Oleh Wawan Kustiawan, drg.
GIGI merupakan jaringan tubuh yang penting untuk dipertahankan dan dicegah dari kerusakan. Meskipun gigi adalah jaringan tubuh yang paling keras, namun mudah sekali terjadi kerusakan. Proses terjadinya kerusakan gigi diawali dengan adanya lubang gigi (karies). Karies adalah proses patologis berupa kerusakan yang terbatas pada jaringan gigi mulai dari email gigi dan menjalar ke tulang gigi (dentin).
Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya karies gigi yaitu faktor di dalam mulut yang berhubungan langsung dengan proses terjadinya karies antara lain struktur gigi, morfologi gigi, susunan gigi-geligi di rahang, derajat keasaman saliva, kebersihan mulut, jumlah dan frekuensi makan makanan yang menyebabkan karies (kariogenik).
Selain itu, terdapat faktor luar sebagai faktor predisposisi dan penghambat yang berhubungan tidak langsung dengan proses terjadinya karies antara lain usia, jenis kelamin, suku bangsa, letak geografis, tingkat ekonomi, kultur sosial, serta pengetahuan, sikap dan perilaku terhadap pemeliharaan kesehatan gigi.
Namun, faktor utama yang menyebabkan terjadinya karies adalah gigi dan air ludah, mikroorganisme penyebab karies, subtrat (makanan) serta waktu sebagai faktor tambahan. Gigi yang tidak beraturan (crowding) dan air ludah yang banyak serta konsistensinya kental, mudah sekali terserang karies.
Mikroorganisme penyebab karies adalah bakteri dari jenis streptococcus dan lactobacillus. Makanan yang kariogenik adalah makanan yang lengket menempel di gigi seperti gula-gula (permen), dan coklat.
Untuk menjelaskan hubungan keempat faktor tersebut digambarkan sebagai berikut (lihat gambar).
Tiga faktor utama digambarkan sebagai tiga silinder, sedangkan waktu digambarkan sebagai ketebalan (tinggi) silinder. Ketiga faktor utama berada di dalam mulut pada waktu tertentu. Apabila silinder tersebut saling berpotongan, terjadilah karies. Hasil perpotongan ketiga silinder membentuk suatu ruangan.
Besar ruangan bergantung pada besar peranan masing-masing silinder (tiga faktor) dan tinggi silinder. Makin besar ruangan makin besar karies yang timbul. Agar sesedikit mungkin terjadi karies, ruangan yang terbentuk harus diperkecil.
Cara yang dapat dilakukan antara lain dengan menjauhkan atau memperkecil jari-jari ketiga silinder sehingga ketiganya tidak saling bertemu. Cara lain dengan memperpendek tinggi silinder yang artinya mempersingkat waktu pertemuan ketiga faktor.
Gigi yang mudah sekali terserang karies adalah gigi sulung (gigi anak) karena struktur giginya lebih tipis dan lebih kecil dibandingkan dengan gigi dewasa (gigi tetap). Oleh karena itu, dalam mencegah kerusakan gigi harus dilakukan sedini mungkin.
Penjalaran karies mula-mula terjadi pada email yang merupakan jaringan terkeras dari tubuh. Bila tidak segera dibersihkan jaringan kariesnya dan tidak segera ditambal, karies akan terus menjalr ke dalam kamar pulpa (ruangan pembuluh saraf dan pembuluh darah di dalam gigi) yang bisa menimbulkan rasa sakit dan akhirnya gigi tersebut bisa mati.
Berdasarkan tempat terjadinya, karies dapat dibagi sebagai berikut:
1. Karies inspiens, yaitu karies yang terjadi pada permukaan email gigi (lapisan terluar dan terkeras dari gigi), dan belum terasa sakit hanya ada perwarnaan hitam atau coklat pada email.
2. Karies superfisialis, yaitu karies yang sudah mencapai bagian dalam dari email, kadang-kadnag terasa sakit.
3. Karies media, yaitu karies yang sudah mencapai bagian dentin (tulang gigi) atau bagian pertengahan antara permukaan gigi dan kamar pulpa, gigi biasanya terasa sakit bila terkena rangsangan dingin, makanan asam dan manis.
4. Karies profunda yaitu karies yang telah mendekati atau bahkan telah mencapai pulpa sehingga terjadi peradangan pada pulpa. Biasanya terasa sakit waktu makan dan bahkan sakit sakit secara tiba-tiba tanpa rangsangan apa pun.
Pada karies profunda, apabila tidak segera diobati dan ditambal, maka gigi akan mati, dan untuk perawatan selanjutnya akan lebih lama dibandingkan pada karies-karies yang lainnya.
Perawatan gigi yang terkena karies belum mencapai kamar pulpa bisa langsung ditambal. Caranya, jaringan kariesnya dihilangkan terlebih dahulu, hal ini disebut dengan operative dentistry.
Sementara karies yang sudah mengiritasi pulpa atau giginya telah mati, perawatan gigi dilakukan dengan cara membersihkan kamar pulpa dan saluran akar dengan alat dan obat-obatan.
Hal ini disebut dengan perawatan endodontik. Perawatan dengan cara endodontik ini tidak bisa langsung ditambal tetap dalam satu kali kunjungan, paling sedikit dua kali kunjungan sehingga kadang-kadang pasien yang datang ke dokter gigi malas untuk melanjutkan perawatan sampai tuntas.
Untuk mencegah terjadinya karies (lubang gigi) perlu diperhatikan sebagai berikut:
1. Memelihara kebersihan mulut dan gigi (menghilangkan plak dan bakteri).
2. Memperkuat gigi dengan kalsium dan fluor.
3. Mengurangi konsumsi makanan yang manis dan lengket.
4. Sikat gigi sesudah makan dan sebelum tidur malam.
5. Gunakan sikat gigi yang berbulu halus dan pasta gigi berfluor.
6. Makan buah-buahan berserat sebagai pencuci mulut.
7. Periksakan gigi dan mulut ke dokter gigi sedikitnya 6 bulan sekali.
8. Apabila gigi sudah berlubang, datangi dokter gigi Anda untuk melakukan perawatan. Jangan datang ke tukang gigi yang menawarkan perawatan gigi yang murah dan cepat selesai tanpa dihilangkan dahulu penyakitnya.(Sumber: Pikiran Rakyat)***
Home » All posts
Mendaur Ulang Gula Merah yang telah Rusak/BS/Lembek
Oleh Abdullah
GULA merah yang telah rusak/lembek/BS (BS-rusak dalam istilah pasar), biasanya tidak laku dijual atau bisa juga menjadi komoditas yang bernilai jual rendah atau murah.
Untuk menghadapi masalah ini, para pedagang dianjurkan untuk mendaur ulang gula-gula yang BS tadi agar nilai jualnya kembali tinggi. Selain itu, gula yang telah didaur ulang bisa bertahan lebih lama.
Mendaur ulang gula merah BS, selain dianjurkan para pedagang, bisa juga dimanfaatkan oleh para wiraswastawan yang masih mencari terobosan usaha yang cukup tinggi karena hanya memerlukan teknologi tradisional.
Alat-alat yang diperlukan:
1. Potongan ruas bambu yang berukuran 1,5-2 cm sebanyak 1.000 potong. Bambu yang dipotong diusahakan yang masih hijau agar tidak sulit memotongnya. Diameter sekisar 5-7 cm (ukuran kecil-sedang). Fungsinya untuk mencetak gula.
2. Beberapa lembar kayu tripleks yang tidak terpakai, fungsinya untuk menyimpan cetakan/potong bambu, bisa juga potongan papan.
3. Entong panjang yang terbuat dari bambu atau kayu untuk mengocek.
4. Wajan besar yang dapat memuat l.k. 12 kg gula merah.
5. Tampir (Sunda: Nyiru) untuk menjemur atau memotong gula hasil cetakan. Bisa juga menggunakan sasag/bilik bambu.
6. Kompor
Bahan yang diperlukan:
1. Gula BS/rusak l.k. 12 kg
2. Gula putih 1/2 kg
3. Tepung Asia 1/2 kg
4. Air secukupnya.
Cara mengolahnya:
1. Cairkan gula putih ditambah sedikit air, sampai mendidih.
2. Masukkan gula merah sehingga mencair.
3. Masukkan tepung sedikit-sedikit sambil diaduk hingga rata.
4. Sesudah tepung Asia dan gula merah bercampur hingga tidak terlihat warna putih, kecilkan kompornya.
5. Dengan bantuan scan plastik/kendi kecil, masukkan gula yang masih panas ke dalam cetakan gula yang sebelumnya telah disusun pada lembaran tripleks/kayu papan. Sebaiknya, potongan bambu atau cetakan gula dimasukkan ke dalam air bersih agar gula yang sudah tercetak mudah dicopot/dilepas.
6. Sesudah semua cairan gula dituangkan pada cetakan gula, siapkan tampir atau sasag.
7. Sesudah gula yang tercetak dingin, lepaskan dari bambu cetakan dan disusun pada tampir atau sasag.
8. Perhatikan pada waktu menyusun gula, gula yang basah disimpan di atas dan bagian yang kering di bawah.
9. Bila hari tidak hujan, gula harus dijemur hingga kering dan harus dikontrol (dibolak-balik).
10. Bila hari hujan, gula bisa dikeringkan dengan cara menggarang di atas kompor dengan api kecil dengan tinggi 1 m.
Cara menggarang:
1. Siapkan tempat untuk menumpuk sasag atau tampir berisi gula yang telah disusun. Usahakan agar tidak terganggu oleh kegiatan lain.
