Oleh Wawan Gunawan
DI Kolombia, gara-gara seorang Pablo Escobar, tidak kurang dari sebelas ribu rumah digeledah untuk mencarinya. Dan, 1.700 orang yang diperkirakan ada hubungannya dengan Escobar ditangkap. Para penyelidik —lengkap dengan peralatan canggih sumbangan pemerintah AS yang telah teruji di medan perang teluk— memburunya ke segenap penjuru. Akan tetapi, sepandai-pandainya tupai melompat akhirnya jatuh juga. Inilah salah satu drama perang melawan narkoba (tepatnya gembong narkoba).
Perang melawan narkoba sepertinya sudah menjadi kesepakatan bersama, bahkan secara internasional, narkoba telah dinobatkan sebagai salah satu musuh peradaban manusia. Namun, terpikirkah oleh kita bahwa ada yang salah kaprah dalam hal itu semua.
Narkotika (selanjutnya sebut saja narkoba) telah menjadi objek salah sasaran dari common sense kita. Seolah narkoba telah menjadi momok yang amat mengerikan dan menakutkan. Kita telah salah tuding, calah caci. Padahal, narkoba sama sekali bukan pokok persoalan, bukan sasaran tembak yang sebenarnya. Jangan hardik narkoba, ia tidak dan belum pernah bersalah. Yang salah adalah sikap dan mental busuk para pemakai/pengguna narkoba. Mengapa kesalahkaprahan ini bisa terjadi?
Cara berpikir yang salah?
Benarkah hal itu merupakan refleksi dari cara berpikir kita yang salah? Atau, diam-diam cara berpikir yang salah itu sengaja dibentuk dan dipelihara agar para produsen narkoba tetap dapat mencari mangsa (pengguna). Artinya, ketika kita ribut —dan seolah sengaja dibuat ribut— untuk berperang terhadap narkoba, para produser dan pengedar narkoba dengan tenang menjerat mangsa-mangsa baru hingga ke tingkat anak-anak sekolah dasar.
Terbentuklah kemudian opini masyarakat yang benci terhadap narkoba (sebuah bentuk kebencian yang tidak pada tempatnya, salah sasaran) dan kalau toh ada pengguna dan pengedar yang tertangkap oleh aparat, bisa dipastikan adalah mereka dari kalangan kelas teri. Kalaupun suatu waktu ada kelas kakap yang terjaring, proses hukumnya menjadi raib, entah bagaimana, kasusnya menjadi buram alias tidak jelas.
Sudah saatnya ada pencerahan terhadap masyarakat agar tidak menghardik dan membenci narkoba, terutama dalam hubungannya dengan kebutuhan medis. Mulai sekarang harus ada penyuluhan yang benar dan berbasis kepada akal sehat, bukan melalui kata-kata yang menyesatkan.
Seharusnya tidak ada kalimat perang atau kampanye antinarkoba. Namun harus digalang kampanye antipenyalahgunaan narkoba. Dibangun upaya sistematis dari semua pihak agar perang terhadap mental busuk penyalahgunaan narkoba.
Artinya, kata-kata dalam poster perang terhadap narkoba sesungguhnya merupakan refleksi dari ketidakcerdasan cara berpikir. Dalam bahasa lain, apabila kita salah berpikir dan salah kaprah terhadap suatu persoalan maka selama itu kita tidak mungkin bisa menyelesaikan persoalan yang bersangkutan. Itulah sebabnya mengapa selama ini kita tidak juga mampu menyelesaikan persoalan ini. Sekali lagi, kita telah salah alamat. Kita telah salah mengidentifikasi musuh. Musuh kita bukan narkoba, musuh kita adalah mental busuk. Mental busuk semua kalangan sebab persoalan penyalahgunaan narkotika merupakan siklus yang multikompleks. Inilah sebenarnya yang harus kita jadikan musuh bersama.
Membangun kesadaran masyarakat
Dalam perspektif seperti itulah, membangunkan kesadaran masyarakat dalam relasi antiterhadap mental busuk menyalahgunakan narkoba harus segera dibentuk secara komprehensif. Dalam hal ini, peran keluarga yang dinakhodai ayah-ibu memiliki tanggung jawab yang besar dalam memberdayakan mental positif setiap anggota keluarganya. Sebab, apa pun narkoba, ia akan tidak berdampak apa-apa apabila setiap anggota keluarga telah memiliki mental positif. Tumbuhlah kemudian jenis keluarga yang bebas dari penyalahgunaan narkoba tetapi sekaligus tidak membenci narkoba.
Memang harus diakui, cara berpikir seperti ini terbilang langka. Akan tetapi harus kita yakini, cara inilah yang dapat dijadikan bekal awal dalam menahan laju penyalahgunaan narkoba di negara ini. Kemudian elemen sekolah. Inilah elemen kedua terpenting setelah keluarga, sebab pada institusi sekolah terdapat berbagai bentuk tanggung jawab terhadap keberlangsungan sekaligus perkembangan mental dan moralitas setiap anak didik.
Jangan cekoki anak dengan sikap salah kaprah terhadap narkoba. Justru setiap anak memiliki hak memperoleh pengetahuan tentang narkoba secara benar. Artinya, menumbuhkan kesadaran anak dalam rangka membangun moralitas dan mentalitas anak lebih memiliki penting ketimbang menjejali anak dengan larangan akrab pada narkoba.
Kalau kita tidak jeli mencermati fenomena yang memprihatinkan ini, kita malah akan terjerumus untuk membincangkan yang sebenarnya bukan topik bersama. Kita mengharamkan narkoba, kita takut-takuti anak-anak dengan narkoba, tetapi kita pelit terhadap informasi (barangkali kita memang tidak mengetahuinya?) tentang narkoba yang seharusnya diberikan kepada anak-anak kita. Bagaimanapun membentuk kesadaran akan bahaya penyalahgunaan narkoba jauh lebih penting ketimbang menghambur-hamburkan kalimat yang tidak efektif.
Menegakkan hukum
Di sinilah kemudian peran pemerintah —melalui lintas departemen— memiliki peran dan tanggung jawab yang sangat besar. Pemerintah harus berpikir ulang tantang bagaimana memberantas penyalahgunaan narkoba. Dalam hal ini penindakan tegas terhadap kalangan yang sengaja meraup keuntungan lewat bisnis narkoba harus diberantas sampai ke akar-akarnya. Perlihatkan kepada publik bahwa aparat penegak hukum juga berani menindak para bandar besar hingga kalau perlu menghukum mati.
Dalam konteks aparat inilah sering kita dengar praduga adanya kongkalikong antara bandar besar dengan aparat keamanan. Kita seharusnya sadar betul bahwa salah satu kunci memberantas penyalahgunaan narkoba adalah penegakan supremasi hukum. Tentu saja akan kita dapatkan dua keuntungan sekaligus apabila supremasi hukum dapat kita tegakkan.
Pertama, akan lahir efek jera dari mereka yang meraup keuntungan dari bisnis ini dan kedua, adanya kepercayaan dari masyarakat terhadap aparat penegak hukum. Selama hal penegakan hukum ini kita abaikan, selama itu pula kita tidak mungkin berharap banyak akan adanya penurunan penyalahgunaan narkoba.
Itulah sebabnya, barangkali cara kita yang salah kaprah dalam mengungkapkan kebencian kita terhadap narkoba, berbanding lurus dengan belum cakapnya aparat penegak hukum dalam menindak secara tegas mereka yang terlibat dengan segala bentuk penyalahgunaan narkoba. Ini memang patut kita sayangkan.
Jangan hardik narkoba! Perbaikilah mental busuk kita! (Sumber: Pikiran Rakyat)***
Home » All posts
Makanan Kaya Nutrisi dan Pencegah Penyakit
Oleh Agah Nugraha
PEPATAH Barat mengatakan, You are what you eat. Pepatah lama ini hingga kini masih relevan. Simak saja, sudah banyak contoh akibat pola makan yang salah mengakibatkan penyakit darah tinggi, penyakit jantung, asam urat, dan kolesterol.
Semua penyakit tersebut disebabkan mengonsumsi makanan yang mengandung kadar lemak berlebihan. Oleh karena itu, telitilah memilih makanan. Berikut ini berbagai makanan mengandung nutrisi tinggi yang baik untuk kesehatan kita dan bisa menolak datangnya penyakit.
Apel
Buah ini sangat populer dan universal. Manfaat apel antara lain mencegah kolestrol, mengurangi gejala akibat salah cerna, dan mencegah kelebihan lemak. Mengonsumsi dua buah apel setiap hari bisa mengurangi nyeri karena radang sendi, rematik, dan gout (kelainan pada metabolisme uric acid hingga menimbulkan nyeri di persendian).
Apricot
Buah yang satu ini kaya dengan beta karoten, bermanfaat untuk menyembuhkan infeksi dan menghaluskan kulit.
Avokad
Mereka yang suka mengonsumsi avokad (alpukat), teruskanlah kebiasaan ini karena buah ini kaya dengan vitamin A,B,C, dan E. Buah ini mengandung potasium yang bermanfaat untuk menetralisasi pencernaan yang jelek. Avokad mengandung monounsaturated fat atau lemak yang secara kimiawi demikian kuat sehingga mampu menyerap hidrogen tambahan, tetapi tidak sebanyak lemak tak jenuh jamak atau polyunsaturated fat. Avokad juga memproduksi banyak kolagen karena bermanfaat untuk membuat kulit mulus dan tampak awet muda. Buah ini juga baik untuk sistem sirkulasi dan berguna untuk menambah kesuburan.
Anggur
Buah ini paling cepat diserap pencernaan selain rasanya yang manis dan lezat. Oleh karena itu, anggur adalah buah utama yang disediakan di bangsal-bangsal pasien rumah sakit di negeri Barat. Anggur bermanfaat meringankan radang sendi, rematik, dan kelelahan.
