disebabkan oleh penyakit-penyakit infektif, maka kini telah beralih ke penyakit-penyakit degeneratif. Hal ini menyiratkan bahwa negara kita bukan lagi tergolong negara-negara miskin yang biasanya akrab dengan penyakit infeksi.
Penyakit degenaratif seperti kardiovaskuler (penyakit jantung dan stroke), kini menduduki peringkat atas di Indonesia, dan hal ini banyak disebabkan oleh perubahan pola hidup dan pola makan yang berubah dari pola tradisional ke pola modern. Di samping penyakit jantung dan stroke, maka penyakit degenaratif lainnya seperti hipertensi, diabetes melitus, hiperkolesterol, gangguan pencernaan dan kegemukan, geliatnya mulai terus terlihat.
Pola makan tradisional yang kaya akan karbohidrat, tinggi serat dan rendah lemak, berubah ke pola makan modern yang tinggi lemak, tapi rendah serat dan karbohidrat. Serat dapat berasal dari buah-buahan dan sayuran, dan jumlahnya harus cukup agar bisa menjaga kenaikan kolesterol.
Salah satu sayuran yang akan kita bahas adalah wortel, sayuran yang berwarna oranye yang jumlahnya melimpah ruah di negara kita ini. Wortel, sayuran yang pertama kali ditemukan di Afganistan sekira abad ke-7 ini sudah lama dikenal sebagai sayuran yang memiliki khasiat untuk menjaga kesehatan penglihatan (mata) kita. Wortel terkenal kaya akan betakaroten, yang dalam tubuh akan diubah menjadi vitamin A yang sangat penting dalam menjaga fungsi retina mata.
Selain itu, beta karoten juga merupakan zat antioksidan yang mampu melindungi tubuh dari kemungkinan serangan kanker. Kandungan lainnya yang dominan dalam sayuran ini adalah asam fenolat. Kadar betakaroten dalam wortel terdapat sekira 754 ug, hampir dua kali lipat lebih banyak dibandingkan pada kangkung yang hanya 380 ug dan juga bayam yang hanya 404 ug. Semakin oranye warnanya, maka semakin tinggi pula kandungan betakarotennya.
Proses memasak wortel juga sangat berpengaruh terhadap kandungannya. Wortel yang direbus dan ditambah sejumlah minyak/lemak (biasanya dalam membuat tumis), ternyata kadarnya akan meningkat kira-kira sepertiga apabila dibandingkan dengan wortel mentah. Kebaikan lainnya, wortel yang dimasak akan lebih mudah diserap tubuh.
Para peneliti juga mengungkapkan, kadar antioksidan ini akan terus meningkat selama satu minggu penyimpanan dalam suhu tinggi dan sesudah itu, baru kadarnya akan menurun, namun tidak akan lebih rendah dari wortel mentah.
Sebuah riset yang dilakukan oleh Robertson et al memperlihatkan bahwa dengan mengonsumsi wortel sebanyak 200 gr/hari dan selama 3 minggu berturut-turut, bisa mengurangi kadar kolesterol darah sampai 11%. Hal ini cukup bermakna karena penurunan 1% saja kolesterol, dapat mengurangi risiko terkena serangan jantung sampai 2%. Jadi dengan kata lain, dengan mengonsumsi wortel selama 3 minggu, bisa mengurangi risiko terkena serangan jantung sampai 22%.
Peneliti lain — Immanuel Griffith et al. dari Universitas Missouri di Amerika Serikat — juga menyuguhkan hal yang serupa. Para relawan yang rata-rata sudah berusia di atas 40 tahun yang pernah terkena serangan jantung, diharuskan mengonsumsi wortel selama 1 bulan penuh dengan jumlah 250 gr/hari. Ternyata, hasil pemeriksaan kolesterolnya bisa menurun rata-rata 27%.
Kaitan terdekat bagi mereka yang berkolesterol tinggi, selain risiko serangan jantung, juga risiko terkena stroke. Jika Anda rajin mengonsumsi wortel paling sedikit 5 kali dalam seminggu, ternyata dalam riset bisa menekan risiko terkena stroke sampai 68% apabila dibandingkan dengan mereka yang hanya satu kali, atau bahkan tidak pernah mengonsumsi wortel dalam setiap bulannya. Penelitian di atas cukup representatif karena melibatkan puluhan ribu perawat selama hampir 8 tahun di Universitas Harvard.