2. Tempat menumpuk tampir atau sasag diusahakan dibuat terlebih dahulu dengan rangka kayu atau bambu dengan panjang 1,5 m, lebar 1 m, dan tinggi 1 m.
3. Tiap tumpukan hendaknya diganjal pada ujung-ujungnya sehingga gula tidak tertindih.
4. Agar cepat kering, sebaiknya ditutup dengan kain atau kertas.
5. Kompor yang disimpan di bawah sasag atau tampir, dinyalakan dengan api yang kecil dengan waktu 2-3 jam. (Sumber: Pikiran Rakyat)***
GULA merah yang telah rusak/lembek/BS (BS-rusak dalam istilah pasar), biasanya tidak laku dijual atau bisa juga menjadi komoditas yang bernilai jual rendah atau murah.
Untuk menghadapi masalah ini, para pedagang dianjurkan untuk mendaur ulang gula-gula yang BS tadi agar nilai jualnya kembali tinggi. Selain itu, gula yang telah didaur ulang bisa bertahan lebih lama.
Mendaur ulang gula merah BS, selain dianjurkan para pedagang, bisa juga dimanfaatkan oleh para wiraswastawan yang masih mencari terobosan usaha yang cukup tinggi karena hanya memerlukan teknologi tradisional.
Alat-alat yang diperlukan:
1. Potongan ruas bambu yang berukuran 1,5-2 cm sebanyak 1.000 potong. Bambu yang dipotong diusahakan yang masih hijau agar tidak sulit memotongnya. Diameter sekisar 5-7 cm (ukuran kecil-sedang). Fungsinya untuk mencetak gula.
2. Beberapa lembar kayu tripleks yang tidak terpakai, fungsinya untuk menyimpan cetakan/potong bambu, bisa juga potongan papan.
3. Entong panjang yang terbuat dari bambu atau kayu untuk mengocek.
4. Wajan besar yang dapat memuat l.k. 12 kg gula merah.
5. Tampir (Sunda: Nyiru) untuk menjemur atau memotong gula hasil cetakan. Bisa juga menggunakan sasag/bilik bambu.
6. Kompor
Bahan yang diperlukan:
1. Gula BS/rusak l.k. 12 kg
2. Gula putih 1/2 kg
3. Tepung Asia 1/2 kg
4. Air secukupnya.
Cara mengolahnya:
1. Cairkan gula putih ditambah sedikit air, sampai mendidih.
2. Masukkan gula merah sehingga mencair.
3. Masukkan tepung sedikit-sedikit sambil diaduk hingga rata.
4. Sesudah tepung Asia dan gula merah bercampur hingga tidak terlihat warna putih, kecilkan kompornya.
5. Dengan bantuan scan plastik/kendi kecil, masukkan gula yang masih panas ke dalam cetakan gula yang sebelumnya telah disusun pada lembaran tripleks/kayu papan. Sebaiknya, potongan bambu atau cetakan gula dimasukkan ke dalam air bersih agar gula yang sudah tercetak mudah dicopot/dilepas.
6. Sesudah semua cairan gula dituangkan pada cetakan gula, siapkan tampir atau sasag.
7. Sesudah gula yang tercetak dingin, lepaskan dari bambu cetakan dan disusun pada tampir atau sasag.
8. Perhatikan pada waktu menyusun gula, gula yang basah disimpan di atas dan bagian yang kering di bawah.
9. Bila hari tidak hujan, gula harus dijemur hingga kering dan harus dikontrol (dibolak-balik).
10. Bila hari hujan, gula bisa dikeringkan dengan cara menggarang di atas kompor dengan api kecil dengan tinggi 1 m.
Cara menggarang:
1. Siapkan tempat untuk menumpuk sasag atau tampir berisi gula yang telah disusun. Usahakan agar tidak terganggu oleh kegiatan lain.
2. Tempat menumpuk tampir atau sasag diusahakan dibuat terlebih dahulu dengan rangka kayu atau bambu dengan panjang 1,5 m, lebar 1 m, dan tinggi 1 m.
3. Tiap tumpukan hendaknya diganjal pada ujung-ujungnya sehingga gula tidak tertindih.
4. Agar cepat kering, sebaiknya ditutup dengan kain atau kertas.
5. Kompor yang disimpan di bawah sasag atau tampir, dinyalakan dengan api yang kecil dengan waktu 2-3 jam. (Sumber: Pikiran Rakyat)***
Memperlambat Munculnya Rasa Lapar
Oleh Yuga Pramita
(alumnus Akademi Gizi Jakarta)
SAAT berbuka puasa adalah saat bahagia. Saking bahagianya, orang sering lupa bahwa kendali diri masih harus dijaga. Main comot aneka makanan sebetulnya sah-sah saja. Masalahnya, bukankah akan lebih baik jika sekalian bisa ”mencuri” berkah darinya?
Dari Salman bin Amir al-Dhabiy r.a., dari Nabi saw. bersabda, ”Jika salah seorang dari kalian berbuka puasa, maka hendaklah dengan kurma, karena di dalamnya terdapat keberkahan. Kalau tidak mendapatkan kurma, hendaklah dengan air, karena ia menyucikan.” (H.R. Bukhari Muslim).
Perut kosong dan tubuh lemas sangat rindu makanan mudah cerna yang sanggup mengembalikan kekuatan serta bisa mengganti cairan yang hilang akibat aktivitas seharian. Kurma sangat cocok untuk situasi demikian karena gampang dicerna dan berenergi tinggi, terutama kurma yang segar memiliki kadar air yang lumayan. Akan tetapi, andai kurma sulit didapat, melahap buah-buahan segar berasa manis lainnya bisa pula dilakukan.
Meski begitu, tidak dianjurkan menyantapnya dalam jumlah besar. Sebagaimana sifat makanan manis jika jumlahnya berlebihan bisa mengganggu selera makan selanjutnya. Akibatnya, aneka zat gizi yang harusnya juga dikonsumsi bisa terlewatkan. Tentunya ini dapat berdampak negatif pada kesehatan.
Akan tetapi, masalah puasa bukan cuma terletak pada ”berbuka dengan apa?”. Dalam kacamata awam, acap pula dipikirkan upaya apa yang perlu dilakukan agar lapar tidak terasa. Terjadinya ”migrasi” dari rumah ke tempat-tempat pelesiran sebetulnya cuma salah satu cara agar orang bisa melupakan rasa laparnya.
Fruktosa, serat, dan lemak
Dalam hal memakan-makanan, puasa sebetulnya cuma menggeser ”urusan” dari kebiasaan siang menjadi malam. Situasi tersebut akan berakibat pada bergesernya waktu sekresi liur pencernaan dan metabolisme. Menurut Santosa (2000), pergeseran waktu sekresi liur tidak mungkin terjadi bersamaan dengan dimulainya puasa, tetapi memerlukan penyesuaian kurang lebih tiga hari. Selama masa itu, orang bisa jadi merasa rada tersiksa, badan lemas, emosi labil, dan mungkin pula sedikit bingung karena asupan glukosa ke otak agak tersendat.
Meski demikian, hal itu tidak perlu dikhawatirkan. Disebutkan Mohamad (1990), daya tahan manusia terhadap tidak adanya makanan dan minuman yang masuk ke tubuhnya cukup besar. Manusia sehat dapat bertahan hidup selama dua minggu, meskipun tanpa makanan sama sekali, asal tetap minum. Selain itu, jika tidak makan dan minum, dapat bertahan seminggu. Kalau hanya menahan makan dan minum selama empat belas jam saja, pengaruh buruknya terhadap kesehatan praktis tidak ada sama sekali. Fakta sejak dulu menunjukkan, tidak ada orang yang mati atau sakit berat gara-gara puasa Ramadan.
Di sisi lain, situasi tersebut rupanya tidak sama pada setiap orang.
Yang sebelumnya sering berlatih dengan banyak melakukan puasa sunat —terutama pada bulan Sya’ban— akan lebih cepat menyesuaikan diri ketimbang yang tidak. Begitu juga, perkara motivasi sebab ”siksaan” itu juga sangat dipengaruhi hipothalamus dan hipophyse serta subsistem yang disebut sistem limbic —merupakan sentral pengendali emosi. Pada orang yang memunculkan sikap positif, dengan motivasi kuat untuk berpuasa, perasaan itu biasanya akan jauh lebih rendah daripada yang menolaknya.
Paling tidak, dari sisi makanan tiga bahan berikut perlu mendapat perhatian:
Pertama, fruktosa. Ini dinamakan juga levulosa atau gula buah. Rumus kimianya sama dengan glukosa, tetapi strukturnya berbeda. Susunan atomnya bisa nonjok jonjot kecapan lidah sehingga menimbulkan rasa manis yang sip. Gula ini terutama terdapat dalam madu bersama glukosa dalam buah, nektar bunga, dan juga dalam sayuran. Dikatakan Dr. David Conning, dari Biritish Nutrition Foundation, jika segelas air yang mengandung glukosa dapat diserap tubuh selama 20-30 menit, fruktosa baru akan habis terserap dalam tempo 45-60 menit. Dengan perkataan lain, makanan yang banyak mengandung fruktosa akan lebih lama mengundang datangnya lapar daripada makanan yang tidak mengandungnya.