Pisang
Sumber potasium, seng, zat besi, asam folic, kalsium, vitamin B6, dan serat bermanfaat untuk melancarkan sistem pencernaan dan menstruasi. Atlet yang membutuhkan suplai potasium secara instan dianjurkan mengonsumsi pisang.
Cranberry
Buah ini kaya vitamin C, zat besi, potasium, dan beta karoten. Jumlah zat besi dalam buah ini sangat baik untuk melengkapi program diet vegetarian. Sementara itu, jusnya bermanfaat untuk membasmi bakteri dan efektif untuk mengobati infeksi saluran kencing dan cystitis (radang kandung kemih).
Kentang
Mengandung banyak serat, vitamin B, mineral, dan vitamin C. Kentang yang paling baik untuk dikonsumsi adalah yang direbus atau dipanggang. Karena kaya nutrisi — khususnya potasium dan serat — kentang baik untuk kesehatan kulit.
Brokoli
Sayur berwarna hijau gelap ini sumber beta karoten, zat besi, dan serat sehingga bermanfaat untuk menyembuhkan anemia dan mereka yang sering merasa kelelahan. Brokoli juga dikenal sebagai antikanker bila dikonsumsi bersama blumkol, lobak, kol, spring green, turnip (lobak cina), dan brusell spout.
Bawang putih
Dalam dunia masak-memasak, bawang putih selalu diikutsertakan. Boleh dikatakan, setiap hidangan lezat adalah berkat andil bumbu bawang putih.
Selain melezatkan dan mengharumkan masakan, bawang putih sejak dulu dikenal sebagai salah satu ramuan obat yang manjur dan digunakan oleh para tabib semasa kekuasaan para dinasti di Cina sampai kekaisaran di Eropa.
Bawang putih yang berbau menyengat ini bisa mencegah penyakit jantung, tekanan darah tinggi, mencegah penggumpalan darah, penyebab serangan jantung, memerangi berbagai infeksi, gangguan perut, dan pencegahan kanker. Karena kemanjurannya, bawang putih dijuluki King of Healing Plants.
Minyak zaitun
Mengandung vitamin E, monounsaturated , asam lemak yang bermanfaat untuk mencegah kolesterol, menstimulasi kinerja empedu karena membantu mencernakan lemak. Minyak zaitun yang dalam pemasaran internasional disebut olive oil ini merupakan ramuan utama dalam masakan masyarakat di negara-negara Mediterania. Oleh karena itu, tak heran bila penduduk Mediterania jarang yang berpenyakit jantung.
Bawang
Bumbu dapur sehari-hari ini melindungi dan mengatur sistem sirkulasi, antibiotik yang kuat, membantu penyembuhan gangguan di dada dan perut, infeksi saluran kencing, radang sendi, rematik, gout, dan mengikis lemak dalam darah.
Yoghurt
Cairan kental berwarna putih ini bermanfaat untuk mengobati gangguan perut, seperti sembelit dan diare. Kandungan vitamin B dan kalsiumnya cocok bagi mereka yang alergi terhadap susu.
Susu dan keju
Kaya kalsium sehingga baik untuk kesehatan, tetapi buruk bagi penderita sinusitis dan mereka yang alergi susu. Bagi penderita migrain, tidak dianjurkan mengonsumsi keju, begitu pula susu skim, dan semi-skim termasuk pada anak balita.
Pasta
Makanan — seperti pizza — yang bukan berasal dari tanah air kita ini sudah menjadi jajanan bergengsi di kota-kota besar. Nah, apakah makanan asal negeri Italia ini mengandung nutrisi? Asal tidak disertai lemak dan saus, pasta lumayan bernutrisi, mengandung serat, mineral, dan vitamin B.
Itulah sebagian dari daftar panjang makanan yang bernutrisi tinggi, pandai-pandailah memilih. (Sumber: PikiranRakyat/New Idea).***
PEPATAH Barat mengatakan, You are what you eat. Pepatah lama ini hingga kini masih relevan. Simak saja, sudah banyak contoh akibat pola makan yang salah mengakibatkan penyakit darah tinggi, penyakit jantung, asam urat, dan kolesterol.
Semua penyakit tersebut disebabkan mengonsumsi makanan yang mengandung kadar lemak berlebihan. Oleh karena itu, telitilah memilih makanan. Berikut ini berbagai makanan mengandung nutrisi tinggi yang baik untuk kesehatan kita dan bisa menolak datangnya penyakit.
Apel
Buah ini sangat populer dan universal. Manfaat apel antara lain mencegah kolestrol, mengurangi gejala akibat salah cerna, dan mencegah kelebihan lemak. Mengonsumsi dua buah apel setiap hari bisa mengurangi nyeri karena radang sendi, rematik, dan gout (kelainan pada metabolisme uric acid hingga menimbulkan nyeri di persendian).
Apricot
Buah yang satu ini kaya dengan beta karoten, bermanfaat untuk menyembuhkan infeksi dan menghaluskan kulit.
Avokad
Mereka yang suka mengonsumsi avokad (alpukat), teruskanlah kebiasaan ini karena buah ini kaya dengan vitamin A,B,C, dan E. Buah ini mengandung potasium yang bermanfaat untuk menetralisasi pencernaan yang jelek. Avokad mengandung monounsaturated fat atau lemak yang secara kimiawi demikian kuat sehingga mampu menyerap hidrogen tambahan, tetapi tidak sebanyak lemak tak jenuh jamak atau polyunsaturated fat. Avokad juga memproduksi banyak kolagen karena bermanfaat untuk membuat kulit mulus dan tampak awet muda. Buah ini juga baik untuk sistem sirkulasi dan berguna untuk menambah kesuburan.
Anggur
Buah ini paling cepat diserap pencernaan selain rasanya yang manis dan lezat. Oleh karena itu, anggur adalah buah utama yang disediakan di bangsal-bangsal pasien rumah sakit di negeri Barat. Anggur bermanfaat meringankan radang sendi, rematik, dan kelelahan.
Pisang
Sumber potasium, seng, zat besi, asam folic, kalsium, vitamin B6, dan serat bermanfaat untuk melancarkan sistem pencernaan dan menstruasi. Atlet yang membutuhkan suplai potasium secara instan dianjurkan mengonsumsi pisang.
Cranberry
Buah ini kaya vitamin C, zat besi, potasium, dan beta karoten. Jumlah zat besi dalam buah ini sangat baik untuk melengkapi program diet vegetarian. Sementara itu, jusnya bermanfaat untuk membasmi bakteri dan efektif untuk mengobati infeksi saluran kencing dan cystitis (radang kandung kemih).
Kentang
Mengandung banyak serat, vitamin B, mineral, dan vitamin C. Kentang yang paling baik untuk dikonsumsi adalah yang direbus atau dipanggang. Karena kaya nutrisi — khususnya potasium dan serat — kentang baik untuk kesehatan kulit.
Brokoli
Sayur berwarna hijau gelap ini sumber beta karoten, zat besi, dan serat sehingga bermanfaat untuk menyembuhkan anemia dan mereka yang sering merasa kelelahan. Brokoli juga dikenal sebagai antikanker bila dikonsumsi bersama blumkol, lobak, kol, spring green, turnip (lobak cina), dan brusell spout.
Bawang putih
Dalam dunia masak-memasak, bawang putih selalu diikutsertakan. Boleh dikatakan, setiap hidangan lezat adalah berkat andil bumbu bawang putih.
Selain melezatkan dan mengharumkan masakan, bawang putih sejak dulu dikenal sebagai salah satu ramuan obat yang manjur dan digunakan oleh para tabib semasa kekuasaan para dinasti di Cina sampai kekaisaran di Eropa.
Bawang putih yang berbau menyengat ini bisa mencegah penyakit jantung, tekanan darah tinggi, mencegah penggumpalan darah, penyebab serangan jantung, memerangi berbagai infeksi, gangguan perut, dan pencegahan kanker. Karena kemanjurannya, bawang putih dijuluki King of Healing Plants.
Minyak zaitun
Mengandung vitamin E, monounsaturated , asam lemak yang bermanfaat untuk mencegah kolesterol, menstimulasi kinerja empedu karena membantu mencernakan lemak. Minyak zaitun yang dalam pemasaran internasional disebut olive oil ini merupakan ramuan utama dalam masakan masyarakat di negara-negara Mediterania. Oleh karena itu, tak heran bila penduduk Mediterania jarang yang berpenyakit jantung.
Bawang
Bumbu dapur sehari-hari ini melindungi dan mengatur sistem sirkulasi, antibiotik yang kuat, membantu penyembuhan gangguan di dada dan perut, infeksi saluran kencing, radang sendi, rematik, gout, dan mengikis lemak dalam darah.
Yoghurt
Cairan kental berwarna putih ini bermanfaat untuk mengobati gangguan perut, seperti sembelit dan diare. Kandungan vitamin B dan kalsiumnya cocok bagi mereka yang alergi terhadap susu.
Susu dan keju
Kaya kalsium sehingga baik untuk kesehatan, tetapi buruk bagi penderita sinusitis dan mereka yang alergi susu. Bagi penderita migrain, tidak dianjurkan mengonsumsi keju, begitu pula susu skim, dan semi-skim termasuk pada anak balita.
Pasta
Makanan — seperti pizza — yang bukan berasal dari tanah air kita ini sudah menjadi jajanan bergengsi di kota-kota besar. Nah, apakah makanan asal negeri Italia ini mengandung nutrisi? Asal tidak disertai lemak dan saus, pasta lumayan bernutrisi, mengandung serat, mineral, dan vitamin B.
Itulah sebagian dari daftar panjang makanan yang bernutrisi tinggi, pandai-pandailah memilih. (Sumber: PikiranRakyat/New Idea).***
Anting, dari Jimat hingga Aksesori
Oleh Edwin
SEKARANG hampir tidak ada wanita yang tidak mengenakan anting di telinganya sebagai ciri khas kaum hawa. Bahkan, sejak kecil pun — untuk menandai bahwa dia wanita atau lelaki — orang bisa melihat apakah dia memakai anting atau tidak .