Hasil ini juga melengkapi penelitian sebelumnya yang mengatakan dengan mengonsumsi satu setengah batang wortel ukuran sedang setiap hari, bisa mengurangi stroke sampai 40%. Aktivitas antistroke dari wortel ini diduga karena aktivitas beta karoten yang akan mencegah terjadinya plak atau timbunan kolesterol dalam pembuluh darah. Beta karoten merupakan pigmen paling aktif apabila dibandingkan dengan alpha dan gamma karoten. Biasanya betakaroten lebih dikenal sebagai pro vitamin A yang akan menjadi vitamin A pada dinding usus halus.
Bagi mereka yang sudah terkena stroke, vitamin A dapat mencegah kematian atau cacat setelah stroke. Hal ini merupakan hasil penelitian dari para ahli di Universitas Brussel, Belgia yang menganalisis sekira 80% pasien selama 24 jam setelah mereka terserang stroke. Ternyata para peneliti menemukan kadar vitamin A yang berlebih atau di atas rata-rata pada pasien-pasien itu, menjaga daya tahannya lebih baik dan lebih sedikit mengalami kerusakan neurologisnya. Hal ini menyimpulkan, bahwa vitamin A bisa meredam kerusakan oksidatif tatkala otak kekurangan oksigen selagi terkena serangan stroke.
Jadi bagi mereka yang kini sudah berusia di atas 40 tahun dan ”biasanya” cukup rawan dengan berbagai penyakit degeneratif karena kolesterolnya yang selalu meninggi, maka tunggu apalagi, makanlah wortel dengan teratur. Bukankah upaya mencegah itu lebih baik dari pada mengobati? Pilihlah wortel yang masih segar, halus kulitnya, dan warnanya yang masih menyala. Untuk mempertahankan kadar betakarotennya agar tidak menurun, maka wortel jangan dikupas, tapi cukup digosok atau disikat sedikit saja, kecuali kalau memang kulitnya sudah rusak atau mengeras. (umber)***

Ekstrak Serai, Pengusir Nyamuk Alamiah

Oleh Budi Imansyah
(sanitarian dan dosen pembimbing pada AKL Kutamaya, Bandung)

SERAI merupakan tumbuhan herba menahun dan merupakan jenis rumput-rumputan dengan tinggi tanaman sekisar 50-100 cm. Daun tunggal berjumbai; panjang sekira 1 meter; lebar 1,5 cm, tetapi kasar dan tajam; tulang daun sejajar; permukaan atas dan bawah berambut serta berwarna hijau. Batang tidak berkayu, berusuk-usuk pendek, dan berwarna putih. Akar serabut perbanyakan dengan pemisahan tunas atau anakan.
Manfaat serai — terutama pada batang dan daun yang kering — digunakan untuk bumbu masak, minyak wangi, bahan pencampur jamu, dan juga dapat dibuat minyak asiri. Ramuan serai dapat dimanfaatkan sebagai ”pengusir (mengendalikan) serangga”, contohnya nyamuk sebagai vektor (pembawa) penyakit. Pembangunan kesehatan adalah bagian integral dari pembangunan nasional. Tujuan pembangunan kesehatan pada intinya adalah mencapai kemampuan hidup sehat bagi semua pendududuk Indonesia. Salah satunya adalah pengendalian vektor penyakit. Hal ini sesuai dengan UUD RI No. 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan, pasal 22 ayat 2, yang berbunyi, ”Pengendalian vektor penyakit merupakan tindakan pengendalian untuk mengurangi atau melenyapkan gangguan yang ditimbulkan oleh binatang pembawa penyakit, seperti serangga (nyamuk malaria dan nyamuk demam berdarah), binatang pengerat (rodent)”.
Demam berdarah dengue (DBD), misalnya. DBD adalah penyakit infeksi akut yang disebabkan oleh virus dengue — terutama menyerang anak-anak — dengan tanda-tanda demam tinggi mendadak dengan manifestasi pendarahan dan bertendensi menimbulkan renjatan (shock) dan kematian. Penyakit ini ditularkan melalui gigitan nyamuk aedes aegypty.