Kedua, serat. Selain berpengaruh pada waktu transit makanan, ”menciptakan” kenyang dan mencegah pembengkakan pada dinding kolon, serat juga dapat menghindarkan konstipasi, diverticulisis, hemoroid, dan varises, serta berbagai penyakit berbahaya lain. Wirakusumah dalam ”Buah dan Sayur untuk Terapi” mencatat juga bahwa fermentasi serat oleh flora usus akan menghasilkan tiga produk akhir, yaitu asam lemak rantai pendek (short chain fatty acid/SCFA), bermacam-macam gas, dan energi.
SCFA seperti asetat, propionat, dan asam butirat memunyai fungsi fisiologis penting. Propionat dan asetat akan langsung menuju hati dan menghasilkan energi, sedangkan butirat akan memasok energi bagi sel-sel sepanjang kolon.
Keunggulan lainnya, bahan ini pun dapat memperlambat kosongnya lambung. Serat akan menjadikan makanan dilepaskan lebih perlahan ke dalam usus kecil karenanya kemunculan lapar akan terasa lebih panjang.
Sebuah studi yang dilakukan Dr. Susanna Holt, dari University of Sydney memperlihatkan, orang yang mengonsumsi makanan berserat —dalam percobaan menggunakan sereal— akan menuntut pemenuhan kembali rasa laparnya 3,5 jam lebih lama dibandingkan orang yang mengonsumsi makanan rendah serat. Selain banyak terdapat dalam buah, serat juga banyak nangkring dalam sayuran, biji-bijian, dan padi-padian.
Sementara itu, unsur yang ketiga adalah lemak. Berbagai bahan seperti daging, ikan, telur, susu, apokat, kacang tanah, dan beberapa jenis sayuran mengandung lemak yang biasanya termakan bersama bahan tersebut. Lemak demikian dikenal sebagai lemak tersembunyi (invisible fat). Di samping itu, lemak yang telah diekstraksi dari ternak atau bahan nabati dan dimurnikan dikenal sebagai lemak minyak biasa atau lemak kasat mata (visible fat).
Dibandingkan dengan zat-zat makanan lain unsur ini mempunyai nilai kalori yang paling tinggi (1 gram lemak menghasilkan energi 9 kkal).
Di samping berperan sebagai sumber dan cadangan energi, sumber asam lemak esensial, pelarut vitamin A, D, E, K, dan penyebab makanan memunyai tekstur khusus, lemak juga dapat menyebabkan waktu pengosongan lambung menjadi lama.
Jadi, kalau ingin memperlambat timbulnya rasa lapar saat puasa, upayakan agar ketiga bahan itu hadir dalam penutup sahur Anda. Dalam contoh praktis, sama dengan beberapa butir kurma plus segelas susu. Akan tetapi ini tidak berarti unsur lain yang juga diperlukan tubuh —utamanya air— boleh dilupakan. Dorongan lapar atau timbulnya keinginan untuk mengonsumsi makanan-makanan tertentu bisa merupakan refleksi tubuh akibat kurangnya asupan unsur-unsur tersebut. Wallahualam. (Sumber: Pikiran Rakyat)***
(alumnus Akademi Gizi Jakarta)
SAAT berbuka puasa adalah saat bahagia. Saking bahagianya, orang sering lupa bahwa kendali diri masih harus dijaga. Main comot aneka makanan sebetulnya sah-sah saja. Masalahnya, bukankah akan lebih baik jika sekalian bisa ”mencuri” berkah darinya?
Dari Salman bin Amir al-Dhabiy r.a., dari Nabi saw. bersabda, ”Jika salah seorang dari kalian berbuka puasa, maka hendaklah dengan kurma, karena di dalamnya terdapat keberkahan. Kalau tidak mendapatkan kurma, hendaklah dengan air, karena ia menyucikan.” (H.R. Bukhari Muslim).
Perut kosong dan tubuh lemas sangat rindu makanan mudah cerna yang sanggup mengembalikan kekuatan serta bisa mengganti cairan yang hilang akibat aktivitas seharian. Kurma sangat cocok untuk situasi demikian karena gampang dicerna dan berenergi tinggi, terutama kurma yang segar memiliki kadar air yang lumayan. Akan tetapi, andai kurma sulit didapat, melahap buah-buahan segar berasa manis lainnya bisa pula dilakukan.
Meski begitu, tidak dianjurkan menyantapnya dalam jumlah besar. Sebagaimana sifat makanan manis jika jumlahnya berlebihan bisa mengganggu selera makan selanjutnya. Akibatnya, aneka zat gizi yang harusnya juga dikonsumsi bisa terlewatkan. Tentunya ini dapat berdampak negatif pada kesehatan.
Akan tetapi, masalah puasa bukan cuma terletak pada ”berbuka dengan apa?”. Dalam kacamata awam, acap pula dipikirkan upaya apa yang perlu dilakukan agar lapar tidak terasa. Terjadinya ”migrasi” dari rumah ke tempat-tempat pelesiran sebetulnya cuma salah satu cara agar orang bisa melupakan rasa laparnya.
Fruktosa, serat, dan lemak
Dalam hal memakan-makanan, puasa sebetulnya cuma menggeser ”urusan” dari kebiasaan siang menjadi malam. Situasi tersebut akan berakibat pada bergesernya waktu sekresi liur pencernaan dan metabolisme. Menurut Santosa (2000), pergeseran waktu sekresi liur tidak mungkin terjadi bersamaan dengan dimulainya puasa, tetapi memerlukan penyesuaian kurang lebih tiga hari. Selama masa itu, orang bisa jadi merasa rada tersiksa, badan lemas, emosi labil, dan mungkin pula sedikit bingung karena asupan glukosa ke otak agak tersendat.
Meski demikian, hal itu tidak perlu dikhawatirkan. Disebutkan Mohamad (1990), daya tahan manusia terhadap tidak adanya makanan dan minuman yang masuk ke tubuhnya cukup besar. Manusia sehat dapat bertahan hidup selama dua minggu, meskipun tanpa makanan sama sekali, asal tetap minum. Selain itu, jika tidak makan dan minum, dapat bertahan seminggu. Kalau hanya menahan makan dan minum selama empat belas jam saja, pengaruh buruknya terhadap kesehatan praktis tidak ada sama sekali. Fakta sejak dulu menunjukkan, tidak ada orang yang mati atau sakit berat gara-gara puasa Ramadan.
Di sisi lain, situasi tersebut rupanya tidak sama pada setiap orang.
Yang sebelumnya sering berlatih dengan banyak melakukan puasa sunat —terutama pada bulan Sya’ban— akan lebih cepat menyesuaikan diri ketimbang yang tidak. Begitu juga, perkara motivasi sebab ”siksaan” itu juga sangat dipengaruhi hipothalamus dan hipophyse serta subsistem yang disebut sistem limbic —merupakan sentral pengendali emosi. Pada orang yang memunculkan sikap positif, dengan motivasi kuat untuk berpuasa, perasaan itu biasanya akan jauh lebih rendah daripada yang menolaknya.
Paling tidak, dari sisi makanan tiga bahan berikut perlu mendapat perhatian:
Pertama, fruktosa. Ini dinamakan juga levulosa atau gula buah. Rumus kimianya sama dengan glukosa, tetapi strukturnya berbeda. Susunan atomnya bisa nonjok jonjot kecapan lidah sehingga menimbulkan rasa manis yang sip. Gula ini terutama terdapat dalam madu bersama glukosa dalam buah, nektar bunga, dan juga dalam sayuran. Dikatakan Dr. David Conning, dari Biritish Nutrition Foundation, jika segelas air yang mengandung glukosa dapat diserap tubuh selama 20-30 menit, fruktosa baru akan habis terserap dalam tempo 45-60 menit. Dengan perkataan lain, makanan yang banyak mengandung fruktosa akan lebih lama mengundang datangnya lapar daripada makanan yang tidak mengandungnya.
Kedua, serat. Selain berpengaruh pada waktu transit makanan, ”menciptakan” kenyang dan mencegah pembengkakan pada dinding kolon, serat juga dapat menghindarkan konstipasi, diverticulisis, hemoroid, dan varises, serta berbagai penyakit berbahaya lain. Wirakusumah dalam ”Buah dan Sayur untuk Terapi” mencatat juga bahwa fermentasi serat oleh flora usus akan menghasilkan tiga produk akhir, yaitu asam lemak rantai pendek (short chain fatty acid/SCFA), bermacam-macam gas, dan energi.
SCFA seperti asetat, propionat, dan asam butirat memunyai fungsi fisiologis penting. Propionat dan asetat akan langsung menuju hati dan menghasilkan energi, sedangkan butirat akan memasok energi bagi sel-sel sepanjang kolon.
Keunggulan lainnya, bahan ini pun dapat memperlambat kosongnya lambung. Serat akan menjadikan makanan dilepaskan lebih perlahan ke dalam usus kecil karenanya kemunculan lapar akan terasa lebih panjang.
Sebuah studi yang dilakukan Dr. Susanna Holt, dari University of Sydney memperlihatkan, orang yang mengonsumsi makanan berserat —dalam percobaan menggunakan sereal— akan menuntut pemenuhan kembali rasa laparnya 3,5 jam lebih lama dibandingkan orang yang mengonsumsi makanan rendah serat. Selain banyak terdapat dalam buah, serat juga banyak nangkring dalam sayuran, biji-bijian, dan padi-padian.
Sementara itu, unsur yang ketiga adalah lemak. Berbagai bahan seperti daging, ikan, telur, susu, apokat, kacang tanah, dan beberapa jenis sayuran mengandung lemak yang biasanya termakan bersama bahan tersebut. Lemak demikian dikenal sebagai lemak tersembunyi (invisible fat). Di samping itu, lemak yang telah diekstraksi dari ternak atau bahan nabati dan dimurnikan dikenal sebagai lemak minyak biasa atau lemak kasat mata (visible fat).