Anting ini merupakan evolusi dari sumbat telinga yang lazim dikenakan oleh masyarakat tradisional sebagai ornamen telinga. Sumbat telinga yang pernah ditemukan pun terbuat dari berbagai bahan, misalnya di kediaman suku Ainu di Jepang bagian utara ditemukan sumbat telinga dari kain, sedangkan suku Maya di Amerika menggunakan sumbat telinga yang beragam bahannya, seperti giok, bebatuan, tulang, kerang, kayu, dan logam, dengan berbagai ukuran.
Di tanah air pun, masyarakat di Kalimantan mengenakan sumbat telinga yang berdiameter 9,5 cm, sedangkan milik suku Masai di Afrika Timur bergaris tengah 11,4 cm dan berat hingga 1,3 kg.
Namun tidak ada catatan kapan persisnya anting-anting tersebut dibuat. Baru anting yang ditemukan Ur, Mesopotamia lah yang dilabeli anting tertua. Anting dari masa 3500 SM itu berbentuk seperti cincin besar berpinggiran tipis. Diduga bentuk cincin itu merupakan bentuk asal muasal anting.
Selain di Mesir, model yang sama muncul pada masa awal berdirinya bangsa Yunani (2500-1600 SM). Malah bangsa berbudaya seni tinggi itu pula yang memperkenalkan satu bentuk anting yang serupa, yaitu Bulan Sabit. Melimpahnya persediaan emas di masa jayanya, membuat Yunani (600-4750) menghasilkan bentuk anting-anting emas yang beraneka macam, misalnya yang berbentuk perahu lengkap dengan manusia sebagai penumpangnya.
Meski anting-anting gantung dengan panjang mencapai bahu populer pada akhir masa klasik (475-330 SM), tetap saja bentuk model cincin banyak dipilih. India, misalnya, membuat model serupa namun berukuran lebih besar menjelang berakhirnya abad I SM. Tak cuma itu, sebuah lukisan Cina dari abad VII pun menggambarkan beberapa wanita mengenakan anting-anting cincin.
Namun anting sempat tenggelam dari sejarah peradaban manusia, terutama di Eropa kurang lebih abad XVII, XVIII, dan XIX. Penyebabnya, tak lain karena munculnya tren baru seperti munculnya gaya rambut, rambut palsu, dan hiasan kepala yang menutupi kepala yang menutupi telinga. Namun ketika ditemukan anting jepit, juga cara melubangi daun telinga yang tidak sakit — di abad XX — anting-anting berjaya kembali.
Sebagai aksesori, anting memang sering dipandang sebagai perhiasan ekslusif kaum wanita, seperti pada masyarakat di Asia bagian barat termasuk Israel dan Mesir kuno. Namun kenyataannya, di Yunani dan Roma kuno misalnya, pria beranting dapat segera dikenali sebagai pria dari Timur, misalnya Timur Tengah. Malah, kaum pria Eropa pada masa Renaissance (1400-1600) dan Barok (1500-1750) pernah suka mengenakan anting sebelah. Lucunya, di abad XVII dan XVII, mereka menambahnya dengan mutiara. Pemicunya konon Pangeran Inggris Charles I yang selamat dari tiang gantungan dengan mengenakan anting semacam itu.
Selain mutiara, telah sejak lama berbagai batu permata pun digunakan untuk menyemarakkan model anting-anting. Seperti kecubung, pirus, akik, dan jasper yang diikat dengan emas dan perak pada anting-anting kaum wanita Mesir. Lain lagi dengan masyarakat India yang memasukan perunggu dan emas, kemudian memadatinya dengan mutiara dan batu-batuan.
Setelah platina diperkenalkan untuk pengikat batu permata, tahun 1920-an ditemukan cara budi daya permata, terlebih saat makin berkembangnya proses produksi plastik. Hasilnya setelah PD II membanjirlah anting maupun giwang warna-warni yang tak kalah kilauannya dengan batu permata asli.
Anting-anting terus berkembang, dari fungsi sebagai jimat dan ciri khas seseorang menjadi aksesori untuk memenuhi dorongan untuk berhias yang tampaknya berlaku universal. Pemakaiannya memang didominasi kaum hawa, tetapi semakin berkembangnya mode ternyata kaum pria pun sekarang ini banyak yang memakainya walaupun hanya sekadar untuk bergaya. (Sumber: Pikiran Rakyat)***
SEKARANG hampir tidak ada wanita yang tidak mengenakan anting di telinganya sebagai ciri khas kaum hawa. Bahkan, sejak kecil pun — untuk menandai bahwa dia wanita atau lelaki — orang bisa melihat apakah dia memakai anting atau tidak .
Anting ini merupakan evolusi dari sumbat telinga yang lazim dikenakan oleh masyarakat tradisional sebagai ornamen telinga. Sumbat telinga yang pernah ditemukan pun terbuat dari berbagai bahan, misalnya di kediaman suku Ainu di Jepang bagian utara ditemukan sumbat telinga dari kain, sedangkan suku Maya di Amerika menggunakan sumbat telinga yang beragam bahannya, seperti giok, bebatuan, tulang, kerang, kayu, dan logam, dengan berbagai ukuran.
Di tanah air pun, masyarakat di Kalimantan mengenakan sumbat telinga yang berdiameter 9,5 cm, sedangkan milik suku Masai di Afrika Timur bergaris tengah 11,4 cm dan berat hingga 1,3 kg.
Namun tidak ada catatan kapan persisnya anting-anting tersebut dibuat. Baru anting yang ditemukan Ur, Mesopotamia lah yang dilabeli anting tertua. Anting dari masa 3500 SM itu berbentuk seperti cincin besar berpinggiran tipis. Diduga bentuk cincin itu merupakan bentuk asal muasal anting.
Selain di Mesir, model yang sama muncul pada masa awal berdirinya bangsa Yunani (2500-1600 SM). Malah bangsa berbudaya seni tinggi itu pula yang memperkenalkan satu bentuk anting yang serupa, yaitu Bulan Sabit. Melimpahnya persediaan emas di masa jayanya, membuat Yunani (600-4750) menghasilkan bentuk anting-anting emas yang beraneka macam, misalnya yang berbentuk perahu lengkap dengan manusia sebagai penumpangnya.
Meski anting-anting gantung dengan panjang mencapai bahu populer pada akhir masa klasik (475-330 SM), tetap saja bentuk model cincin banyak dipilih. India, misalnya, membuat model serupa namun berukuran lebih besar menjelang berakhirnya abad I SM. Tak cuma itu, sebuah lukisan Cina dari abad VII pun menggambarkan beberapa wanita mengenakan anting-anting cincin.
Namun anting sempat tenggelam dari sejarah peradaban manusia, terutama di Eropa kurang lebih abad XVII, XVIII, dan XIX. Penyebabnya, tak lain karena munculnya tren baru seperti munculnya gaya rambut, rambut palsu, dan hiasan kepala yang menutupi kepala yang menutupi telinga. Namun ketika ditemukan anting jepit, juga cara melubangi daun telinga yang tidak sakit — di abad XX — anting-anting berjaya kembali.
Sebagai aksesori, anting memang sering dipandang sebagai perhiasan ekslusif kaum wanita, seperti pada masyarakat di Asia bagian barat termasuk Israel dan Mesir kuno. Namun kenyataannya, di Yunani dan Roma kuno misalnya, pria beranting dapat segera dikenali sebagai pria dari Timur, misalnya Timur Tengah. Malah, kaum pria Eropa pada masa Renaissance (1400-1600) dan Barok (1500-1750) pernah suka mengenakan anting sebelah. Lucunya, di abad XVII dan XVII, mereka menambahnya dengan mutiara. Pemicunya konon Pangeran Inggris Charles I yang selamat dari tiang gantungan dengan mengenakan anting semacam itu.
Selain mutiara, telah sejak lama berbagai batu permata pun digunakan untuk menyemarakkan model anting-anting. Seperti kecubung, pirus, akik, dan jasper yang diikat dengan emas dan perak pada anting-anting kaum wanita Mesir. Lain lagi dengan masyarakat India yang memasukan perunggu dan emas, kemudian memadatinya dengan mutiara dan batu-batuan.
Setelah platina diperkenalkan untuk pengikat batu permata, tahun 1920-an ditemukan cara budi daya permata, terlebih saat makin berkembangnya proses produksi plastik. Hasilnya setelah PD II membanjirlah anting maupun giwang warna-warni yang tak kalah kilauannya dengan batu permata asli.
Anting-anting terus berkembang, dari fungsi sebagai jimat dan ciri khas seseorang menjadi aksesori untuk memenuhi dorongan untuk berhias yang tampaknya berlaku universal. Pemakaiannya memang didominasi kaum hawa, tetapi semakin berkembangnya mode ternyata kaum pria pun sekarang ini banyak yang memakainya walaupun hanya sekadar untuk bergaya. (Sumber: Pikiran Rakyat)***
Hubungan Kesenian dan Perilaku Anak
Oleh Adelia
ANAK memang dapat diibaratkan seperti kertas putih, masih bersih dan belum ternoda. Orangtualah yang pertama kali memberinya warna.
KALIMAT di atas sering diucapkan oleh pemuka agama pada acara syukuran atas kelahiran atau pemberian nama bayi. Ucapan tersebut sekaligus untuk mengingatkan tugas dan tanggung jawab orangtua terhadap anaknya.
Meskipun demikian, kenyataannya banyak orangtua sering bersikap apatis terhadap tugasnya dalam membangun kepribadian anak. Dalam hal ini, banyak orangtua yang berpandangan sempit tentang tugas dan tanggung jawabnya terhadap anak, yakni sebatas memberi nafkah (pangan, sandang, dan papan), sedangkan tugas mendidik sepenuhnya diserahkan kepada pihak sekolah (guru).
Kenyataan tersebut menunjukkan, anak akhirnya berkembang tanpa campur tangan orangtua. Oleh karenanya, jangan heran jika suatu saat orangtua pun terkejut ketika melihat anaknya berperilaku buruk, misalnya suka berkata jorok, bertindak kasar, dan berperilaku jahat.
