Halaman

Perhatian Keluarga menangani Pasien Menahun

Oleh Yeni

SIAPAPUN tak berkeinginan dirinya sakit. Namun, kondisi seseorang mungkin membuatnya terbaring sakit. Bila sesaat dan segera pulih, alhamdulillah tidaklah masalah, berarti kesehatannya memungkinkan ia melakukan beragam aktivitas. Hidupnya kembali bisa melakukan setiap hal sesuai prioritas keinginan.
Akan tetapi, bila sebaliknya yang terjadi, artinya seseorang itu sakit berkelanjutan, kronis, dan bahkan menahun, yang dibutuhkan adalah perhatian orang lain disamping keyakinan sembuh dari si penderita.
Tentunya pengobatan adalah usaha pertama. Usaha itu membuat penderita diyakinkan untuk segera sembuh dan percaya akan kesembuhannya. Yang dibutuhkan bukan semata-mata kesiapan material, tetapi mental spiritual, baik untuk si sakit maupun keluarganya.
Dalam kondisi sakit berkepanjangan, penderita biasanya frustasi. Sifat-sifat demikian ditandai dengan banyaknya mengeluh. Keluhannya itu memiliki dua kemungkinan sebab yang berasal dari sakit fisik itu sendiri atau psikis.
Yang pertama, membutuhkan pengobatan medis dan malah mengorbankan alternatif, tentu saja secara intensif. Yang kedua membutuhkan pengobatan psikis, suatu cara memahami dan merespons persoalan.
Si penderita akan merasa dirinya terasing dan sendirian atau pada kasus tertentu merasa terbuang. Mengingat yang mendominasi adalah perasaan, maka yang dibutuhkan adalah pendekatan yang memahami perasaan sakitnya. Gejala ini ditandai dengan banyaknya termenung dan melamun, di samping keluhan yang tak berkesudahan itu sendiri.
Bila persoalan itu ditanggapi dengan argumentasi (pemikiran), yang terjadi adalah silang pendapat, debat kusir atau hal-hal yang tidak menguntungkan kedua belah pihak.
Pasien merasa dikomentari, padahal dirinya tidak membutuhkan komentar. Yang diperlukan adalah seorang pendengar, yang mengangguk atau bersifat responsif sebelumnya, menggugah motivasinya. Artinya bahasa hati lebih diperlukan karena menyangkut kepekaan perasaan.
Tanpa itu, pasien akan berada pada kondisi yang tak berarti, ia memikirkan sakit fisiknya yang dirasa belum sembuh-sembuh dan ia juga merasa disepelekan orang-orang terdekatnya.
Sakit perasaan sesungguhnya membuat pasien melarikan diri dari masalah. Keinginan itu dianggap terpenuhi bila orang terdekatnya memenuhi keinginan pelariannya. Mungkin saja yang dibutuhkan adalah menghiburkan diri, relaksasi mental yang memuatnya tenang. Bahkan lebih banyak dengan bantuan agama yang penuh spiritualitas dan religiusitas yang ditopang dengan ayat-ayat kontekstual tentang sakit, sembuh/sehat, usaha sembuh, dll.
Yang dibutuhkan adalah gambaran hidup optimistis yang membuat penderita menerima sakit sebagai persoalan manusiawi, bisa dan dapat diatasi. Optimisme memacu motivasinya disugesti. Melalui keyakinan bahwa sakit itu bisa dan pasti ada obatnya, penderita akan memandang kenyataan sakit yang dialami sebagai sesuatu yang enteng dan ringan.
Kalau penderita diberi gambaran pesimis, katakanlah kematian, penderita akan menganggap hidupnya tak berarti, begitu pun kesembuhannya kelak menjadi percuma. Seringkali penderita diberi saran-saran yang membuatnya diperlakukan sebagai anak kecil.
Perasaan penderita yang sensitif, maka akan semakin sensitif menghadapi pelecehan seperti itu. Cara-cara positif itu sesungguhnya tinggal dikelola dengan seni berkomunikasi, seni yang melihat siapa yang diajak berkomunikasi sebagai prioritas, tentunya menyangkut pemahaman usia, karakter atau bahkan kualitas penderitaannya.
Pasien adalah manusia biasa, nasibnya kebetulan tidak seberuntung manusia sehat. Mungkin kehadirannya membebani orang-orang rumah, tapi percayalah dari situ justru orang-orang rumah bisa belajar banyak, bagaimana menangani ”beban” lain dan memerhatikan kasih sayang orang yang tak berdaya. Sekaligus bisa bercermin, bagai-mana menghindari dan menyi-kapi masalah bila kelak kebetulan kita menerimanya. Keikhlasan menjadi kata kunci penanganan. Tanpa itu, pasien dan orang-orang rumah akan ”menderita” lahir batin seumur-umur. (Sumber: Pikiran Rakyat)***