Dibandingkan dengan zat-zat makanan lain unsur ini mempunyai nilai kalori yang paling tinggi (1 gram lemak menghasilkan energi 9 kkal).
Di samping berperan sebagai sumber dan cadangan energi, sumber asam lemak esensial, pelarut vitamin A, D, E, K, dan penyebab makanan memunyai tekstur khusus, lemak juga dapat menyebabkan waktu pengosongan lambung menjadi lama.
Jadi, kalau ingin memperlambat timbulnya rasa lapar saat puasa, upayakan agar ketiga bahan itu hadir dalam penutup sahur Anda. Dalam contoh praktis, sama dengan beberapa butir kurma plus segelas susu. Akan tetapi ini tidak berarti unsur lain yang juga diperlukan tubuh —utamanya air— boleh dilupakan. Dorongan lapar atau timbulnya keinginan untuk mengonsumsi makanan-makanan tertentu bisa merupakan refleksi tubuh akibat kurangnya asupan unsur-unsur tersebut. Wallahualam. (Sumber: Pikiran Rakyat)***
Puasa pada Anak-anak, Ibu Hamil/ Menyusui, atau Lansia
Oleh dr. Budi R.S.T.
BERPUASA berarti tidak makan dan minum serta tidak melakukan aktivitas seksual sekira lima belas jam sehari. Permasalahannya, apakah puasa memengaruhi kesehatan seseorang? Beberapa penelitian menunjukkan bahwa puasa mengakibatkan perubahan-perubahan parameter darah dan zat lainnya dalam tubuh seperti kenaikan kadar lemak, kolesterol, dan asam urat di dalam plasma darah, meski memang perubahan tersebut tidak sampai membahayakan kesehatan.
Menurut pakar kesehatan, selama puasa terlihat penurunan frekuensi dan peningkatan intake kalori. Kadar lipit darah meningkat sebagai akibat meningkatnya pengaliran asam lemak bebas. Ini terjadi bila seseorang makan sekaligus dalam jumlah besar satu kali sehari. Oleh sebab itu, disarankan saat berbuka puasa, pertama kali minumlah air sedikit dan makan makanan kecil dulu. Baru kemudian, makan dalam porsi biasa.
Dengan melihat terjadinya beberapa perubahan dalam mekanisme tubuh selama bulan puasa, tanpa mengesampingkan segi positifnya, bagaimana pula puasa pada anak-anak, ibu hamil atau menyusui, dan lansia? Akankah memengaruhi kesehatannya?
Pengosongan makanan pada lambung anak lebih cepat
Ajaran Islam menyebutkan, puasa diwajibkan bagi mereka yang sudah mencapai usia akil balig. Pada anak perempuan usia ini ditandai dengan datangnya haid pertama, sekira 10-16 tahun. Usia akil balig pada anak lelaki sekira 11-14,5 tahun ditandai dengan keluarnya sperma pertama kali. Jadi, anak di bawah usia akil balig tidak diwajibkan puasa. Hal ini erat kaitannya dengan proses tumbuh kembangnya.
Penyebabnya adalah pengosongan makanan di lambung anak lebih cepat tiga sampai empat jam dibandingkan orang dewasa. Dengan demikian, wajar bila anak mudah lapar. Di samping itu, pada usia balita atau saat anak menempuh pendidikan SD, waktunya banyak tersita oleh kegiatan fisik yang luar biasa, misalnya bermain atau olah raga. Terkadang di kalangan tak mampu, anak-anak harus membantu orang tuanya bekerja. Aktivitas tinggi ini membutuhkan energi cukup yang hanya bisa dipenuhi dengan makanan bergizi dan adekuat.
Ibu hamil asal janinnya sehat
Hamil muda atau hamil tua, boleh saja puasa, dengan catatan, tidak sedang mengidap penyakit atau gangguan yang membahayakan keselamatan ibu dan janin. Asal ibu dan janin sehat, ibu bebas melakukan puasa.
Janin akan bertindak seperti parasit. Kalau ia kekurangan makan, bila ibu sehat, janin akan menggunakan cadangan makanan dalam tubuh ibu. Mudahnya, janin tidak akan kekurangan zat makanan yang dibutuhkan bagi pertumbuhan dan perkembangannya selama cadangan makanan tersebut cukup. Toh, bila ibu hamil tidak makan siang hari, cadangan makanan dalam tubuh tidak akan habis dan malamnya sudah dipenuhi lagi.
Jadi, yang perlu bagi ibu hamil yang puasa harus menjaga agar tubuh tidak kekurangan makan, terutama yang bernilai gizi tinggi. Porsi makannya per hari juga perlu ditingkatkan. Umumnya wanita hamil memerlukan kalori 1/6 dan protein 1/5 lebih banyak dibandingkan ketika tidak sedang hamil.
Memang ada pengecualian tertentu karena pertimbangan medis, ibu hamil disarankan absen puasa. Misalnya, penderita diabetes dibebaskan puasa bergantung pada kadar gula darah (umumnya kadar gula darah tinggi), berat ringannya penyakit, dan kesehatan umum. Pertimbangan lain, bila ibu hamil mengidap intra uterin growth reterdation, pertumbuhan janin terhambat karena fungsi ari-ari terganggu. Sementara itu, ari-ari berperan penting menjembatani antara ibu dan janin, yaitu mengatur segala sesuatu yang diperlukan janin dari ibunya. Entah itu berupa makanan atau zat-zat penting lainnya.
Ibu menyusui butuh energi lebih banyak
Kebutuhan nutrisi selama masa laktasi sedikit lebih banyak dibandingkan ibu yang tidak menyusui karena nutrisi pada ibu menyusui selain digunakan untuk dirinya sendiri, juga sangat dibutuhkan bayi dalam bentuk air susu ibu (ASI). Bayi akan merasa terpuaskan —juga sehat— bila sejak lahir hingga minimal empat bulan mendapatkan ASI dengan kualitas dan kuantitas cukup baik. Untuk mendapatkan ASI yang demikian, si ibu harus mendapatkan nutrisi yang cukup dan bergizi.
Boleh tidaknya ibu menyusui melakukan puasa bergantung pada kemauan si ibu itu sendiri. Bila ibu ingin menyusui bayinya secara benar dengan memberikan penuh ASI selama empat bulan, tentunya kebutuhan gizi harus terpenuhi secara baik pula. Bila ibu menyusui melakukan puasa, rasanya sulit untuk memenuhi keseimbangan gizi dan kebutuhan energi yang memang lebih banyak, meski telah makan sebanyak mungkin ketika sahur ataupun saat berbuka puasa.
Besarnya kebutuhan energi bagi ibu menyusui erat kaitannya dengan frekuensi ibu memberikan ASI pada bayinya. Semakin sering ASI diberikan, semakin besar pula energi yang dikeluarkan. Akibatnya, ibu cepat lapar.
Porsi cukup bagi lansia, tetapi bergizi baik
Kriteria lansia yaitu bila usia seseorang lebih dari 60 tahun. Sejalan dengan perkembangan usianya, lansia akan mengalami kemunduran fungsi organ-organ tubuh yang menyebabkan terjadinya beberapa perubahan. Misalnya, menurunnya nafsu kebutuhan kalori dan nafsu makan, mudahnya terjadi gangguan pencernaan dan sirkulasi pada ginjal.
Pada lansia, sekira 20 persen sel-sel pada ginjalnya sudah tidak berfungsi lagi. Akibatnya, tak jarang dijumpai gangguan pengeluaran urine. Itulah sebabnya lansia dianjurkan agar minum air lebih banyak. Tujuannya menghindari terjadi sakit pinggang yang sering dijumpai pada lansia yang minum terlalu sedikit.
Meski lansia mengalami kemunduran fungsi organ-organ tubuhnya, bukan alasan untuk meninggalkan ibadah puasa. Boleh saja puasa, asal kondisinya sehat. Artinya, tidak sedang ataupun memunyai riwayat penyakit yang akan kambuh atau bertambah parah kalau ia puasa.
Hanya, jika lansia tetap ingin puasa, meski organ tubuhnya tidak berjalan maksimal, pengaturan gizi harus dilakukan lebih hati-hati. Setiap makanan yang dikonsumsi sewaktu berbuka ataupun sahur harus mengandung karbohidrat, vitamin, lemak, mineral, dan protein. Jumlah protein usahakan mencapai 15 persen dari jumlah kalori yang dibutuhkan. Bisa juga vitamin dan mineral diperbesar jumlahnya dengan cara minum tablet.
Karena keterbatasan sistem pencernaan pada lansia, pada saat berbuka puasa mulailah mengonsumsi makanan ringan dulu, terutama makanan yang mengandung karbohidrat. Sekira 5-10 menit kemudian, saat pencernaan mulai menyesuaikan dan menyiapkan pengeluaran enzim pencerna dan siap menerima makanan utama barulah lansia boleh mengonsumsi makanan besar.
Demikian pula ketika sahur, jangan makan sekenyang-kenyangnya. Hal yang penting makan secukupnya, tetapi bergizi baik. (Sumber: Pikiran Rakyat).***
BERPUASA berarti tidak makan dan minum serta tidak melakukan aktivitas seksual sekira lima belas jam sehari. Permasalahannya, apakah puasa memengaruhi kesehatan seseorang? Beberapa penelitian menunjukkan bahwa puasa mengakibatkan perubahan-perubahan parameter darah dan zat lainnya dalam tubuh seperti kenaikan kadar lemak, kolesterol, dan asam urat di dalam plasma darah, meski memang perubahan tersebut tidak sampai membahayakan kesehatan.