Dari mana dia belajar keburukan-keburukan tersebut? Inilah pertanyaan yang sering diucapkan orangtua karena terkejut melihat anaknya bersikap dan berperilaku buruk. Pertanyaan demikian bisa jadi merupakan ungkapan penyesalan orangtua yang dapat dikatakan sudah terlambat.
Yang jelas, ungkapan anak yang berkonotasi kotor tadi bukan dari lingkungan sekolah, tetapi kebanyakan dari lingkungan pergaulannya di luar sekolah. Masalahnya, masa sekolah pun sangat terbatas.
Memanfaatkan kesenian
Jika orangtua sudah terlambat menyesali perkembangan kepribadian anaknya yang cenderung buruk, sebaiknya segera memanfaatkan seni untuk memperbaikinya. Dalam hal ini, orangtua perlu merangsang anak untuk menyukai jenis-jenis kesenian yang diminatinya.
Misalnya, jika anak berminat belajar memainkan alat musik tertentu, gitar misalnya, orangtua sebaiknya berusaha membelikannya. Atau jika anak berminat belajar melukis, orangtua pun sebaiknya segera membelikan alat-alat untuk melukis yang dibutuhkan anak.
Jika anak sudah dapat menyalurkan minatnya terhadap kesenian di rumah, dengan sendirinya akan betah berada di lingkungan rumah. Di samping itu, anak yang asyik menyukai berkesenian biasanya cenderung peka. Dalam hal ini, orangtua dapat menyusun strategi yang bijak untuk mendekatinya agar bisa membangun kepribadiannya sesuai dengan yang diharapkan.
Jika anak sudah telanjur memiliki sikap dan perilaku buruk, orangtua sebaiknya berusaha mengikisnya sedikit demi sedikit melalui kritikan. Misalnya, orangtua bisa melontarkan kritikan kepada anak yang suka berkata jorok.
Jika orangtua menyampaikan kritikan dengan lembut ketika anak sedang asyik berkesenian di rumah, tentu akan diperhatikan oleh anak sehingga anak akan menyadari keburukannya.
Anak ”jinak”
Di tengah kondisi sosial yang serba mencemaskan seperti sekarang, anak-anak tentu lebih aman menghabiskan waktunya di rumah, selain belajar di sekolah atau di tempat kursus. Untuk membuatnya betah di rumah, orangtua harus dapat membuatnya menjadi penurut. Maksud dalam hal ini, anak ”jinak” berarti anak yang mudah didekati dan diajak bersahabat oleh orangtua.
Dalam praktiknya, membuat anak ”jinak” memang bukan hal yang sulit jika suasana rumah dapat memberikan kegembiraan bagi anak. Sedangkan kegembiraan di rumah, salah satunya bisa diwujudkan dengan berkesenian.
Akan tetapi, bagaimana jika si anak tidak berminat sama sekali terhadap bidang seni? Dalam hal ini orangtua tetap bisa merangsangnya untuk berkesenian. Misalnya, orangtua membeli gitar atau piano.
Sebab, menurut beberapa hasil penelitian, adanya alat-alat musik seperti gitar atau piano di rumah, cepat atau lambat akan membuat anak tertarik untuk belajar memainkannya. Jika anak sudah bisa memainkan alat musik, biasanya akan berusaha untuk lebih mahir dengan rajin belajar secara tekun dan serius.
Maka, tidak berlebihan pernyataan Mozart bahwa seni —khususnya seni musik— bisa menjinakkan manusia di segala usia dan di sepanjang zaman. Konon, Hitler dan Nero pun yang terkenal sangat bengis itu, ternyata sejak kecil memang ”liar” karena tidak pernah dirangsang untuk menyukai kesenian oleh orangtuanya ketika di rumah. (Sumber: Pikiran Rakyat)***
ANAK memang dapat diibaratkan seperti kertas putih, masih bersih dan belum ternoda. Orangtualah yang pertama kali memberinya warna.
KALIMAT di atas sering diucapkan oleh pemuka agama pada acara syukuran atas kelahiran atau pemberian nama bayi. Ucapan tersebut sekaligus untuk mengingatkan tugas dan tanggung jawab orangtua terhadap anaknya.
Meskipun demikian, kenyataannya banyak orangtua sering bersikap apatis terhadap tugasnya dalam membangun kepribadian anak. Dalam hal ini, banyak orangtua yang berpandangan sempit tentang tugas dan tanggung jawabnya terhadap anak, yakni sebatas memberi nafkah (pangan, sandang, dan papan), sedangkan tugas mendidik sepenuhnya diserahkan kepada pihak sekolah (guru).
Kenyataan tersebut menunjukkan, anak akhirnya berkembang tanpa campur tangan orangtua. Oleh karenanya, jangan heran jika suatu saat orangtua pun terkejut ketika melihat anaknya berperilaku buruk, misalnya suka berkata jorok, bertindak kasar, dan berperilaku jahat.
Dari mana dia belajar keburukan-keburukan tersebut? Inilah pertanyaan yang sering diucapkan orangtua karena terkejut melihat anaknya bersikap dan berperilaku buruk. Pertanyaan demikian bisa jadi merupakan ungkapan penyesalan orangtua yang dapat dikatakan sudah terlambat.
Yang jelas, ungkapan anak yang berkonotasi kotor tadi bukan dari lingkungan sekolah, tetapi kebanyakan dari lingkungan pergaulannya di luar sekolah. Masalahnya, masa sekolah pun sangat terbatas.
Memanfaatkan kesenian
Jika orangtua sudah terlambat menyesali perkembangan kepribadian anaknya yang cenderung buruk, sebaiknya segera memanfaatkan seni untuk memperbaikinya. Dalam hal ini, orangtua perlu merangsang anak untuk menyukai jenis-jenis kesenian yang diminatinya.
Misalnya, jika anak berminat belajar memainkan alat musik tertentu, gitar misalnya, orangtua sebaiknya berusaha membelikannya. Atau jika anak berminat belajar melukis, orangtua pun sebaiknya segera membelikan alat-alat untuk melukis yang dibutuhkan anak.
Jika anak sudah dapat menyalurkan minatnya terhadap kesenian di rumah, dengan sendirinya akan betah berada di lingkungan rumah. Di samping itu, anak yang asyik menyukai berkesenian biasanya cenderung peka. Dalam hal ini, orangtua dapat menyusun strategi yang bijak untuk mendekatinya agar bisa membangun kepribadiannya sesuai dengan yang diharapkan.
Jika anak sudah telanjur memiliki sikap dan perilaku buruk, orangtua sebaiknya berusaha mengikisnya sedikit demi sedikit melalui kritikan. Misalnya, orangtua bisa melontarkan kritikan kepada anak yang suka berkata jorok.
Jika orangtua menyampaikan kritikan dengan lembut ketika anak sedang asyik berkesenian di rumah, tentu akan diperhatikan oleh anak sehingga anak akan menyadari keburukannya.
Anak ”jinak”
Di tengah kondisi sosial yang serba mencemaskan seperti sekarang, anak-anak tentu lebih aman menghabiskan waktunya di rumah, selain belajar di sekolah atau di tempat kursus. Untuk membuatnya betah di rumah, orangtua harus dapat membuatnya menjadi penurut. Maksud dalam hal ini, anak ”jinak” berarti anak yang mudah didekati dan diajak bersahabat oleh orangtua.
Dalam praktiknya, membuat anak ”jinak” memang bukan hal yang sulit jika suasana rumah dapat memberikan kegembiraan bagi anak. Sedangkan kegembiraan di rumah, salah satunya bisa diwujudkan dengan berkesenian.
Akan tetapi, bagaimana jika si anak tidak berminat sama sekali terhadap bidang seni? Dalam hal ini orangtua tetap bisa merangsangnya untuk berkesenian. Misalnya, orangtua membeli gitar atau piano.
Sebab, menurut beberapa hasil penelitian, adanya alat-alat musik seperti gitar atau piano di rumah, cepat atau lambat akan membuat anak tertarik untuk belajar memainkannya. Jika anak sudah bisa memainkan alat musik, biasanya akan berusaha untuk lebih mahir dengan rajin belajar secara tekun dan serius.
Maka, tidak berlebihan pernyataan Mozart bahwa seni —khususnya seni musik— bisa menjinakkan manusia di segala usia dan di sepanjang zaman. Konon, Hitler dan Nero pun yang terkenal sangat bengis itu, ternyata sejak kecil memang ”liar” karena tidak pernah dirangsang untuk menyukai kesenian oleh orangtuanya ketika di rumah. (Sumber: Pikiran Rakyat)***
Dibalik Gurihnya Minyak Goreng : Jelantah, Merangsang Kanker Kolon
Oleh Yuga Pramita
MAU laku dagang makanan? Gampang, cantumkanlah dalam labelnya bebas atau nonkolesterol. Kalau tidak percaya, tanyalah pada penjual kacang. Bebas kolesterol rupanya telah dianggap ungkapan sakti. Produk yang mencantumkan ”gelar” itu dianggap bakal laris atau paling tidak bisa menjatuhkan saingannya.
Begitu pun pada minyak goreng, tapi mungkin lantaran sudah dianggap umum dan semua orang tahu bahwa kolesterol bukan berasal dari bahan nabati, persaingan rayuan lalu meningkat, meluncurkan kata-kata manis seperti ”Penyaringan dua kali”, ”Mengandung omega-9”; ”Sejernih akal sehat”; dan sebagainya.
Meski sebetulnya kurang memiliki arti — karena sebagian besar masyarakat Indonesia menggunakannya untuk menggoreng — bagi konsumen awam, rayuan tersebut bisa membuatnya terjebak.