Belimbing Filipina, Komoditas Primadona

Oleh Rani Kartika Utami

”AI nako!” Demikian komentar seorang Filipina ketika ia baru saja menggigit buah belimbing dalam genggamannya. Detik beri-kutnya, ia tampak sibuk menye-ruput-nyeruput cairan manis yang keluar dari daging buah istimewa itu. Ia seperti lupa diri. Padahal, suasana di sekeliling Quiapo, pusat perdagangan grosir Quezon City — tempat ia berada — begitu ramai. Orang berlalu lalang tiada hentinya.
Sebenarnya, peristiwa itu wajar saja. Pasalnya, belimbing Filipina memang luar biasa. Aromanya yang harum dan cita rasanya yang legit telah membawa buah asal negerinya Macapagal Arroyo ini menjelajah lalu lintas ekspor impor. Entah mengapa, di Indonesia, belimbing ini belum begitu populer. Padahal, di negeri asalnya, ia merupakan komoditas primadona.
Belimbing berpenampilan langsing ini banyak dijajakan di Quiapo, Quezon City, Metro Manila. Bila ingin ke sana, orang bisa me-numpang jeepney, alat transportasi tradisional khas Filipina, jurusan Bell Air-Quiapo atau kalau ingin lebih puas mengunyah belimbing Filipina berikut menikmati keteduhan pohonnya, pergi saja ke perkebunan Los Banos.
Kini, belimbing Filipina mulai merangsek ke counter-counter buah di pasar-pasar swalayan di Indo-nesia. Karena cita rasanya yang istimewa, penggemarnya cukup ba-nyak. Namun sayang, pembudidayaannya masih langka. Berniat menanam?

Tumbuh pesat
Orang Indonesia lebih akrab dengan berbagai jenis belimbing top lainnya seperti belimbing sembiring, belimbing bangkok, belimbing dewi, dan belimbing wulan.
Sebaliknya, belimbing Filipina termasuk pendatang baru yang belum begitu populer. Padahal, ia memiliki beberapa keunggulan, yakni bercita rasa lebih manis dengan aroma harum, berukuran besar, bisa tumbuh pesat, dan cepat berbuah.
Pertumbuhan belimbing asal Filipina ini begitu mengagumkan. Bayangkan saja, ketika usianya baru mencapai satu tahun, tingginya bisa mencapai 2 meter. Percabangannya pun lebih kuat dibandingkan dengan belimbing jenis lain yang kebanyakan melengkung. Hal ini diikuti dengan kekokohan batang tanamannya. Kalau diukur, batang tanaman yang baru berusia satu tahun itu kira-kira sebesar lengan orang dewasa.

Budidaya tanaman
Belimbing Filipina bisa ditanam di mana saja. Dalam pot boleh, di lahan luas pun cocok, sedangkan ciri-ciri dari bibit belimbing yang berdaya tumbuh baik, antara lain berdaun lebat dan hijau, berbatang kokoh, dengan percabangan yang kuat. Permukaan batang tanaman mulus, berwarna kecoklatan.
Kalau kulit tidak seperti itu, misalnya bernoda keputihan atau berbintik keabuan di sana sini, kita patut curiga. Jangan-jangan, bibit itu ”korban kejahatan” cendawan. Daripada runyam, sebaiknya bibit seperti ini jangan dipilih. Satu hal, daun belimbing Filipina lebih lebar dibandingkan dengan daun belimbing jenis lainnya.
Bibit yang baru dibeli sebaiknya dirawat dulu di tempat teduh. Perawatannya dilakukan dengan menyemprot tanaman oleh pupuk daun (gandasil, metalik, vitalik, dan sebagainya). Jika perlu, beri tambahan pupuk kandang atau kompos secukupnya, lalu taburi dengan sedikit NPK. Setelah dirawat sekira 2-3 bulan, barulah bibit itu dipindah ke lokasi yang sudah ditetapkan.