Menurut pakar kesehatan, selama puasa terlihat penurunan frekuensi dan peningkatan intake kalori. Kadar lipit darah meningkat sebagai akibat meningkatnya pengaliran asam lemak bebas. Ini terjadi bila seseorang makan sekaligus dalam jumlah besar satu kali sehari. Oleh sebab itu, disarankan saat berbuka puasa, pertama kali minumlah air sedikit dan makan makanan kecil dulu. Baru kemudian, makan dalam porsi biasa.
Dengan melihat terjadinya beberapa perubahan dalam mekanisme tubuh selama bulan puasa, tanpa mengesampingkan segi positifnya, bagaimana pula puasa pada anak-anak, ibu hamil atau menyusui, dan lansia? Akankah memengaruhi kesehatannya?
Pengosongan makanan pada lambung anak lebih cepat
Ajaran Islam menyebutkan, puasa diwajibkan bagi mereka yang sudah mencapai usia akil balig. Pada anak perempuan usia ini ditandai dengan datangnya haid pertama, sekira 10-16 tahun. Usia akil balig pada anak lelaki sekira 11-14,5 tahun ditandai dengan keluarnya sperma pertama kali. Jadi, anak di bawah usia akil balig tidak diwajibkan puasa. Hal ini erat kaitannya dengan proses tumbuh kembangnya.
Penyebabnya adalah pengosongan makanan di lambung anak lebih cepat tiga sampai empat jam dibandingkan orang dewasa. Dengan demikian, wajar bila anak mudah lapar. Di samping itu, pada usia balita atau saat anak menempuh pendidikan SD, waktunya banyak tersita oleh kegiatan fisik yang luar biasa, misalnya bermain atau olah raga. Terkadang di kalangan tak mampu, anak-anak harus membantu orang tuanya bekerja. Aktivitas tinggi ini membutuhkan energi cukup yang hanya bisa dipenuhi dengan makanan bergizi dan adekuat.
Ibu hamil asal janinnya sehat
Hamil muda atau hamil tua, boleh saja puasa, dengan catatan, tidak sedang mengidap penyakit atau gangguan yang membahayakan keselamatan ibu dan janin. Asal ibu dan janin sehat, ibu bebas melakukan puasa.
Janin akan bertindak seperti parasit. Kalau ia kekurangan makan, bila ibu sehat, janin akan menggunakan cadangan makanan dalam tubuh ibu. Mudahnya, janin tidak akan kekurangan zat makanan yang dibutuhkan bagi pertumbuhan dan perkembangannya selama cadangan makanan tersebut cukup. Toh, bila ibu hamil tidak makan siang hari, cadangan makanan dalam tubuh tidak akan habis dan malamnya sudah dipenuhi lagi.
Jadi, yang perlu bagi ibu hamil yang puasa harus menjaga agar tubuh tidak kekurangan makan, terutama yang bernilai gizi tinggi. Porsi makannya per hari juga perlu ditingkatkan. Umumnya wanita hamil memerlukan kalori 1/6 dan protein 1/5 lebih banyak dibandingkan ketika tidak sedang hamil.
Memang ada pengecualian tertentu karena pertimbangan medis, ibu hamil disarankan absen puasa. Misalnya, penderita diabetes dibebaskan puasa bergantung pada kadar gula darah (umumnya kadar gula darah tinggi), berat ringannya penyakit, dan kesehatan umum. Pertimbangan lain, bila ibu hamil mengidap intra uterin growth reterdation, pertumbuhan janin terhambat karena fungsi ari-ari terganggu. Sementara itu, ari-ari berperan penting menjembatani antara ibu dan janin, yaitu mengatur segala sesuatu yang diperlukan janin dari ibunya. Entah itu berupa makanan atau zat-zat penting lainnya.
Ibu menyusui butuh energi lebih banyak
Kebutuhan nutrisi selama masa laktasi sedikit lebih banyak dibandingkan ibu yang tidak menyusui karena nutrisi pada ibu menyusui selain digunakan untuk dirinya sendiri, juga sangat dibutuhkan bayi dalam bentuk air susu ibu (ASI). Bayi akan merasa terpuaskan —juga sehat— bila sejak lahir hingga minimal empat bulan mendapatkan ASI dengan kualitas dan kuantitas cukup baik. Untuk mendapatkan ASI yang demikian, si ibu harus mendapatkan nutrisi yang cukup dan bergizi.
Boleh tidaknya ibu menyusui melakukan puasa bergantung pada kemauan si ibu itu sendiri. Bila ibu ingin menyusui bayinya secara benar dengan memberikan penuh ASI selama empat bulan, tentunya kebutuhan gizi harus terpenuhi secara baik pula. Bila ibu menyusui melakukan puasa, rasanya sulit untuk memenuhi keseimbangan gizi dan kebutuhan energi yang memang lebih banyak, meski telah makan sebanyak mungkin ketika sahur ataupun saat berbuka puasa.
Besarnya kebutuhan energi bagi ibu menyusui erat kaitannya dengan frekuensi ibu memberikan ASI pada bayinya. Semakin sering ASI diberikan, semakin besar pula energi yang dikeluarkan. Akibatnya, ibu cepat lapar.
Porsi cukup bagi lansia, tetapi bergizi baik
Kriteria lansia yaitu bila usia seseorang lebih dari 60 tahun. Sejalan dengan perkembangan usianya, lansia akan mengalami kemunduran fungsi organ-organ tubuh yang menyebabkan terjadinya beberapa perubahan. Misalnya, menurunnya nafsu kebutuhan kalori dan nafsu makan, mudahnya terjadi gangguan pencernaan dan sirkulasi pada ginjal.
Pada lansia, sekira 20 persen sel-sel pada ginjalnya sudah tidak berfungsi lagi. Akibatnya, tak jarang dijumpai gangguan pengeluaran urine. Itulah sebabnya lansia dianjurkan agar minum air lebih banyak. Tujuannya menghindari terjadi sakit pinggang yang sering dijumpai pada lansia yang minum terlalu sedikit.
Meski lansia mengalami kemunduran fungsi organ-organ tubuhnya, bukan alasan untuk meninggalkan ibadah puasa. Boleh saja puasa, asal kondisinya sehat. Artinya, tidak sedang ataupun memunyai riwayat penyakit yang akan kambuh atau bertambah parah kalau ia puasa.
Hanya, jika lansia tetap ingin puasa, meski organ tubuhnya tidak berjalan maksimal, pengaturan gizi harus dilakukan lebih hati-hati. Setiap makanan yang dikonsumsi sewaktu berbuka ataupun sahur harus mengandung karbohidrat, vitamin, lemak, mineral, dan protein. Jumlah protein usahakan mencapai 15 persen dari jumlah kalori yang dibutuhkan. Bisa juga vitamin dan mineral diperbesar jumlahnya dengan cara minum tablet.
Karena keterbatasan sistem pencernaan pada lansia, pada saat berbuka puasa mulailah mengonsumsi makanan ringan dulu, terutama makanan yang mengandung karbohidrat. Sekira 5-10 menit kemudian, saat pencernaan mulai menyesuaikan dan menyiapkan pengeluaran enzim pencerna dan siap menerima makanan utama barulah lansia boleh mengonsumsi makanan besar.
Demikian pula ketika sahur, jangan makan sekenyang-kenyangnya. Hal yang penting makan secukupnya, tetapi bergizi baik. (Sumber: Pikiran Rakyat).***
Berbahayakah Telur bagi Jantung?
Oleh Syae
BAGI semua orang, telur bukan makanan yang aneh. Sebagai sumber protein hewani, bahan pangan yang bentuknya lonjong dengan berat kurang lebih 60 gram ini oleh orang Amerika disebut sebagai wonderful food dan ada juga yang mengatakan ”kapsul gizi”.
Walaupun mengandung sumber gizi yang lengkap, tetapi masih ada yang beranggapan bahwa telur dapat menyebabkan penyakit jantung karena mengandung kolesterol. Sehingga, ada juga yang mengatakan bahwa memakan telur dua butir per hari kurang aman untuk kesehatan jantung.
Mengandung mineral lengkap
Telur mengandung gizi yang cukup lengkap. Di dalam sebuah telur terkandung sejumlah vitamin, protein, mineral, dan sejumlah asam lemak tidak jenuh. Kandungan lemak yang ada dalam telur berupa trigliserida (lemak netral), phospolipida (umumnya lecithin) yang berfungsi untuk menyediakan energi yang diperlukan untuk kegiatan sehari-hari, serta kolesterol yang digunakan untuk membentuk garam-garam empedu yang berguna untuk pencernaan lemak dan pangan.
Hampir semua jenis vitamin terdapat dalam telur kecuali vitamin C. Selain itu, telur juga mengandung mineral lengkap —kalsium, besi, phospor, natrium, kalium dan zinc— yang tidak dapat disamai oleh bahan pangan tunggal lainnya kecuali susu.