Sama saja
Bahan dasar minyak goreng bisa bemacam-macam: kelapa, sawit, kedelai, jagung, dan lain-lain. Meski beragam, secara kimia isi kandungannya sebetulnya tak jauh beda, yakni terdiri dari beraneka asam lemak jenuh (ALJ) dan asam lemak tidak jenuh (ALTJ). Dalam jumlah kecil kemungkinan terdapat juga lesitin, cephalin, fosfatida lain, sterol, asam lemak bebas, lilin, pigmen larut lemak, dan hidrokarbon, termasuk karbohidrat dan protein. Hal yang kemudian berbeda adalah kompisisinya. Minyak sawit mengandung sekira 45,5% ALJ yang didominasi asam lemak palmitat dan sekira 54,1% ALTJ yang didominasi asam lemak oleat —sering juga disebut omega-9. Minyak kelapa mengandung 80% ALJ dan 20% ALTJ, sementara minyak zaitun dan minyak biji bunga matahari hampir 9% komposisinya adalah ALTJ.
Oleh pemrosesan, tampilan minyak goreng bisa berbeda juga, ada yang jernih dan ada yang keruh. Supaya tidak mudah teroksidasi, beberapa produsen kerap menambahkan antioksidan ke dalam produknya.
Perbedaan tersebut bisa berpengaruh terhadap kesehatan pengkonsumsinya. Dicontohkan Prof.Dr. Ali Khomsan —Dosen Pascasarjana Jurusan Gizi Masyarakat dan Sumber Daya Keluarga, Fakultas Pertanian Bogor— berdasar hasil penelitian mahasiswanya pada kelinci percobaan, kelinci yang diberi makanan mengandung minyak sawit menunjukkan penurunan kolesterol yang tajam dibandingkan dengan kelinci yang diberi makanan mengandung minyak kelapa (”Republika”, 15/2). Dengan kata lain, kalau anda ingin buru-buru menurunkan kolesterol maka pilihlah minyak goreng yang mengandung ALTJ tinggi.
Akan tetapi, ceritanya jadi lain manakala minyak tersebut dimanfaatkan sebagai media penggorengan —bukan minyak makan seperti bumbu salad atau bahan dasar may onaise. Prof. Dr. Tien Muchtadi, pengajar teknologi pangan dan gizi, Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor mengatakan ketika dipakai menggoreng, semua minyak sama sehatnya untuk orang yang tidak sensitif terhadap asam lemak darah. Alasannya, pada suhu penggorengan (200 derajat Celcius), rantai kimia minyak akan terurai. Dengan demikian, penggunaan minyak nabati yang diklaim tinggi asam lemak tak jenuhnya seperti minyak jagung, minyak bunga matahari, dan minyak kedelai sebenarnya tidak memberikan banyak manfaat (”Kompas”, 23/7). Demikian juga dengan minyak yang disaring dua kali yang tampilannya jernih atau yang telah ditambahkan antioksidan.
Jadi, jika anda ingin merasakan manfaat maksimal bagi kesehatan dari perbedaan minyak goreng, minyak tersebut sebaiknya diminum langsung atau tidak digunakan sebagai media penggorengan.
Efek negatif
Penggunaan minyak sebagai media penggorengan bisa menjadi makanan gurih dan renyah, namun pada bahan makanan tertentu perlakuan tersebut justru dapat merugikan. Beberapa zat gizi yang dikandungnya bisa rusak karena tidak tahan terhadap panasnya. Bahan makanan kaya omega-3 —yang diketahui dapat menurunkan kadar kolesterol darah— akan tidak berkhasiat bila digoreng sebab komposisi ikatan rangkapnya rusak.
Di sisi lain, rupanya tidak setiap orang bisa menikmati kegurihan dan kerenyahan itu dalam jangka panjang. Periset Australia menemukan, makanan dengan margarin dan minyak nabati tinggi ternyata bisa melipatduakan kemungkinan anak-anak untuk menderita asma. Kesimpulan diperoleh berdasar penelitian pada orang tua dari 1.000 anak usia 3-5 tahun.
Menurut Dr. Michele Haby, peneliti Royal Children’s Hospital Melbourne dan pimpinan penelitian, seperlima anak-anak itu mengalami asma dan risiko untuk mendapat asma menjadi dua kali lipat jika orangnya juga mengidapnya (koran ”Tempo”, 20/7/2001).
Bagi mereka yang sudah menderita gangguan hiperlipidemia, dianjurkan Walujo Soerjodibroto —Dosen bagian Gizi FKUI dan dokter ahli Gizi Rumah Sakit Tebet Jakarta— untuk menjauhi semua jenis minyak goreng karena akan memancing terjadinya pembentukan kolesterol yang berlebihan pada tubuh. (”Kompas”, 8/1/1995).
Minyak rusak
Terutama oleh pedagang goreng-gorengan pinggir jalan, minyak goreng sering dipakai berulang-kali tak peduli apakah warnanya sudah ubah —menjadi coklat tua sampai hitam— atau belum. Alasan yang diketemukan simpel saja, demi mengirit biaya produksi. Minyak yang telah dipakai menggoreng biasa disebut minyak jelantah. Kebanyakan minyak jelantah sebenarnya merupakan minyak yang telah rusak.
Minyak yang tinggi kandungan LTJ-nya memiliki nilai tambah hanya pada gorengan pertama saja, sementara yang tinggi ALJ-nya bisa lebih lama lagi, meski pada akhirnya akan rusak juga. Oleh proses penggorengan sebagian ikatan rangkap akan menjadi jenuh. Penggunaan yang lama dan berkali-kali dapat menyebabkan ikatan rangkap teroksidasi, membentuk gugus peroksida dan monomer siklik. Penelitian pada binatang menunjukkan gugus peroksida dalam dosis yang besar dapat merangsang terjadinya kanker kolon,
tapi kerusakan tidak hanya terjadi karena dipakai menggoreng. Penyimpanan yang salah dalam jangka waktu tertentu dapat menyebabkannya pula karena pecahnya ikatan trigliserida menjadi gliserol dan asam lemak bebas (free fatty acid/ FFA). Selain menyebabkan tengik, FFA juga bisa menaikkan kolesterol darah.
Kerusakan minyak tidak bisa dicegah, namun dapat diperlambat dengan memperhatikan beberapa faktor yang mempengaruhinya. Pertama, oksigen. Semakin banyak oksigen semakin cepat teroksidasi; Kedua, ikatan rangkap. Semakin banyak ALTJ-nya semakin mudah teroksidasi; Ketiga, suhu. Suhu penggorengan dan penyimpanan yang tinggi akan mempercepat reaksi; Keempat, cahaya serta ion logam tembaga (Cu++) dan besi (Fe++) yang merupakan faktor katalis proses oksidasi; dan Kelima, antioksidan. Semakin tinggi antioksidan ditambahkan semakin tahan terhadap oksidasi.
Meski demikian bukan berarti minyak rusak tidak dapat membuat makanan lezat. Faridatus Saa’adah dkk. dari SMU BPTT Lamongan —juara III LKIR tingkat nasional beberapa waktu lalu— telah membuktikan, pengolahan kembali dengan mencampurkan perasan buah mengkudu dapat meningkatkan mutu minyak rusak (”Republika”, 12/4).
Caranya: Buah mengkudu masak —satu mengkudu untuk seperempat liter minyak— ditumbuk dan diperas untuk diambil sarinya. Sari ini lalu dicampur minyak goreng yang telah berulangkali dipakai. Setelah tercampur dibiarkan selama kurang 5 sampai 10 menit, selanjutnya diendapkan, dipanaskan pada suhu 50 derajat Celcius, dan terakhir disaring.
Bahan lain yang juga mampu berbuat hal serupa adalah arang tempurung dan lidah buaya. Subetty, siswa SMU Stela Duce 1 Yogyakarta —pemenang I bidang teknologi LKIR-LIPI tahun 2001— berdasar penelitiannya menyimpulkan, perendaman arang tempurung dan lidah buaya dalam minyak jelantah sisa penggorengan selama 24 jam, terbukti memperbaiki kualitas khemis maupun fisik minyak. Bahan yang terbukti lebih baik dalam meningkatkan kualitas minyak adalah lidah buaya (”Republika”, 25/2). Perlakuan itu dapat menurunkan dampak negatif terhadap kesehatan meliputi penurunan FFA sebanyak 58,3% dan penurunan angka peroksida sebesar 75%.(Sumber: Pikiran Rakyat)***
MAU laku dagang makanan? Gampang, cantumkanlah dalam labelnya bebas atau nonkolesterol. Kalau tidak percaya, tanyalah pada penjual kacang. Bebas kolesterol rupanya telah dianggap ungkapan sakti. Produk yang mencantumkan ”gelar” itu dianggap bakal laris atau paling tidak bisa menjatuhkan saingannya.
Begitu pun pada minyak goreng, tapi mungkin lantaran sudah dianggap umum dan semua orang tahu bahwa kolesterol bukan berasal dari bahan nabati, persaingan rayuan lalu meningkat, meluncurkan kata-kata manis seperti ”Penyaringan dua kali”, ”Mengandung omega-9”; ”Sejernih akal sehat”; dan sebagainya.
Meski sebetulnya kurang memiliki arti — karena sebagian besar masyarakat Indonesia menggunakannya untuk menggoreng — bagi konsumen awam, rayuan tersebut bisa membuatnya terjebak.
Sama saja
Bahan dasar minyak goreng bisa bemacam-macam: kelapa, sawit, kedelai, jagung, dan lain-lain. Meski beragam, secara kimia isi kandungannya sebetulnya tak jauh beda, yakni terdiri dari beraneka asam lemak jenuh (ALJ) dan asam lemak tidak jenuh (ALTJ). Dalam jumlah kecil kemungkinan terdapat juga lesitin, cephalin, fosfatida lain, sterol, asam lemak bebas, lilin, pigmen larut lemak, dan hidrokarbon, termasuk karbohidrat dan protein. Hal yang kemudian berbeda adalah kompisisinya. Minyak sawit mengandung sekira 45,5% ALJ yang didominasi asam lemak palmitat dan sekira 54,1% ALTJ yang didominasi asam lemak oleat —sering juga disebut omega-9. Minyak kelapa mengandung 80% ALJ dan 20% ALTJ, sementara minyak zaitun dan minyak biji bunga matahari hampir 9% komposisinya adalah ALTJ.