Menyiapkan pot
Pot untuk bertanam belimbing idealnya berukuran seperti tong sampah (sekira 50 x 50 x 50 cm). Media tanam sebaiknya diambil dari tanah bekas buangan sampah. Tanah seperti ini biasanya berwarna kehitaman, cukup remah, dan kaya akan kandungan hara. Namun begitu, kita tidak bisa langsung memakainya. Sebelum tanah itu dimasukkan ke dalam pot, tanah itu harus dijemur dulu di bawah panas matahari. Maksudnya, untuk mengusir berbagai binatang kecil yang biasa bersemayam di situ. Tanah liat pun bisa dipakai untuk pengisi pot, hanya saja harus dicampur dengan pupuk kandang atau kompos, lalu ditambah pasir dengan perbandingan 1:1:1.
Campuran tanah tersebut bisa langsung ditempatkan ke dalam pot. Dua atau tiga hari kemudian, buatlah lubang tanam. Ukuran lubang dibuat sebesar ukuran kantong pembibitan. Selanjutnya, siramilah bibit tanaman. Keluarkan bibit dari kantongnya, tanamkan. Lakukan pemindahan ini pada sore hari agar si anak tanaman tidak tersiksa oleh sengatan matahari.

Perawatan tanaman
Setelah itu, rawatlah tanaman dengan teratur. Misalnya, dengan memberikan pupuk kandang atau pupuk buatan seperti tadi. Lakukan pemberian 3 bulan sekali dengan takaran: 1 genggam campuran urea 2 bagian, TSP 4 bagian, dan KCL 3 bagian. Pengganggu utama belimbing Filipina adalah lalat buah. Untuk itu, bungkuslah sejak buah masih kecil, dengan kertas semen. Setelah terbungkus, lakukan penyemprotan dengan obat antilalat seperti basudin thiodan, dan sebagainya.
Pengganggu lainnya adalah cendawan yang gemar menyerang bagian pangkal batang dekat leher akar. Cendawan ini bisa membuat bagian yang terserang jadi busuk dan kering. Untuk menangkalnya, semprotlah tanaman dengan obat antijamur seperti fungisida cobox.

Penanaman di kebun
Buatlah lubang tanam berukuran 60 x 60 x 60 cm. Kemudian, angin-anginkan lubang ini selama seminggu agar cukup teroksidasi. Kalau kebetulan tanah di situ cukup gembur, campurlah dengan pupuk kandang atau kompos sebanyak 2 karung untuk setiap lubang.
Jika tanah cukup liat atau mengandung banyak pasir, lakukanlah persiapan seperti penanaman dalam pot tadi. Setelah itu, barulah tanah galian hasil olahan diurugkan ke dalam lubang tanam. Siramlah tanah urugan, lalu diamkan selama 3 hari.
Kemudian, buat lagi lubang tanam di tanah urugan tadi. Lubang berukuran sama dengan ukuran kantong bibit belimbing. Tanamkan bibit berikut tanah dalam kantong.
Perawatan yang penting ialah tanaman diberi pupuk kandang atau kompos sebanyak 1 karung setiap tiga bulan sekali, sedangkan pupuk buatannya berupa campuran yang sama seperti sebelumnya, diberikan sebanyak 2 genggam atau lebih untuk setiap tanaman. Tanaman yang tumbuh rimbun, terutama cabang-cabangnya yang tumbuh ke dalam perlu dipangkas. Cabang-cabang ini merugikan karena tidak produktif.

Buah pertama
Pada bibit belimbing Filipina yang berasal dari okulasi setelah 3-6 bulan ditanam baik dalam pot maupun di kebun, sudah mulai berbunga. Namun, sebaiknya bunga pertama dibuang agar tanaman bisa tumbuh lebih besar. Bila usianya sudah mencapai usia 1-2 tahun, biarkan tanaman berbuah semuanya.

Nah, jika kita memiliki belimbing Filipina di kebun sendiri, tentu tak perlu jauh-jauh pergi ke Quiapo, Quezon City untuk mendapatkannya. (Sumber: Pikiran Rakyat).***

Sayuran Jenis Kubis, Antikanker

Oleh Muhtadi Puradi-nata, Dipl. Ing.
(alumnus jurusan teknik biomedis Fachhochschule Ciessen Jerman serta Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan STIKes Cirebon)