Sementara masih ada anggapan bahwa makan telur bisa menyebabkan sakit jantung karena telur banyak mengandung kolesterol. Anggapan ini tidak benar karena pada penderita jantung koroner didapati kadar kolesterol darah yang meningkat. Sedangkan dalam pembuluh darah jantung terdapat endapan kolesterol dan lemak lain pada dinding pembuluh darah yang menyebabkan pembuluh darah menyempit. Akan tetapi, sebenarnya keadaan ini hanya dijumpai pada:
1. Orang yang mempunyai penyakit keturunan (hyperlipedemia primer) karena kadar kolesterol dan lemak darah lainnya tinggi sehubungan adanya gangguan proses metabolisme lemak dalam tubuhnya.
2. Orang-orang yang mengonsumsi lemak dalam kedua hal di atas, tidak perlu khawatir karena kolesterol memang dibutuhkan oleh tubuh dalam jumlah yang cukup besar antara 1.000-1.500 mg. Apalagi seorang yang mengonsumsi dua butir telur per hari, sebenarnya ia baru memperoleh sekira 400 mg kolesterol.
Penderita jantung sendiri masih diperbolehkan mengonsumsi kolesterol sebanyak 200-300 mg atau sama dengan satu butir telur sehari. Dari hasil penelitian, memang ditemukan pada sebagian orang, telur memengaruhi kesehatan jantung. Bahkan, ada peneltian yang menunjukkan bahwa makan telur menurunkan kadar kolesterol. Mengapa?
Banyak variasi terhadap respons kolesterol telur belum dapat dijelaskan. Yang pasti, respons tersebut masih bersifat individual. Bagi orang normal yang tak sensitif terhadap kolesterol dan lemak jenuh, kandungan lemak jenuh telah memberikan nilai aman karena telur mengandung antara lain 4 gr lemak tidak jenuh dan lemak jenuh yang terdapat dalam kuning telur.
Telur mentah atau matang
Memakan telur sebaiknya dalam keadaan matang karena telur mentah tidak baik untuk kesehatan. Putih telur yang mentah mengandung senyawa avidin, suatu senyawa yang dihasilkan oleh selaput lendir saluran telur ayam ke dalam putih telur.
Avadin ini menghalangi penyerapan biotin —koensim yang mengakalisis karbon dioksida dan karboksilasi— dalam karboksilasi yang mengakalisasi fiksasi karbon dioksida. Sehingga bila seseorang memakan putih telur mentah, ia akan mengalami defisiensi biotin pada tubuhnya dan bila tubuh terus-menerus kekurangan biotin akan menyebabkan serangan dematitis pada sekeliling mata. Untuk menghindari hal ini, sebaiknya kita memakan telur matang atau dipanaskan terlebih dahulu. Dengan pemanasan avidin akan rusak dan penyerangan biotin tidak dihalangi.
Ibu hamil membutuhkan telur
Karena kandungan gizi yang cukup lengkap, telur berguna untuk ibu hamil, ibu menyusui, anak balita, dan anak remaja. Ibu hamil membutuhkan sejumlah tambahan vitamin dan mineral untuk pertumbuhan organ bayinya dan produksi ASI-nya.
Sedangkan anak balita terutama pada saat berusia 6 bulan, memerlukan gizi berkualitas baik yang digunakan untuk pertumbuhan otaknya. Karena pada umur tersebut, pertumbuhan otak sedang berkembang pesat. Kebutuhan gizi yang berkualitas baik ini terutama berupa protein dapat diperoleh dari telur.(Sumber: Pikiran Rakyat)***
BAGI semua orang, telur bukan makanan yang aneh. Sebagai sumber protein hewani, bahan pangan yang bentuknya lonjong dengan berat kurang lebih 60 gram ini oleh orang Amerika disebut sebagai wonderful food dan ada juga yang mengatakan ”kapsul gizi”.
Walaupun mengandung sumber gizi yang lengkap, tetapi masih ada yang beranggapan bahwa telur dapat menyebabkan penyakit jantung karena mengandung kolesterol. Sehingga, ada juga yang mengatakan bahwa memakan telur dua butir per hari kurang aman untuk kesehatan jantung.
Mengandung mineral lengkap
Telur mengandung gizi yang cukup lengkap. Di dalam sebuah telur terkandung sejumlah vitamin, protein, mineral, dan sejumlah asam lemak tidak jenuh. Kandungan lemak yang ada dalam telur berupa trigliserida (lemak netral), phospolipida (umumnya lecithin) yang berfungsi untuk menyediakan energi yang diperlukan untuk kegiatan sehari-hari, serta kolesterol yang digunakan untuk membentuk garam-garam empedu yang berguna untuk pencernaan lemak dan pangan.
Hampir semua jenis vitamin terdapat dalam telur kecuali vitamin C. Selain itu, telur juga mengandung mineral lengkap —kalsium, besi, phospor, natrium, kalium dan zinc— yang tidak dapat disamai oleh bahan pangan tunggal lainnya kecuali susu.
Sementara masih ada anggapan bahwa makan telur bisa menyebabkan sakit jantung karena telur banyak mengandung kolesterol. Anggapan ini tidak benar karena pada penderita jantung koroner didapati kadar kolesterol darah yang meningkat. Sedangkan dalam pembuluh darah jantung terdapat endapan kolesterol dan lemak lain pada dinding pembuluh darah yang menyebabkan pembuluh darah menyempit. Akan tetapi, sebenarnya keadaan ini hanya dijumpai pada:
1. Orang yang mempunyai penyakit keturunan (hyperlipedemia primer) karena kadar kolesterol dan lemak darah lainnya tinggi sehubungan adanya gangguan proses metabolisme lemak dalam tubuhnya.
2. Orang-orang yang mengonsumsi lemak dalam kedua hal di atas, tidak perlu khawatir karena kolesterol memang dibutuhkan oleh tubuh dalam jumlah yang cukup besar antara 1.000-1.500 mg. Apalagi seorang yang mengonsumsi dua butir telur per hari, sebenarnya ia baru memperoleh sekira 400 mg kolesterol.
Penderita jantung sendiri masih diperbolehkan mengonsumsi kolesterol sebanyak 200-300 mg atau sama dengan satu butir telur sehari. Dari hasil penelitian, memang ditemukan pada sebagian orang, telur memengaruhi kesehatan jantung. Bahkan, ada peneltian yang menunjukkan bahwa makan telur menurunkan kadar kolesterol. Mengapa?
Banyak variasi terhadap respons kolesterol telur belum dapat dijelaskan. Yang pasti, respons tersebut masih bersifat individual. Bagi orang normal yang tak sensitif terhadap kolesterol dan lemak jenuh, kandungan lemak jenuh telah memberikan nilai aman karena telur mengandung antara lain 4 gr lemak tidak jenuh dan lemak jenuh yang terdapat dalam kuning telur.
Telur mentah atau matang
Memakan telur sebaiknya dalam keadaan matang karena telur mentah tidak baik untuk kesehatan. Putih telur yang mentah mengandung senyawa avidin, suatu senyawa yang dihasilkan oleh selaput lendir saluran telur ayam ke dalam putih telur.
Avadin ini menghalangi penyerapan biotin —koensim yang mengakalisis karbon dioksida dan karboksilasi— dalam karboksilasi yang mengakalisasi fiksasi karbon dioksida. Sehingga bila seseorang memakan putih telur mentah, ia akan mengalami defisiensi biotin pada tubuhnya dan bila tubuh terus-menerus kekurangan biotin akan menyebabkan serangan dematitis pada sekeliling mata. Untuk menghindari hal ini, sebaiknya kita memakan telur matang atau dipanaskan terlebih dahulu. Dengan pemanasan avidin akan rusak dan penyerangan biotin tidak dihalangi.
Ibu hamil membutuhkan telur
Karena kandungan gizi yang cukup lengkap, telur berguna untuk ibu hamil, ibu menyusui, anak balita, dan anak remaja. Ibu hamil membutuhkan sejumlah tambahan vitamin dan mineral untuk pertumbuhan organ bayinya dan produksi ASI-nya.
Sedangkan anak balita terutama pada saat berusia 6 bulan, memerlukan gizi berkualitas baik yang digunakan untuk pertumbuhan otaknya. Karena pada umur tersebut, pertumbuhan otak sedang berkembang pesat. Kebutuhan gizi yang berkualitas baik ini terutama berupa protein dapat diperoleh dari telur.(Sumber: Pikiran Rakyat)***
Memperlambat Munculnya Uban
Oleh Syae
UBAN kerap diidentikkan dengan ketuaan karena hampir tak ada orang yang mengharapkan kehadirannya. Bila memungkinkan, rambut ingin tetap hitam sampai tua. Namun, apa boleh buat toh ada sebagian dari kita yang harus ”menderita” ubanan, bahkan pada usia yang dini (muda).
Penyebab uban sampai saat ini masih teka-teki. Oleh karena itu, sampai saat ini pun belum ditemukan cara yang jitu untuk mengatasinya selain hanya dengan cara menyemir rambut yang putih itu. Untuk memahami hal itu, agaknya yang terbaik yang bisa kita lakukan adalah tindakan pencegahan, di antaranya dengan pendekatan gizi.
Ketidakcukupan elemen Cu
Karena proses ubanan erat kaitannya dengan degradasi melanosit, timbul logika bahwa dengan menjaga secara tetap fungsi sel itu secara baik, proses ubanan bisa dicegah atau setidaknya diperlambat. Bagaimana caranya?
Peneliti Denks dan Stevens menyebutkan, demi terjadinya aktivitas tyrosin, tubuh membutuhkan masukan mineral tembaga (Cu) yang cukup. Tyrosin berperanan besar dalam mendukung kerja sel melanosit. Aktivitas tyrosin yang menurun mengakibatkan menurun pula aktivitas melanosit.