Oleh pemrosesan, tampilan minyak goreng bisa berbeda juga, ada yang jernih dan ada yang keruh. Supaya tidak mudah teroksidasi, beberapa produsen kerap menambahkan antioksidan ke dalam produknya.
Perbedaan tersebut bisa berpengaruh terhadap kesehatan pengkonsumsinya. Dicontohkan Prof.Dr. Ali Khomsan —Dosen Pascasarjana Jurusan Gizi Masyarakat dan Sumber Daya Keluarga, Fakultas Pertanian Bogor— berdasar hasil penelitian mahasiswanya pada kelinci percobaan, kelinci yang diberi makanan mengandung minyak sawit menunjukkan penurunan kolesterol yang tajam dibandingkan dengan kelinci yang diberi makanan mengandung minyak kelapa (”Republika”, 15/2). Dengan kata lain, kalau anda ingin buru-buru menurunkan kolesterol maka pilihlah minyak goreng yang mengandung ALTJ tinggi.
Akan tetapi, ceritanya jadi lain manakala minyak tersebut dimanfaatkan sebagai media penggorengan —bukan minyak makan seperti bumbu salad atau bahan dasar may onaise. Prof. Dr. Tien Muchtadi, pengajar teknologi pangan dan gizi, Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor mengatakan ketika dipakai menggoreng, semua minyak sama sehatnya untuk orang yang tidak sensitif terhadap asam lemak darah. Alasannya, pada suhu penggorengan (200 derajat Celcius), rantai kimia minyak akan terurai. Dengan demikian, penggunaan minyak nabati yang diklaim tinggi asam lemak tak jenuhnya seperti minyak jagung, minyak bunga matahari, dan minyak kedelai sebenarnya tidak memberikan banyak manfaat (”Kompas”, 23/7). Demikian juga dengan minyak yang disaring dua kali yang tampilannya jernih atau yang telah ditambahkan antioksidan.
Jadi, jika anda ingin merasakan manfaat maksimal bagi kesehatan dari perbedaan minyak goreng, minyak tersebut sebaiknya diminum langsung atau tidak digunakan sebagai media penggorengan.
Efek negatif
Penggunaan minyak sebagai media penggorengan bisa menjadi makanan gurih dan renyah, namun pada bahan makanan tertentu perlakuan tersebut justru dapat merugikan. Beberapa zat gizi yang dikandungnya bisa rusak karena tidak tahan terhadap panasnya. Bahan makanan kaya omega-3 —yang diketahui dapat menurunkan kadar kolesterol darah— akan tidak berkhasiat bila digoreng sebab komposisi ikatan rangkapnya rusak.
Di sisi lain, rupanya tidak setiap orang bisa menikmati kegurihan dan kerenyahan itu dalam jangka panjang. Periset Australia menemukan, makanan dengan margarin dan minyak nabati tinggi ternyata bisa melipatduakan kemungkinan anak-anak untuk menderita asma. Kesimpulan diperoleh berdasar penelitian pada orang tua dari 1.000 anak usia 3-5 tahun.
Menurut Dr. Michele Haby, peneliti Royal Children’s Hospital Melbourne dan pimpinan penelitian, seperlima anak-anak itu mengalami asma dan risiko untuk mendapat asma menjadi dua kali lipat jika orangnya juga mengidapnya (koran ”Tempo”, 20/7/2001).
Bagi mereka yang sudah menderita gangguan hiperlipidemia, dianjurkan Walujo Soerjodibroto —Dosen bagian Gizi FKUI dan dokter ahli Gizi Rumah Sakit Tebet Jakarta— untuk menjauhi semua jenis minyak goreng karena akan memancing terjadinya pembentukan kolesterol yang berlebihan pada tubuh. (”Kompas”, 8/1/1995).
Minyak rusak
Terutama oleh pedagang goreng-gorengan pinggir jalan, minyak goreng sering dipakai berulang-kali tak peduli apakah warnanya sudah ubah —menjadi coklat tua sampai hitam— atau belum. Alasan yang diketemukan simpel saja, demi mengirit biaya produksi. Minyak yang telah dipakai menggoreng biasa disebut minyak jelantah. Kebanyakan minyak jelantah sebenarnya merupakan minyak yang telah rusak.
Minyak yang tinggi kandungan LTJ-nya memiliki nilai tambah hanya pada gorengan pertama saja, sementara yang tinggi ALJ-nya bisa lebih lama lagi, meski pada akhirnya akan rusak juga. Oleh proses penggorengan sebagian ikatan rangkap akan menjadi jenuh. Penggunaan yang lama dan berkali-kali dapat menyebabkan ikatan rangkap teroksidasi, membentuk gugus peroksida dan monomer siklik. Penelitian pada binatang menunjukkan gugus peroksida dalam dosis yang besar dapat merangsang terjadinya kanker kolon,
tapi kerusakan tidak hanya terjadi karena dipakai menggoreng. Penyimpanan yang salah dalam jangka waktu tertentu dapat menyebabkannya pula karena pecahnya ikatan trigliserida menjadi gliserol dan asam lemak bebas (free fatty acid/ FFA). Selain menyebabkan tengik, FFA juga bisa menaikkan kolesterol darah.
Kerusakan minyak tidak bisa dicegah, namun dapat diperlambat dengan memperhatikan beberapa faktor yang mempengaruhinya. Pertama, oksigen. Semakin banyak oksigen semakin cepat teroksidasi; Kedua, ikatan rangkap. Semakin banyak ALTJ-nya semakin mudah teroksidasi; Ketiga, suhu. Suhu penggorengan dan penyimpanan yang tinggi akan mempercepat reaksi; Keempat, cahaya serta ion logam tembaga (Cu++) dan besi (Fe++) yang merupakan faktor katalis proses oksidasi; dan Kelima, antioksidan. Semakin tinggi antioksidan ditambahkan semakin tahan terhadap oksidasi.
Meski demikian bukan berarti minyak rusak tidak dapat membuat makanan lezat. Faridatus Saa’adah dkk. dari SMU BPTT Lamongan —juara III LKIR tingkat nasional beberapa waktu lalu— telah membuktikan, pengolahan kembali dengan mencampurkan perasan buah mengkudu dapat meningkatkan mutu minyak rusak (”Republika”, 12/4).
Caranya: Buah mengkudu masak —satu mengkudu untuk seperempat liter minyak— ditumbuk dan diperas untuk diambil sarinya. Sari ini lalu dicampur minyak goreng yang telah berulangkali dipakai. Setelah tercampur dibiarkan selama kurang 5 sampai 10 menit, selanjutnya diendapkan, dipanaskan pada suhu 50 derajat Celcius, dan terakhir disaring.
Bahan lain yang juga mampu berbuat hal serupa adalah arang tempurung dan lidah buaya. Subetty, siswa SMU Stela Duce 1 Yogyakarta —pemenang I bidang teknologi LKIR-LIPI tahun 2001— berdasar penelitiannya menyimpulkan, perendaman arang tempurung dan lidah buaya dalam minyak jelantah sisa penggorengan selama 24 jam, terbukti memperbaiki kualitas khemis maupun fisik minyak. Bahan yang terbukti lebih baik dalam meningkatkan kualitas minyak adalah lidah buaya (”Republika”, 25/2). Perlakuan itu dapat menurunkan dampak negatif terhadap kesehatan meliputi penurunan FFA sebanyak 58,3% dan penurunan angka peroksida sebesar 75%.(Sumber: Pikiran Rakyat)***
Awet Muda Berkat Bahan Alami
Oleh Nyoman Dira
GERAKAN kembali ke alam tengah melanda hampir seluruh bagian dunia. Di tanah air, minat masyarakat untuk kembali menggunakan bahan-bahan alamiah semakin banyak. Tidak ketinggalan dalam hal perawatan tubuh, orang makin tertarik menggunakan bahan alamiah karena dipercaya berkhasiat tinggi serta hampir tidak menimbulkan akibat sampingan.
Setelah sekian lama terlena oleh kehadiran produk berbahan kimiawi yang cukup menarik, orang hampir saja melupakan bahwa di bumi Nusantara ini sebetulnya terdapat begitu banyak materi alami yang mudah diperoleh dan memiliki keampuhan tidak kalah dengan bahan kimiawi.
Tidak hanya untuk pengobatan, berbagai bahan alami asli Indonesia pun bermanfaat untuk perawatan rambut hingga ujung kaki. Bagi mereka yang mendambakan tetap awet muda meski usia terus merambat, banyak materi alam yang mampu membantunya. Pemanfaatan sejak dini dan secara terus-menerus diyakini banyak orang akan menghasilkan kondisi seperti yang diidamkan.
Ternyata bermacam hasil alam Indonesia berupa dedaunan, akar-akaran, atau buah-buahan yang tampak sepele dan tidak berguna dapat membantu mereka yang ingin tetap tampak muda, segar, dan berseri. Walaupun lebih banyak pendapat yang cenderung apriori terhadap manfaat buah-buahan itu, namun ternyata cukup bukti. Hal yang semua dipandang sebagai mitos belaka, kini menampakkan hasil nyata.
Menghaluskan muka dan leher
Untuk menikmati kehidupan yang merupakan anugerah Tuhan, manusia perlu merawat dan memperindah tubuhnya. Dengan memelihara karunia Tuhan itu hidup akan lebih harmoni serta bahagia. Apalagi alam memang disiapkan lengkap dengan bahan alami yang berguna untuk perawatan seluruh tubuh.