DI antara beragamnya jenis sayuran yang sehari-hari kita konsumsi, tentu ada sayur yang memiliki zat yang spesifik, antara lain kubis-kubisan jenis brasicca, juga termasuk brokoli brussels sprout, dan kembang kol. Pada sayuran tersebut terkandung zat spesifik anti karsinogen atau antikanker yang dapat mencegah/mengurangi risiko terkena kanker.
Hasil studi penelitian dari ”Deutsche Krebspforschung Zentralstelle Heidelberg”, Jerman menunjukkan bahwa tingkat ketahanan tubuh pada orang yang banyak mengonsumsi sayuran atau makanan berserat dan buah lebih tinggi, baik dalam mencegah kanker.
Hal yang sama ditunjukkan oleh hasil penelitian yang dilakukan tim ahli kesehatan dan penyakit kanker Universitas John Hopkins Amerika, yang kini terus dikembangkan mencari cara untuk pencegahan penyakit kanker.
Yaitu melalui nutrisi/mengonsumsi sayuran yang banyak mengandung zat antikarsinogen dan mengurangi zat yang dapat merangsang pembentukan sel-sel kanker dalam tubuh manusia.
Peneliti Dr. Paul Tallay dari tim ahli John Hopkins telah berhasil mengisolasi satu zat yang didapat dari sayur jenis kubis brokoli. Zat itu disebut sulforaphane yang bekerja menyingkirkan racun pemicu kanker.
Uji coba sebelumnya telah dilakukan pada hewan pengerat tikus membuktikan ekstrak sulforaphane dari brokoli itu mam -pu/berpotensi tinggi meningkatkan proses detoksifikasi yaitu melenyapkan toksin/racun dari dalam sel atau menetralisir zat karsinogen dalam sel. Makanan (sayuran dan buah) yang berserat tinggi, akan mampu bekerja lebih baik menyerap air dalam usus besar, hingga keadaan substansi di dalam usus besar itu termodifikasi. Ini berarti kotoran usus besar dapat keluar lebih cepat/lancar dan bakteri toksis berubah menjadi tidak toksis dan membantu dalam menghambat procursor zat yang bersifat karsinogetik/penimbul kanker.
Lebih jelasnya, satu protein dalam sel, yaitu enzima fase pertama mampu mengubah zat-zat kimia yang tidak berdaya menjadi zat yang bersifat karsinogenik atau menimbulkan kanker dengan mengacaukan pola genetik dalam sel. Satu protein lainnya, enzima fase kedua cenderung memblokir pebentukan zat yang bersifat karsinogenik.
Jadi, zat dalam brokoli atau kubis, yaitu sulforaphane itu mampu mengaktivasi enzima fase dua sehingga timbulnya kanker usus dapat dihambat. Para peneliti dari John Hopkins University telah mengekstrak lebih dulu zat sulforsphane yang efektif dari brokoli yang dikonsumsi masyarakat Amerika. Kini ditemukan juga sulforaphane dalam jumlah yang cukup banyak dalam daun bawang hijau, dan didapati pula dalam jahe.
Temuan lain yang anti kanker yaitu riboflavin. Riboflavin/vitamin B dapat membantu dalam memecah atau menguraikan zat yang bersifat karsinogenik yang dimetabolisasi oleh hati menjadi nonkarsinogen/tidak menimbulkan kanker.
Seperti yang telah disebutkan di atas, kembang kol merupakan salah satu dari jenis sayuran antikanker. Dengan mengonsumsi kembang kol setidaknya dapat mengurangi keracunan hati yang ditimbulkan oleh zat kimia yang mengontaminasi makanan, yaitu polybrominated biphenyl, dan aflatoksin/racun dari kapang aspergillus flavus yang bersifat karsinogenik.
Temuan lainnya menunjukkan glucosinolate secara alami ada pada kembang kol. Dari metabolisme glucosinolate dalam hati, kemudian efeknya dapat menghambat/mengurangi risiko terkena kanker hati. Perbanyaklah mengonsumsi sayuran! (Sumber: Pikiran Rakyat)***

Menjaga Keawetan Tahu dengan Asam Sorbat

Oleh Budi Imansyah
(pemerhati masalah kesehatan dan dosen pembimbing pada Akademi Kesehatan Lingkungan (AKL) Kutamaya, Bandung)