Kedua peneliti tersebut mendapati bahwa ketidakcukupan elemen Cu dapat berakibat terjadinya depigmentasi rambut yang salah satu tandanya adalah munculnya uban.
Makanan yang kaya Cu antara lain hati, ginjal, tiram, kerang, kacang-kacangan, dan polong-polongan kering. Disebut kaya karena mengandung Cu lebih dari 100 ug Cu per 100 kcal.
Kebutuhan normal Cu bergantung pada usia seseorang. Bayi kecil lebih besar memerlukan Cu yaitu 50 ug/kg/BB/hari. Sementara itu, anak besar (umur 5-15 tahun) membutuhkan 40 ug/kg/BB/hari dan 30 ug/kg/BB/hari untuk orang dewasa. Oleh karena itu, untuk mencegah ubanan, Anda dianjurkan untuk tidak berlebihan mengonsumsi Cu, tetapi cukup dengan kebutuhan-kebutuhan normal saja.
Akan tetapi, dalam mengonsumsi Cu ini, kita perlu memperhatikan agar pada saat yang bersamaan menghindari makan yang mengandung seng (Zn) terlalu tinggi karena mineral terakhir ini bisa berfungsi antagonis yaitu bisa meningkatkan pengeluaran Cu lewat feses.
Beberapa cara untuk menekan berlebihnya asupan seng ini yaitu dengan berolah raga, mengonsumsi makanan kaya vitamin, serta karbohidrat kasar karena semua ini mampu menghambat absorpsi seng oleh tubuh.
Kecuali kekurangan Cu, kenyataan lain menunjukkan bahwa penyakit anemia pernisiosa (salah satu penyakit kurang darah) juga dapat mempercepat lahirnya uban.
Penyakit tersebut tidak lain disebabkan tubuh kekurangan masukan vitamin B-12 yang kronis. Penyakit ini sebenarnya mudah diatasi sebagaimana disarankan oleh Minot dan Murphy (pemenang hadiah Nobel) dengan memakan hati dalam jumlah banyak. Selain hati, makanan sumber vitamin B-12 adalah daging dan produknya serta dalam jumlah sedikit pada susu dan produknya.
Perlu diketahui, vitamin B-12 tidak pernah didapati pada tanaman, kecuali jika ada kontaminasi dengan mikroba (misalnya nodula yang terdapat pada jenis kacang-kacangan tertentu yang mengandung sedikit vitamin B-12).
Untuk mendapatkan manfaat optimal vitamin B-12 ini, sebaiknya dihindari mengonsumsi vitamin C dosis tinggi yang menurut penelitian bisa memberi pengaruh berlawanan pada pemanfaatan vitamin B-12. Bahkan, pasien yang diberikan dosis lebih tinggi (1 gram setiap hari) akan menderita defisiensi vitamin itu.
Zat gizi lain yang disarankan untuk mencegah kehadiran uban adalah protein. Sebaiknya, jangan mengonsumsi protein kurang dari 1-1,5 gram kg/BB/hari. Selain itu, disarankan mengonsumsi vitamin B-2, seperti yodium dan minyak ikan karena membantu memelihara kesehatan rambut.
Vitamin B-2 banyak ditemukan pada yoghurt, produk hewani, dan sayur-mayur berdaun hijau. Selain itu, yodium terdapat pada udang dan hasil laut lainnya, bawang bombay, dan sayuran yang ditanam di tanah beryodium. Akan halnya minyak ikan atau minyak tumbuhan, vitamin ini berfungsi baik dalam membuat rambut berkilau dan lembut. (Sumber: Pikiran Rakyat)***
UBAN kerap diidentikkan dengan ketuaan karena hampir tak ada orang yang mengharapkan kehadirannya. Bila memungkinkan, rambut ingin tetap hitam sampai tua. Namun, apa boleh buat toh ada sebagian dari kita yang harus ”menderita” ubanan, bahkan pada usia yang dini (muda).
Penyebab uban sampai saat ini masih teka-teki. Oleh karena itu, sampai saat ini pun belum ditemukan cara yang jitu untuk mengatasinya selain hanya dengan cara menyemir rambut yang putih itu. Untuk memahami hal itu, agaknya yang terbaik yang bisa kita lakukan adalah tindakan pencegahan, di antaranya dengan pendekatan gizi.
Ketidakcukupan elemen Cu
Karena proses ubanan erat kaitannya dengan degradasi melanosit, timbul logika bahwa dengan menjaga secara tetap fungsi sel itu secara baik, proses ubanan bisa dicegah atau setidaknya diperlambat. Bagaimana caranya?
Peneliti Denks dan Stevens menyebutkan, demi terjadinya aktivitas tyrosin, tubuh membutuhkan masukan mineral tembaga (Cu) yang cukup. Tyrosin berperanan besar dalam mendukung kerja sel melanosit. Aktivitas tyrosin yang menurun mengakibatkan menurun pula aktivitas melanosit.
Kedua peneliti tersebut mendapati bahwa ketidakcukupan elemen Cu dapat berakibat terjadinya depigmentasi rambut yang salah satu tandanya adalah munculnya uban.
Makanan yang kaya Cu antara lain hati, ginjal, tiram, kerang, kacang-kacangan, dan polong-polongan kering. Disebut kaya karena mengandung Cu lebih dari 100 ug Cu per 100 kcal.
Kebutuhan normal Cu bergantung pada usia seseorang. Bayi kecil lebih besar memerlukan Cu yaitu 50 ug/kg/BB/hari. Sementara itu, anak besar (umur 5-15 tahun) membutuhkan 40 ug/kg/BB/hari dan 30 ug/kg/BB/hari untuk orang dewasa. Oleh karena itu, untuk mencegah ubanan, Anda dianjurkan untuk tidak berlebihan mengonsumsi Cu, tetapi cukup dengan kebutuhan-kebutuhan normal saja.
Akan tetapi, dalam mengonsumsi Cu ini, kita perlu memperhatikan agar pada saat yang bersamaan menghindari makan yang mengandung seng (Zn) terlalu tinggi karena mineral terakhir ini bisa berfungsi antagonis yaitu bisa meningkatkan pengeluaran Cu lewat feses.
Beberapa cara untuk menekan berlebihnya asupan seng ini yaitu dengan berolah raga, mengonsumsi makanan kaya vitamin, serta karbohidrat kasar karena semua ini mampu menghambat absorpsi seng oleh tubuh.
Kecuali kekurangan Cu, kenyataan lain menunjukkan bahwa penyakit anemia pernisiosa (salah satu penyakit kurang darah) juga dapat mempercepat lahirnya uban.
Penyakit tersebut tidak lain disebabkan tubuh kekurangan masukan vitamin B-12 yang kronis. Penyakit ini sebenarnya mudah diatasi sebagaimana disarankan oleh Minot dan Murphy (pemenang hadiah Nobel) dengan memakan hati dalam jumlah banyak. Selain hati, makanan sumber vitamin B-12 adalah daging dan produknya serta dalam jumlah sedikit pada susu dan produknya.
Perlu diketahui, vitamin B-12 tidak pernah didapati pada tanaman, kecuali jika ada kontaminasi dengan mikroba (misalnya nodula yang terdapat pada jenis kacang-kacangan tertentu yang mengandung sedikit vitamin B-12).
Untuk mendapatkan manfaat optimal vitamin B-12 ini, sebaiknya dihindari mengonsumsi vitamin C dosis tinggi yang menurut penelitian bisa memberi pengaruh berlawanan pada pemanfaatan vitamin B-12. Bahkan, pasien yang diberikan dosis lebih tinggi (1 gram setiap hari) akan menderita defisiensi vitamin itu.
Zat gizi lain yang disarankan untuk mencegah kehadiran uban adalah protein. Sebaiknya, jangan mengonsumsi protein kurang dari 1-1,5 gram kg/BB/hari. Selain itu, disarankan mengonsumsi vitamin B-2, seperti yodium dan minyak ikan karena membantu memelihara kesehatan rambut.
Vitamin B-2 banyak ditemukan pada yoghurt, produk hewani, dan sayur-mayur berdaun hijau. Selain itu, yodium terdapat pada udang dan hasil laut lainnya, bawang bombay, dan sayuran yang ditanam di tanah beryodium. Akan halnya minyak ikan atau minyak tumbuhan, vitamin ini berfungsi baik dalam membuat rambut berkilau dan lembut. (Sumber: Pikiran Rakyat)***
Membuat Gula dari Singkong
Oleh Handri
(mahasiswa Program Studi Teknologi Pangan Universitas Padjadjaran)
KRISIS ekonomi di negara kita sampai saat ini masih terus berlanjut. Dampak negatif yang paling dapat dirasakan oleh masyarakat dari keadaan ini adalah terus menanjaknya harga-harga terutama bahan bakar minyak dan sembilan bahan pokok.
Gula pasir sebagai salah satu komoditas sembilan bahan pokok juga tak luput mengalami kenaikan harga. Sejak dulu, sebenarnya negara kita memang sudah mengalami kekurangan suplai gula pasir karena tingkat produksi dalam negeri masih sangat rendah. Hal ini disebabkan oleh terbatasnya areal tanah yang sesuai untuk tanaman tebu ditambah dengan besarnya modal yang diperlukan untuk mendirikan atau merehabilitasi pabrik-pabrik gula.