Mata
Agar mata senantiasa bersinar cemerlang dapat digunakan daya alam yang terkandung dalam berbagai tanaman seperti teh, randu, dan melati. Air teh kadaluwarsa jika digunakan untuk merambang akan menghasilkan mata nan cerah penuh pesona. Rebusan air sirih juga punya manfaat sama jika dipakai untuk merambang mata. Air rendaman melati yang telah diinapkan semalaman baik untuk merawat mata agar tetap cemerlang. Minyak jarak memiliki khasiat mencegah keriput di seputar mata. Pijatlah kulit sekitar mata dengan menggunakan minyak jarak setiap malam.
Rambut
Sementara itu untuk memelihara keindahan mahkota rambut dapat digunakan orang-aring, daun mangkokan, atau lidah buaya. Manfaatkan lendir dari daun lidah buaya untuk pijat kulit kepala agar rambut tumbuh subur hitam dan lebat. Ramuan orang-aring atau daun mangkokan yang dicampur minyak kelapa memiliki khasiat sama.
Air perasan wortel yang digunakan untuk massage kulit kepala bermanfaat untuk mencegah kerontokan. Biarkan semalam dan keramas esok harinya. Bawang merah yang dihaluskan dan dicampur dengan air matang juga memiliki khasiat sama untuk merawat rambut.
Untuk mengatasi rambut beruban, gunakan biji pepaya yang disangrai, kemudian tumbuk halus dan dicampur dengan minyak kelapa. Oleskan ramuan itu pada seluruh rambut dan kulit kepala. Bungkus rambut dengan handuk, biarkan selama dua jam, kemudian bersihkan. Jika rutin melakukannya seminggu sekali, uban pun akan lenyap dan rambut hitam kembali.
Kulit wajah dan leher
Alam disiapkan oleh Sang Pencipta demi kecantikan serta kehalusan kulit muka dan leher. Bahan alami seperti mentimun, susu sapi, jeruk nipis, minyak bulus, bawang putih, bawang merah, asam, dan lengkuas sangat bermanfaat untuk menghaluskan muka dan leher. Madu bermanfaat untuk mengencangkan kulit muka jika Anda rajin memanfaatkannya untuk massage. Sesudahnya cuci muka dengan air hangat dan oleskan air jeruk nipis atau tomat. Cara yang sama, tetapi mengganti madu dengan minyak bulus cara lain untuk perawatan kulit wajah. Jika minyak bulus yang dipakai, sesudahnya usapi kulit muka dengan minyak kenanga atau minyak tanjung. Jika rutin mencuci muka dengan air teh kadaluwarsa, bisa menghasilkan muka yang bersih halus berseri.
Kebiasaan memasker muka dengan mentimun menghasilkan kulit halus mulus. Cara lain, oleskan remasan bunga mawar pada kulit wajah. Biasakan ini pada pagi hari ketika bunga masih mengandung embun. Ternyata putih telur pun merupakan bahan masker yang baik. Oleskan putih telur pada kulit wajah, diamkan 10 menit baru bersihkan dengan air hangat. Cukup lakukan sebulan sekali.
Jangan risau menghadapi ketuaan
Jika wajah Anda dalam kondisi kulit kering, kusam dan keriput, gunakan dua sendok makan havermout yang dicampur satu sendok makan madu dan sedikit air untuk memasker kulit wajah.
Kentang juga sangat bermanfaat untuk meremajakan kulit. Air perasan kentang sangat baik untuk mencuci muka atau bagian kulit lain yang berkeriput. Jika dilakukan setiap malam, hasilnya pun sesuai idaman Anda selama ini.
Kulit yang kering bersisik akan tampak tua dan tidak menarik. Untuk mengubahnya menjadi halus, gosoklah kulit dengan ampas kelapa, diamkan 10 menit, kemudian basuh dengan air bersih. Bagi masyarakat Bali, beras yang disangrai dan ditumbuk kasar jika dicampur asam kamal bermanfaat sebagai lulur untuk menghaluskan kulit tubuh.
Bagi wanita yang mendambakan tubuh sintal, langsing, dan kencang gunakan buah pinang sebagai pengganti kopi. Irislah pinang menjadi tipis, jemur hingga kering kemudian tumbuk. Seduh setengah sendok teh serbuk pinang dengan air panas, minum beserta ampasnya. Lakukan secara rutin tiap hari untuk mendapatkan hasil yang menakjubkan.
Untuk menambah daya tahan tubuh tak perlu melakukan perawatan yang rumit dan merepotkan, cukup rajin minum air putih setiap pagi maka badan segar dan bugar akan diperoleh dengan mudah.
Kebugaran serta kecantikan sejati tentu tidak hanya datang dari penampilan fisik yang muda dan menarik. Amat penting untuk melengkapi keindahan fisik dengan kecantikan batin hingga kepribadian Anda betul-betul mempesona lahir batin.(Sumber: Pikiran Rakyat)***
GERAKAN kembali ke alam tengah melanda hampir seluruh bagian dunia. Di tanah air, minat masyarakat untuk kembali menggunakan bahan-bahan alamiah semakin banyak. Tidak ketinggalan dalam hal perawatan tubuh, orang makin tertarik menggunakan bahan alamiah karena dipercaya berkhasiat tinggi serta hampir tidak menimbulkan akibat sampingan.
Setelah sekian lama terlena oleh kehadiran produk berbahan kimiawi yang cukup menarik, orang hampir saja melupakan bahwa di bumi Nusantara ini sebetulnya terdapat begitu banyak materi alami yang mudah diperoleh dan memiliki keampuhan tidak kalah dengan bahan kimiawi.
Tidak hanya untuk pengobatan, berbagai bahan alami asli Indonesia pun bermanfaat untuk perawatan rambut hingga ujung kaki. Bagi mereka yang mendambakan tetap awet muda meski usia terus merambat, banyak materi alam yang mampu membantunya. Pemanfaatan sejak dini dan secara terus-menerus diyakini banyak orang akan menghasilkan kondisi seperti yang diidamkan.
Ternyata bermacam hasil alam Indonesia berupa dedaunan, akar-akaran, atau buah-buahan yang tampak sepele dan tidak berguna dapat membantu mereka yang ingin tetap tampak muda, segar, dan berseri. Walaupun lebih banyak pendapat yang cenderung apriori terhadap manfaat buah-buahan itu, namun ternyata cukup bukti. Hal yang semua dipandang sebagai mitos belaka, kini menampakkan hasil nyata.
Menghaluskan muka dan leher
Untuk menikmati kehidupan yang merupakan anugerah Tuhan, manusia perlu merawat dan memperindah tubuhnya. Dengan memelihara karunia Tuhan itu hidup akan lebih harmoni serta bahagia. Apalagi alam memang disiapkan lengkap dengan bahan alami yang berguna untuk perawatan seluruh tubuh.
Mata
Agar mata senantiasa bersinar cemerlang dapat digunakan daya alam yang terkandung dalam berbagai tanaman seperti teh, randu, dan melati. Air teh kadaluwarsa jika digunakan untuk merambang akan menghasilkan mata nan cerah penuh pesona. Rebusan air sirih juga punya manfaat sama jika dipakai untuk merambang mata. Air rendaman melati yang telah diinapkan semalaman baik untuk merawat mata agar tetap cemerlang. Minyak jarak memiliki khasiat mencegah keriput di seputar mata. Pijatlah kulit sekitar mata dengan menggunakan minyak jarak setiap malam.
Rambut
Sementara itu untuk memelihara keindahan mahkota rambut dapat digunakan orang-aring, daun mangkokan, atau lidah buaya. Manfaatkan lendir dari daun lidah buaya untuk pijat kulit kepala agar rambut tumbuh subur hitam dan lebat. Ramuan orang-aring atau daun mangkokan yang dicampur minyak kelapa memiliki khasiat sama.
Air perasan wortel yang digunakan untuk massage kulit kepala bermanfaat untuk mencegah kerontokan. Biarkan semalam dan keramas esok harinya. Bawang merah yang dihaluskan dan dicampur dengan air matang juga memiliki khasiat sama untuk merawat rambut.
Untuk mengatasi rambut beruban, gunakan biji pepaya yang disangrai, kemudian tumbuk halus dan dicampur dengan minyak kelapa. Oleskan ramuan itu pada seluruh rambut dan kulit kepala. Bungkus rambut dengan handuk, biarkan selama dua jam, kemudian bersihkan. Jika rutin melakukannya seminggu sekali, uban pun akan lenyap dan rambut hitam kembali.
Kulit wajah dan leher
Alam disiapkan oleh Sang Pencipta demi kecantikan serta kehalusan kulit muka dan leher. Bahan alami seperti mentimun, susu sapi, jeruk nipis, minyak bulus, bawang putih, bawang merah, asam, dan lengkuas sangat bermanfaat untuk menghaluskan muka dan leher. Madu bermanfaat untuk mengencangkan kulit muka jika Anda rajin memanfaatkannya untuk massage. Sesudahnya cuci muka dengan air hangat dan oleskan air jeruk nipis atau tomat. Cara yang sama, tetapi mengganti madu dengan minyak bulus cara lain untuk perawatan kulit wajah. Jika minyak bulus yang dipakai, sesudahnya usapi kulit muka dengan minyak kenanga atau minyak tanjung. Jika rutin mencuci muka dengan air teh kadaluwarsa, bisa menghasilkan muka yang bersih halus berseri.
Kebiasaan memasker muka dengan mentimun menghasilkan kulit halus mulus. Cara lain, oleskan remasan bunga mawar pada kulit wajah. Biasakan ini pada pagi hari ketika bunga masih mengandung embun. Ternyata putih telur pun merupakan bahan masker yang baik. Oleskan putih telur pada kulit wajah, diamkan 10 menit baru bersihkan dengan air hangat. Cukup lakukan sebulan sekali.
Jangan risau menghadapi ketuaan
Jika wajah Anda dalam kondisi kulit kering, kusam dan keriput, gunakan dua sendok makan havermout yang dicampur satu sendok makan madu dan sedikit air untuk memasker kulit wajah.
Kentang juga sangat bermanfaat untuk meremajakan kulit. Air perasan kentang sangat baik untuk mencuci muka atau bagian kulit lain yang berkeriput. Jika dilakukan setiap malam, hasilnya pun sesuai idaman Anda selama ini.