TAHU tentunya sangat populer di Indonesia. Dibuat dari kedelai dengan cara tradisional. Tahu banyak digemari oleh masyarakat, bahkan hampir setiap hari dapat dijumpai dalam menu keluarga karena harganya relatif murah, praktis, dan mudah didapat.
Tahu mengandung kurang lebih 75% air di samping protein, karbohidrat, dan lemak. Produk ini mudah sekali rusak sehingga merupakan media yang cocok untuk pertumbuhan mikroorganisme phatogen yang menyebabkan tahu tersebut cepat basi dan berbau busuk. Mengingat tahu memiliki peranan penting dan dapat menjadi media penularan penyakit, maka perlu untuk dijaga keamanannya.
Dalam menjaga keawetan tahu, maka dilakukan upaya penghambatan pertumbuhan jamur yang tumbuh pada tahu tersebut. Salah satu caranya adalah dengan pembubuhan asam sorbat. Pada dasarnya bahan pengawet itu banyak. Perusahaan-perusahaan pengolahan pangan atau masyarakat pada umumnya menggunakan bahan kimia sebagai zat pengawet yang ditambahkan ke dalam makanan dan minuman. Namun, terkadang sebagian produsen tidak mengetahui dosis yang aman digunakan sehingga pembubuhan bahan pengawet tersebut dapat menimbulkan reaksi pada tubuh. Asam sorbat merupakan pengawet yang efektif untuk mencegah tumbuhnya jamur dan lebih baik dari benzoat karena benzoat memiliki sifat toksin (racun) dua kali lipat dibanding asam sorbat. Dosis asam sorbat yang biasa digunakan sekisar 0,025%-0,1%.
**
SALAH satu kerugian yang terjadi akibat terdapatnya mikroorganisme (jamur) fatogen dalam makanan adalah terjadinya keru-sakan makanan. Bahan maka-nan terdiri atas protein, karbohidrat, lemak, vitamin, dan mineral. Bahan makanan tersebut merupakan ”medium” pertumbuhan yang baik bagi berbagai mikroorganisme.
Mikroorganisme dapat berperan dalam membusukkan protein, mempermentasi karbohidrat, dan menjadikan lemak dan minyak berbau tengik. Meskipun banyak mikroorganisme tidak berbahaya bagi manusia, beberapa organisme pencemar dapat mengakibatkan kerusakan, bahkan menimbulkan penyakit atau menghasilkan racun yang bersifat menguntungkan, misalnya; dapat menghasilkan produk-produk ma-kanan khusus seperti keju dan acar yang keduanya enak dimakan dan tidak mudah rusak.
Bentuk-bentuk kerusakan bahan pangan atau makanan yang disebabkan oleh mikroorganisme fatogen, di antaranya;
(1) Pembusukan (rots), yaitu rusaknya bahan pangan menjadi lunak dan berair yang disebabkan oleh mikroorganisme yang merusak struktur jaringan dari bahan makanan tersebut;
(2) Berlendir, yaitu tumbuhnya lendir pada permukaan bahan pangan umumnya disebabkan oleh terjadinya pertumbuhan mikroorganisme pada permukaan bahan makanan yang basah sehingga terjadi perubahan flavour, bau yang menyimpang atau pembentukan lendir dari bahan makanan tersebut;
(3) Perubahan warna yang disebabkan oleh terjadinya perubahan pigmen dari bahan makanan tersebut yang ditimbulkan oleh adanya koloni mikroorganisme;
(4) Ropiness (berlendir seperti tali), yaitu terjadinya perubahan pada bahan makanan yang disebabkan oleh mikroorganisme membentuk kapsul (kista) pada permukaan bahan makanan tersebut.
Menurut J. Pelczar. Jr, penyakit yang ditularkan oleh makanan terjadi akibat kerusakan dari makanan itu sendiri. Hal ini dapat terjadi karena berbagai sebab, di antaranya; penanganan makanan yang tidak higienis, selain itu ada beberapa makanan dari asalnya merupakan penyebab penyakit. Penyakit karena makanan dapat digolongkan dalam tiga golongan besar, yaitu; penyakit-penyakit yang disebabkan oleh perpindahan kuman oleh manusia; penyakit keracunan makanan; dan penyakit karena makanan telah terinfeksi oleh bakteri dan keracunan makanan bukan oleh bakteri.
Beberapa penyakit yang ditularkan pada manusia melalui makanan di antaranya adalah; botulism, salmonelosis, keracunan ma-kanan oleh staphylococcus dan keracunan oleh bahan kimia (bahan makanan tambahan).
**
MENURUT Pusat Penelitian dan Pengembangan Gizi Bogor, tahu merupakan gumpalan protein kedelai hasil penyaringan kedelai yang telah digiling dari air. Agar makanan tahu bisa awet atau bertahan lama, perlu diperhatikan pula bahan dari tahu itu sendiri. Mulai dari penelitian bahan makanan, penyimpanan bahan makanan, pengolahan bahan makanan, penyimpanan makanan matang, pengangkutan makanan, dan penyajian makanan.