Dalam keadaan seperti itu, diperkirakan Indonesia tetap akan menghadapi masalah kekurangan gula sampai beberapa dasawarsa mendatang. Salah satu solusi yang mungkin dapat ditawarkan adalah mencari alternatif lain bahan pembuat gula selain tebu, seperti nira sadapan pohon lontar atau bahan pati. Bahan baku pati bisa diperoleh dari beberapa jenis tanaman pangan dan salah satunya adalah ubi kayu atau singkong.
Sebagaimana kita ketahui, singkong mudah ditanam dan budidayanya tidak terlalu sulit serta jarang terserang hama penyakit. Singkong sudah sangat memasyarakat di seluruh tanah air, harganya relatif murah, dan telah banyak dijadikan makanan olahan tradisional.
Singkong merupakan komoditas pertanian yang memiliki prospek cukup baik. Tahun 1982 sampai 1987, Indonesia mendapat kuasa ekspor gaplek ke negara-negara MEE dalam jumlah mencapai 825.000 ton. Penduduk Indonesia sendiri masih mengonsumsi singkong sebagai komoditas pangan sebesar 8,25 juta ton atau sekira 51% dari kebutuhan nasional sebanyak l5,06 juta ton pada tahun l988. Singkong digunakan untuk pakan ternak sebesar 272.000 ton, industri nonpakan 1,13 juta ton, dan industri tapioka 3 juta ton (1989).
Dari segi kandungan kimia dan gizi, singkong kaya akan karbohidrat dan vitamin C serta rendah lemak. Berdasarkan FAO Food Balance Sheet 1964-1968, singkong dapat mencukupi 50% kebutuhan kalori total atau 90% kebutuhan kalori berupa karbohidrat bagi penduduk Afrika Tengah. Di Indonesia, singkong memenuhi 15% kebutuhan kalori total atau 31% kebutuhan kalori berupa karbohidrat.
Berikut kandungan nilai gizi tanaman singkong:
Zat Makanan Jumlah
Kalori (joule) 567,0Air (g) 65,5Protein (g) 1,0Karbohidrat (g) 32,4Lemak (g) 0,2Serat (g) 1,0Abu (g) 0,9Kalsium (mg) 26,0Fosfor (mg) 32,0Besi (mg) 0,9Thiamin (mg) 0,05Riboflavin (mg) 0,04Niacin (mg) 0,6 Asam Askorbat (mg) 34,0
DARI data-data di atas, sangat jelas bahwa pemanfaatan singkong sebagai salah satu komoditas pertanian yang melimpah masih sangat kurang. Untuk itu, pembuatan gula dari singkong menjadi salah satu usaha dalam peningkatan nilai tambah singkong agar lebih dimanfaatkan, selain dari tujuan utama untuk mencari alternatif bahan pembuat gula nontebu.
Pembuatan gula dari singkong pada dasarnya sama seperti pembuatan sirup glukosa dan maltosa dalam sebuah industri. Prinsipnya adalah menghidraulis pati dari singkong menjadi glukosa melalui proses pengolahan tertentu. Dalam hal ini, untuk skala rumah tangga, prosesnya dapat kita sederhanakan dengan memasak susu pati dari singkong sehingga didapat cairan glukosa yang rasanya manis. Bahan yang diperlukan hanya singkong, air, dan sedikit HCl (asam klorida). Adapun alat yang digunakan antara lain pisau, panci, parutan, kain penyaring, dan kompor.
Langkah pembuatannya sebagai berikut:
1. Singkong dipotong dari batangnya.
2. Dikupas kulitnya dan dicuci.
3. Singkong dihancurkan dengan parutan. Penghancuran ini bertujuan mendapatkan sari pati dari singkong.
4. Hasil parutan dicampur dengan air kemudian disaring menggunakan kain penyaring sehingga air yang bercampur pati akan lolos.
5. Air perasan yang diperoleh tersebut lalu disaring kembali agar benar-benar bersih. Hasil peyaringan kedua ini adalah susu pati.
6. Susu pati yang didapat kemudian dimasak selama beberapa jam setelah itu tambahkan sedikit HCl.
7. Hasil pemasakan susu pati merupakan cairan dengan rasa sangat manis yang terjadi akibat perubahan sebagian besar pati menjadi gula (glukosa).
Catatan: Saat pemasakan, dijaga agar kandungan air dalam susu pati tidak terlalu banyak yang hilang (menguap). (Sumber: Pikiran Rakyat)***
(mahasiswa Program Studi Teknologi Pangan Universitas Padjadjaran)
KRISIS ekonomi di negara kita sampai saat ini masih terus berlanjut. Dampak negatif yang paling dapat dirasakan oleh masyarakat dari keadaan ini adalah terus menanjaknya harga-harga terutama bahan bakar minyak dan sembilan bahan pokok.
Gula pasir sebagai salah satu komoditas sembilan bahan pokok juga tak luput mengalami kenaikan harga. Sejak dulu, sebenarnya negara kita memang sudah mengalami kekurangan suplai gula pasir karena tingkat produksi dalam negeri masih sangat rendah. Hal ini disebabkan oleh terbatasnya areal tanah yang sesuai untuk tanaman tebu ditambah dengan besarnya modal yang diperlukan untuk mendirikan atau merehabilitasi pabrik-pabrik gula.
Dalam keadaan seperti itu, diperkirakan Indonesia tetap akan menghadapi masalah kekurangan gula sampai beberapa dasawarsa mendatang. Salah satu solusi yang mungkin dapat ditawarkan adalah mencari alternatif lain bahan pembuat gula selain tebu, seperti nira sadapan pohon lontar atau bahan pati. Bahan baku pati bisa diperoleh dari beberapa jenis tanaman pangan dan salah satunya adalah ubi kayu atau singkong.
Sebagaimana kita ketahui, singkong mudah ditanam dan budidayanya tidak terlalu sulit serta jarang terserang hama penyakit. Singkong sudah sangat memasyarakat di seluruh tanah air, harganya relatif murah, dan telah banyak dijadikan makanan olahan tradisional.
Singkong merupakan komoditas pertanian yang memiliki prospek cukup baik. Tahun 1982 sampai 1987, Indonesia mendapat kuasa ekspor gaplek ke negara-negara MEE dalam jumlah mencapai 825.000 ton. Penduduk Indonesia sendiri masih mengonsumsi singkong sebagai komoditas pangan sebesar 8,25 juta ton atau sekira 51% dari kebutuhan nasional sebanyak l5,06 juta ton pada tahun l988. Singkong digunakan untuk pakan ternak sebesar 272.000 ton, industri nonpakan 1,13 juta ton, dan industri tapioka 3 juta ton (1989).
Dari segi kandungan kimia dan gizi, singkong kaya akan karbohidrat dan vitamin C serta rendah lemak. Berdasarkan FAO Food Balance Sheet 1964-1968, singkong dapat mencukupi 50% kebutuhan kalori total atau 90% kebutuhan kalori berupa karbohidrat bagi penduduk Afrika Tengah. Di Indonesia, singkong memenuhi 15% kebutuhan kalori total atau 31% kebutuhan kalori berupa karbohidrat.
Berikut kandungan nilai gizi tanaman singkong:
Zat Makanan Jumlah
Kalori (joule) 567,0Air (g) 65,5Protein (g) 1,0Karbohidrat (g) 32,4Lemak (g) 0,2Serat (g) 1,0Abu (g) 0,9Kalsium (mg) 26,0Fosfor (mg) 32,0Besi (mg) 0,9Thiamin (mg) 0,05Riboflavin (mg) 0,04Niacin (mg) 0,6 Asam Askorbat (mg) 34,0
DARI data-data di atas, sangat jelas bahwa pemanfaatan singkong sebagai salah satu komoditas pertanian yang melimpah masih sangat kurang. Untuk itu, pembuatan gula dari singkong menjadi salah satu usaha dalam peningkatan nilai tambah singkong agar lebih dimanfaatkan, selain dari tujuan utama untuk mencari alternatif bahan pembuat gula nontebu.
Pembuatan gula dari singkong pada dasarnya sama seperti pembuatan sirup glukosa dan maltosa dalam sebuah industri. Prinsipnya adalah menghidraulis pati dari singkong menjadi glukosa melalui proses pengolahan tertentu. Dalam hal ini, untuk skala rumah tangga, prosesnya dapat kita sederhanakan dengan memasak susu pati dari singkong sehingga didapat cairan glukosa yang rasanya manis. Bahan yang diperlukan hanya singkong, air, dan sedikit HCl (asam klorida). Adapun alat yang digunakan antara lain pisau, panci, parutan, kain penyaring, dan kompor.
Langkah pembuatannya sebagai berikut:
1. Singkong dipotong dari batangnya.
2. Dikupas kulitnya dan dicuci.
3. Singkong dihancurkan dengan parutan. Penghancuran ini bertujuan mendapatkan sari pati dari singkong.
4. Hasil parutan dicampur dengan air kemudian disaring menggunakan kain penyaring sehingga air yang bercampur pati akan lolos.
5. Air perasan yang diperoleh tersebut lalu disaring kembali agar benar-benar bersih. Hasil peyaringan kedua ini adalah susu pati.
6. Susu pati yang didapat kemudian dimasak selama beberapa jam setelah itu tambahkan sedikit HCl.
7. Hasil pemasakan susu pati merupakan cairan dengan rasa sangat manis yang terjadi akibat perubahan sebagian besar pati menjadi gula (glukosa).
Catatan: Saat pemasakan, dijaga agar kandungan air dalam susu pati tidak terlalu banyak yang hilang (menguap). (Sumber: Pikiran Rakyat)***
Langganan:
Postingan (Atom)