Kulit yang kering bersisik akan tampak tua dan tidak menarik. Untuk mengubahnya menjadi halus, gosoklah kulit dengan ampas kelapa, diamkan 10 menit, kemudian basuh dengan air bersih. Bagi masyarakat Bali, beras yang disangrai dan ditumbuk kasar jika dicampur asam kamal bermanfaat sebagai lulur untuk menghaluskan kulit tubuh.
Bagi wanita yang mendambakan tubuh sintal, langsing, dan kencang gunakan buah pinang sebagai pengganti kopi. Irislah pinang menjadi tipis, jemur hingga kering kemudian tumbuk. Seduh setengah sendok teh serbuk pinang dengan air panas, minum beserta ampasnya. Lakukan secara rutin tiap hari untuk mendapatkan hasil yang menakjubkan.
Untuk menambah daya tahan tubuh tak perlu melakukan perawatan yang rumit dan merepotkan, cukup rajin minum air putih setiap pagi maka badan segar dan bugar akan diperoleh dengan mudah.
Kebugaran serta kecantikan sejati tentu tidak hanya datang dari penampilan fisik yang muda dan menarik. Amat penting untuk melengkapi keindahan fisik dengan kecantikan batin hingga kepribadian Anda betul-betul mempesona lahir batin.(Sumber: Pikiran Rakyat)***
Mengatasi Keracunan pada Anak
Oleh dr. Puspita Rahma
UMUMNYA anak memiliki rasa ingin tahu yang sangat besar. Mereka ingin menyaksikan dan merasakan berbagai hal di lingkungan sekitar. Sayangnya, rasa ingin tahu yang menggebu ini kerap dibarengi dengan sikap waspada. Akibatnya tak jarang terjadi anak mengalami kecelakaan seperti misalnya keracunan.
Data meunjukkan, 75% kasus keracunan dan kecelakaan anak di bawah usia 5 tahun terjadi di seputar rumah dan disebabkan oleh produk rumah tangga biasa, seperti obat, cairan pembersih, kosmetik, pestisida ataupun alat pembersih rumput. Anak umumnya memang tak menyadari bahwa ada situasi-situasi tertentu yang membahayakan bahwa tak semua bahan boleh dimakan atau diminum.
Gejala
Bagaimana tahu anak Anda mengalami keracunan? Perhatikan saja gejala-gejala yang muncul yang bentuknya tergantung pada racun yang tertelan. Berikut ini gejala-gejala yang bisa muncul pada kasus keracunan pada anak:
- muntah
- keluhan sakit perut
- kejang-kejang
- tidak sadar/pingsan
- mengantuk berlebihan
- perubahan warna di sekitar mulut anak
Yang harus dilakukan
Jika mencurigai anak Anda mengalami keracunan lakukanlah hal-hal berikut:
1. Periksa pernapasannya.
Bila Anda merasa anak tidak bernapas segera beri bantuan napas buatan. Namun, seka dulu muka anak, taruh kain bersih di atas mulutnya dan bernapaslah melalui kain tersebut. Ini diperlukan untuk menghindari masuknya racun ke mulut Anda sendiri.
2. Bila anak masih bernapas, letakkan ia pada posisi yang benar.
3. Jika Anda melihat perubahan warna di sekitar mulut anak atau bila ada tanda-tanda anak menelan bahan atau produk kimiawi tertentu, cuci kulit atau bibirnya dengan air. Jika ia sadar, beri minum air atau susu.
4. Cari tahu apa yang telah diambil atau dimakan anak, seberapa banyak jumlahnya, dan sudah berapa lama materi itu diminum atau dimakan anak. Kemudian, beritahukan dokter tentang hal-hal ini. Jika mungkin, bawa sampel materi yang telah dimakan atau diminum anak.
Pencegahan
Agar anak tak mengalami keracunan, Anda perlu mengupayakan pencegahan. Berikut yang bisa Anda lakukan:
* Jelaskan pada anak bahwa obat hanya boleh diberikan pada orang dewasa bahwa pil bukanlah permen dan bisa berbahaya sekali jika dikonsumsi sembarangan.
* Simpanlah pil, vitamin, cairan pencuci mulut yang mengandung alkohol di luar jangkauan anak. Begitu pula pupuk, pembunuh hama seperti obat nyamuk dan sebagainya.
* Tutup rapat-rapat wadah bahan yang ”berbahaya”, misalnya berbagai jenis bahan kimia. Setelah Anda menggunakannya segera tutup kembali dan taruh di tempat aman di luar jangkauan anak.
* Jelaskan juga pada anak tentang kegunaan dan sisi berbahaya dari bahan-bahan kimia ini jika digunakan tidak dengan cara tepat.
* Hati-hati dengan bedak bayi. Bila terhirup anak, serbuk tersebut bisa ”terjebak” di paru-paru dan mengganggu pernapasan anak. Oleh karena itu, bedaki anak tipis-tipis saja dengan spons. Usahakan jangan sampai serbuk beterbangan terisap bayi. Selain berbahaya, bedak yang terlalu tebal tidak nyaman bagi anak dan bisa membuatnya merasa kepanasan karena pori-pori kulitnya tertutup. Hal ini juga bisa mengakibatkan terjadinya keringat buntet. Jangan lupa, setelah digunakan, bedak bayi segera tutup, dan taruh di wadah bedak di tempat yang aman.
* Jangan letakkan produk nonmakanan di tempat makanan-minuman. Misalnya, menempatkan minyak tanah di bekas botol softdrink.
* Dalam menggunakan bahan-bahan kimia, perhatikan benar-benar yang tertera di wadahnya. Juga label cara pemakaian dan pembuangannya.(Sumber: Pikiran Rakyat)***
UMUMNYA anak memiliki rasa ingin tahu yang sangat besar. Mereka ingin menyaksikan dan merasakan berbagai hal di lingkungan sekitar. Sayangnya, rasa ingin tahu yang menggebu ini kerap dibarengi dengan sikap waspada. Akibatnya tak jarang terjadi anak mengalami kecelakaan seperti misalnya keracunan.
Data meunjukkan, 75% kasus keracunan dan kecelakaan anak di bawah usia 5 tahun terjadi di seputar rumah dan disebabkan oleh produk rumah tangga biasa, seperti obat, cairan pembersih, kosmetik, pestisida ataupun alat pembersih rumput. Anak umumnya memang tak menyadari bahwa ada situasi-situasi tertentu yang membahayakan bahwa tak semua bahan boleh dimakan atau diminum.
Gejala
Bagaimana tahu anak Anda mengalami keracunan? Perhatikan saja gejala-gejala yang muncul yang bentuknya tergantung pada racun yang tertelan. Berikut ini gejala-gejala yang bisa muncul pada kasus keracunan pada anak:
- muntah
- keluhan sakit perut
- kejang-kejang
- tidak sadar/pingsan
- mengantuk berlebihan
- perubahan warna di sekitar mulut anak
Yang harus dilakukan
Jika mencurigai anak Anda mengalami keracunan lakukanlah hal-hal berikut:
1. Periksa pernapasannya.
Bila Anda merasa anak tidak bernapas segera beri bantuan napas buatan. Namun, seka dulu muka anak, taruh kain bersih di atas mulutnya dan bernapaslah melalui kain tersebut. Ini diperlukan untuk menghindari masuknya racun ke mulut Anda sendiri.
2. Bila anak masih bernapas, letakkan ia pada posisi yang benar.
3. Jika Anda melihat perubahan warna di sekitar mulut anak atau bila ada tanda-tanda anak menelan bahan atau produk kimiawi tertentu, cuci kulit atau bibirnya dengan air. Jika ia sadar, beri minum air atau susu.
4. Cari tahu apa yang telah diambil atau dimakan anak, seberapa banyak jumlahnya, dan sudah berapa lama materi itu diminum atau dimakan anak. Kemudian, beritahukan dokter tentang hal-hal ini. Jika mungkin, bawa sampel materi yang telah dimakan atau diminum anak.
Pencegahan
Agar anak tak mengalami keracunan, Anda perlu mengupayakan pencegahan. Berikut yang bisa Anda lakukan:
* Jelaskan pada anak bahwa obat hanya boleh diberikan pada orang dewasa bahwa pil bukanlah permen dan bisa berbahaya sekali jika dikonsumsi sembarangan.
* Simpanlah pil, vitamin, cairan pencuci mulut yang mengandung alkohol di luar jangkauan anak. Begitu pula pupuk, pembunuh hama seperti obat nyamuk dan sebagainya.
* Tutup rapat-rapat wadah bahan yang ”berbahaya”, misalnya berbagai jenis bahan kimia. Setelah Anda menggunakannya segera tutup kembali dan taruh di tempat aman di luar jangkauan anak.
* Jelaskan juga pada anak tentang kegunaan dan sisi berbahaya dari bahan-bahan kimia ini jika digunakan tidak dengan cara tepat.
* Hati-hati dengan bedak bayi. Bila terhirup anak, serbuk tersebut bisa ”terjebak” di paru-paru dan mengganggu pernapasan anak. Oleh karena itu, bedaki anak tipis-tipis saja dengan spons. Usahakan jangan sampai serbuk beterbangan terisap bayi. Selain berbahaya, bedak yang terlalu tebal tidak nyaman bagi anak dan bisa membuatnya merasa kepanasan karena pori-pori kulitnya tertutup. Hal ini juga bisa mengakibatkan terjadinya keringat buntet. Jangan lupa, setelah digunakan, bedak bayi segera tutup, dan taruh di wadah bedak di tempat yang aman.
* Jangan letakkan produk nonmakanan di tempat makanan-minuman. Misalnya, menempatkan minyak tanah di bekas botol softdrink.
* Dalam menggunakan bahan-bahan kimia, perhatikan benar-benar yang tertera di wadahnya. Juga label cara pemakaian dan pembuangannya.(Sumber: Pikiran Rakyat)***
Langganan:
Postingan (Atom)