Selain itu, sangatlah perlu dilakukan teknik atau tindakan dalam mencegah terjadinya kerusakan, mempertahankan mutu, menghindarkan terjadinya keracunan sehingga dapat mempermudah penanganan dan penyimpanan. Salah satu contohnya adalah penggunaan bahan pengawet (asam sorbat) untuk menjaga daya awet pada tahu. Namun, hal ini bergantung pula pada konsentrasi bahan pengawet yang diberikan, komposisi bahan maka-nan yang diawetkan, dan jenis mikroba yang akan dicegah pertumbuhannya.
Asam sorbat tergolong asam lemak monokarboksilat yang berantai lurus dan memiliki ikatan tak jenuh. Bentuk yang digunakan umumnya garam natrium dan kalium sorbat yang memiliki aktivitas tinggi untuk menghambat pertumbuhan jamur (agensia fungistatis) dan bakteri. Batas optimal efektivitasnya sekira PH 6,5 dan aktivitasnya menurun dengan meningkatnya PH. Asam sorbat umumnya lebih baik dari benzoat untuk pengawetan keju, margarin, ikan, dan kue.
Asam sorbat dan potasium sorbat berbentuk serbuk hablur dan butiran warna putih sampai agak coklat kekuning-kuningan, tidak berbau, atau berbau lemah. Menurut Chi-chriter, Freed W., sorbat digunakan dalam dosis sekisar 0,025%-0,1%. Beberapa dosis asam sorbat dapat dilihat dalam berbagai makanan, yaitu; margarin tidak lebih dari 0,2%; saus tomat atau acar maksimal 0,1%; keju dan produk keju 0,05% dan maksimal 0,2%; ikan yang dimakan maksimal 0,1%; juice buah dapat menggunakan potasium sorbat 0,025% sampai 0,1%.
Adapun mekanisme dari asam sorbat dalam mikroba (jamur) adalah jika asam sorbat disebut HA akan terdiosisasi menjadi H+ + A- di luar sel. Namun, tidak semua HA terdiosisasi, bahkan sebagian besar HA tersebut memasuki isi sel melalui membran sel dalam keadaan tidak terdiosisasi sehingga di dalam sel akan terurai menjadi H+ + A- dengan keseimbangan yang tidak sama.
Terjadinya penumpukan dan peningkatan H+ dan A- sangat mengganggu keseimbangan elektrolit mikroba sehingga diusahakan agar H+ + A- keluar dari isi sel. Pengeluaran H+ dan A- tersebut ”menguras” energi mikroba (ATP) dan merusak sistem metabolisme sehingga pertumbuhan terhenti, bahkan mikroba tersebut dapat mati.
**
PERLAKUAN asam sorbat pada tahu dilakukan dengan cara membubuhkan asam sorbat ke dalam adonan tahu. Kadar asam sorbat yang dibubuhkan pada adonan tahu yang merupakan dosis efektif asam sorbat dalam menekan pertumbuhan jamur tahu — berdasarkan penelitian Linawati (1992) — adalah 2,74 gram atau 0,0995% dalam 5 hari penyimpanan. Terdapat hubungan yang erat antara dosis asam sorbat dan jumlah jamur yang tumbuh pada tahu.
Namun, selain zat pengawet dari asam sorbat tersebut diupayakan, para penjamah makanan berpegang dari prinsip sanitasi makanan. Adapun prosesnya adalah sebagai berikut;
1. Pembuatan tahu dimulai dengan memisahkan kedelai dari kotoran, seperti kerikil, pasir, dan debu. Kemudian, kedelai ditimbang sebanyak 250 gram. Kedelai direndam dalam air bersih selama 6 hingga 7 jam.
2. Setelah perendaman cukup, kedelai dicuci kembali selanjutnya digiling dengan panambahan air sampai lumat (perbandingan dengan kedelai kering 10:1 sehingga jumlah kedelai yang dihasilkan 2.500 ml. Kemudian direbus/digodok dalam panci hingga mendidih. Dalam perebusan ini, busa yang terdapat di permukaan harus dibuang sampai habis sama sekali.
3. Dalam keadaan panas, bubur kedelai disaring dengan menggunakan kain kasa. Penyaringan ini dimaksudkan untuk memisahkan ampas sari pati kedelai.
4. Bubuhkan asam sorbat sebagai bahan pengawet sesuai dengan dosis yang telah ditentukan. Kemudian — masih dalam keadaan panas — air pati kedelai itu segera diberi asam cuka sedikit demi sedikit. Setelah penambahan asam cuka, itu akan timbul gumpalan.
5. Gumpalan-gumpalan tersebut akan mengendap secara perlahan-lahan. Setelah mengendap, gumpalan itu siap untuk dicetak. Endapan tahu kemudian diperas agar airnya keluar. Lempengan tahu direndam dalam air panas yang telah dibubuhi garam. Biarkan selama 10 menit sampai tahu tersebut mengeras, maka dapatlah tahu yang siap digoreng atau dijual.
Inilah sekelumit pembuatan tahu yang memiliki daya awet lebih lama dengan menggunakan pembubuhan asam sorbat sebagai pengawet makanan hasil produksi rumah tangga sehingga aman dimakan oleh konsumen. (Sumber: Pikiran Rakyat)***