Pemberantasan vektor ini adalah dengan memutuskan rantai penularannya, yaitu pemberantasan vektor dengan bahan kimia. Masyarakat diharapkan secara aktif berperan berusaha menghindar dari gigitan nyamuk penular dengan menggunakan kelambu waktu tidur, mengoles kulit dengan obat antinyamuk, serta menghilangkan tempat perindukan dan peristirahatan nyamuk penular. Untuk menghindari vektor penyakit (nyamuk), tentu dengan menggunakan bahan kimia. Ekstrak serai (andropogen nardus) ini merupakan senyawa kimia alamiah yang dapat digunakan dalam upaya pengendalian dan pemberantasan vektor penyakit tersebut.
**
NYAMUK yang berperan sebagai vektor penyakit, biasanya diberantas dengan cara penyemprotan menggunakan insektisida sintesis sebagai racun serangga. Obat nyamuk semprot, obat nyamuk bakar, atau obat antinyamuk yang dioleskan, tentunya mengandung insektisida yang mengandung beberapa senyawa kimia.
Namun bagi mereka yang tidak tahan, insektisida ini menimbulkan bau yang menyengat dan bisa menimbulkan sesak napas atau alergi pada kulit sehingga akan berpengaruh terhadap kesehatan.
Nyamuk jenis culex sp, aedes aegypty, biasanya diberantas dengan penyemprotan racun serangga. Namun di samping adanya dampak positif — seperti dapat membunuh nyamuk penular, memunyai khasiat tergantung macam, bentuk, dan konsentrasi insektisida serta dengan masuknya ke dalam tubuh — ada pula dampak negatifnya. Di antaranya keracunan pada manusia, hewan ternak, polusi lingkungan, dan hama menjadi resisten (tahan). Di samping itu, penyemprotan dengan insektisida sintesis juga membutuhkan biaya yang cukup besar.
Berbeda dengan serai, mengandung senyawa kimia yang alamiah. Kandungan kimia tanaman serai lebih banyak dilakukan pada batang dan daun. Caranya, batang dan daun dihaluskan, lalu dicampur dengan pelarut dan menghasilkan minyak asiri yang mengandung senyawa sitral, sitronela, geraniol, mirsena, nerol, farsenol methil heptenon, dan dipentena.
**
SERAI mengandung senyawa berbentuk padat dan berbau khas. Minyak asiri yang merupakan produksi serai, terdiri dari berbagai senyawa. Salah satu senyawa yang dapat membunuh nyamuk adalah sitronela. Sitronela memunyai sifat racun (desiscant), menurut cara kerjanya racun ini seperti racun kontak yang dapat memberikan kematian karena kehilangan cairan secara terus-menerus sehingga tubuh nyamuk kekurangan cairan.
Serai dibuat dalam bentuk ekstrak. Ekstrak adalah sediaan kering, kental atau cair dibuat dengan ”menyari” simplisia nabati atau hewani menurut cara yang cocok, di luar pengaruh cahaya matahari. Ekstrak kering harus mudah digerus atau campuran etanol dari air. Yang paling mudah dengan menghaluskan bahan ekstrak (diblender), kemudian dicampur air sebagai pelarut. Pengadaan ekstrak serai dapat dilakukan dengan cara:
1. Daun dan batang serai sebanyak 1 kg, dicuci lalu ditiriskan sampai kering dan dihaluskan dengan blender.
2. Hasil blenderan kemudian dilarutkan ke dalam air sebanyak 250 ml dan direndam selama 1 malam.
3. Rendaman tersebut lalu disaring, hasilnya disimpan dalam botol dan diencerkan dengan aquadest.
Bahan inilah yang nanti digunakan dalam penyemprotan nyamuk dengan konsentrasi senyawa kimia yang cukup rendah dan alamiah. Di samping tidak mengeluarkan biaya yang cukup besar, bahan ini bisa dibuat dengan cara yang sederhana dan banyaknya cairan ini dapat disesuaikan dengan kebutuhan yang kita inginkan. (Sumber: Pikiran Rakyat).***