Tidak Ingin Cepat Pikun? Rangsanglah Terus Otak Anda

Oleh Tonny Sumarsono

MUNGKIN di antara Anda ada yang tidak percaya, bahwa si genius fisika Albert Einsten — yang terkenal dengan teori relativitasnya itu — mencoba belajar bermain biola pada usia 55 tahun, juga dengan Sit Winston Churchill yang belajar melukis pada usia yang sudah uzur.
Rupanya ”keanehan” itu sekarang sudah pula banyak melanda para orang tua atau para manula dengan tujuan untuk tetap menjaga fungsi otaknya agar tetap berjalan normal.
Hal ini seiring pula dengan berbagai pemberitaan. Dilaporkan, orang yang punya kelainan mental di seluruh dunia ini meningkat cukup tinggi dengan penyebab yang macam-macam sehingga faktor ini juga cukup menyadarkan beberapa orang tua untuk terus ”bekerja” sesuai dengan kemampuannya masing-masing, yang penting terus merangsang otak untuk bekerja.
Tentunya Anda tidak mau kan menderita penyakit alzheiner atau penurunan daya ingat alias pikun? Para peneliti di Universitas Michigan, Amerika Serikat yang dipimpin oleh Prof. Denise Park menyatakan, tanpa rangsangan yang terus-menerus, maka daya ingat otak akan mulai berkurang pada usia sekira 20 tahun. Ya, usia yang masih sangat muda. Orang-orang pada usia ini biasanya tidak begitu peduli ketika mereka lupa nomor telefon sahabat karibnya atau nomor rumahnya sendiri, padahal mereka tidak sadar sebenarnya penurunan mental sudah mulai terjadi.
Park, yang juga Direktur Centre for Ageing & Cognition itu selanjutnya menjelaskan, pada usia 20 tahun, biasanya mereka tidak merasa kehilangan apa-apa walaupun sebenarnya kecepatan menurunnya daya ingat itu sama dengan yang dialami oleh mereka yang sudah berumur 60-70 tahun.
Peneliti lain dari Universitas Cambridge, Dr. Patrica Huppert dan koleganya mengatakan, daya ingat itu butuh pemanfaatan yang maksimal.
Pada kebanyakan orang muda dan hal ini lazim terjadi, aktivitas belajar mereka biasanya langsung mengendur atau bahkan sama sekali terhenti manakala mereka sudah lulus sekolahnya. Dari pada saat itu pula, maka daya ingat mereka akan menurun.
Kini pertanyaan yang timbul di benak kita, adakah cara jitu yang bisa menangkal agar daya ingat terus terpelihara bahkan sampai tua nanti meskipun mungkin intensitas ketajamannya tidak seperti orang yang masih muda. Jawabannya tentu saja ada dan menurut Dr. Bloom el al, dari St. Luke’s Roosevelt Hospital Centre, ada beberapa kiat yang bisa kita lakukan, antara lain:

a. Jaga dan pelihara tekanan darah Anda
Tentu saja kenaikan tekanan darah akan sangat berpengaruh pada kenormalan kerja organ tubuh, terutama otak kita yang vital ini. Periksalah dengan teratur tekanan darah Anda agar bisa terkontrol bila tekanannya tidak sesuai dengan usia Anda.

b. Jangan merokok
Ini adalah masalah klise yang sangat sulit diberantas, apalagi bagi mereka yang sudah jadi pencandu. Merokok bisa merusak pembuluh darah yang menuju ke otak.

c. Jangan minum alkohol
Ini juga sama saja, tapi mungkin tidak separah merokok. Konsumsi alkohol yang berlebihan bisa merusak otak. Walau demikian, ada juga penelitian yang mengatakan, dengan mengonsumsi alkohol sedikit saja/jarang-jarang, ternyata bisa memperkuat kerja jantung dan vaskuler. Sebaiknya, penelitian ini tidak usah terlalu dijadikan patokan yang mutlak.

d. Meminum Aspirin setidaknya 1 tablet per minggu
Dalam Journal of American Heart Association edisi Desember 2001 dikatakan, mengonsumsi setidaknya 1 tablet Aspirin dalam setiap minggunya akan mengurangi risiko terkena stroke iskemik, yaitu stroke akibat penggumpalan darah yang menutupi pembuluh darah yang memasok oksigen ke otak. Aspirin ternyata dapat mengencerkan darah dan menangkal pembekuan darah sehingga bisa mencegah kematian 100.000 orang per tahun di berbagai negara dunia.

e. Hati-hati menggunakan suplemen vitamin dan herbal
Beberapa asupan vitamin memang cukup membantu dalam upaya pencegahan terjadinya kepikunan dini. Vitamin E — sebagai antioksidan — memang telah terbukti khasiatnya, dengan dosis yang dianjurkan 400-800 IU/hari. Obat herbal Ginko Biloba juga telah dilaporkan cukup signifikan dalam menangkal hal yang sama dengan dosis sekira 120 mg/hari. Yang tidak diperbolehkan adalah mengonsumsi kedua jenis suplemen itu secara berlebihan karena bisa menyebabkan perdarahan. Jalan yang paling bijaksana adalah berkonsultasi dengan tenaga medis.

f. Stimulasikan otak Anda
Mungkin di antara hal-hal yang telah dipaparkan tadi, poin inilah yang paling penting dan berperan besar untuk menjaga keawetan otak dan memori Anda. Ada beberapa latihan yang menyenangkan, yang bisa Anda lakukan, yaitu:

1. Indera pendengaran
Stimulasikan dengan mendengarkan musik kesukaan dan berbicaralah dengan kawan dan kerabat dekat Anda.

2. Indera penglihatan
Rangsanglah dengan cara membaca, menulis, membuat lukisan pemandangan atau yang lainnya.

3. Indera peraba
Stimulasikan syaraf Anda dengan bekerja memakai tangan Anda sendiri, misalnya membuat kerajinan, melukis, berkebun, bercocok tanam, menyapu, atau memelihara ikan.

4. Indera perasa
Stimulasikan dengan mengonsumsi makanan yang Anda suka, lebih baik buatan sendiri.

5. Syaraf motorik
Stimulasikan syaraf Anda dengan kegiatan fisik/olah raga yang sesuai dengan kemampuan dan daya tahan Anda.

6. Lakukan ”push-up” otak, misalnya dengan mengisi teka-teki silang, bermain catur dengan teman dekat, memperbanyak perbendaharaan bahasa Inggris Anda ataupun bermain alat musik, baru seperti harpa atau rebab seperti yang dilakukan Einstein.
Senantiasa rangsanglah otak Anda untuk terus berpikir, bekerja, dan cobalah hal-hal baru dalam kehidupan Anda. Niscaya otak Anda akan tahan lama dan awet, bahkan sampai Anda tua renta sekalipun. Selamat mencoba semoga sukses. (Sumber: Pikiran Rakyat)***

Kesehatan Gigi dan Mulut Bikin ”PeDe”

Oleh Ny. C.A. Ariyanti P.S.

KEBERHASILAN seseorang sangat ditunjang oleh segala sesuatu yang dimiliki dan yang melekat pada pribadi orang tersebut.
Agar seseorang mencapai keberhasilan, ia harus memiliki hal-hal sebagai berikut.

A. Kemampuan pada bidang profesi yang dipilih.
Dalam menggeluti bidang tertentu, seseorang harus menguasai dan mendalaminya. Kemampuan harus terus ditambah dan selalu memperluas wawasan. Pada saat ini ilmu pengetahuan sangat pesat perkembangannya. Oleh sebab itu, seandainya ingin berhasil harus mampu mengejarnya.

B. Pribadi yang berbobot
Keberhasilan sangat bergantung pada pribadi yang dimilikinya. Bila seseorang memiliki pribadi yang berbobot, pasti ia akan disegani, dihormati, dan dicintai orang lain.
Agar memiliki pribadi yang berbobot, ada beberapa yang harus diperhatikan.

1. Berkepribadian yang berketuhanan.
Apa pun yang dilakukan selalu mengikuti norma-norma agama dalam melangkah selalu memohon restu pada Sang Pencipta. Senantiasa menerapkan setiap ajaran agama.
Contohnya adalah kita harus peduli pada kebersihan karena kebersihan sebagian dari iman. Termasuk kebersihan diri sendiri. Jika badan kita bersih dari ujung kaki sampai ujung rambut, selain kita mendapat pahala, pasti orang akan lebih menghargai kita karena kebersihan adalah cermin dari pribadi yang positif.

2. Cara berkomunikasi
Pribadi yang berbobot adalah yang bisa berkomunikasi kepada setiap orang, baik kata-kata yang digunakan maupun cara yang dipakai dalam berkomunikasi sehingga yang kita ajak berbicara merasa nyaman, senang, dan tertarik pada apa yang sedang dibicarakan.
Ada 2 macam komunikasi yang harus dikuasai:

a. Komunikasi verbal, dengan alat utama yaitu kemampuan bertutur kata dan mulut kita.
Karena mulut sangat penting dalam mengungkapkan kata-kata yang akan kita ucapkan, kita harus benar-benar menjaga kesehatan mulut agar nyaman digunakan dalam berkomunikasi. Contohnya, seandainya pada mulut kita timbul suatu penyakit, akan menimbulkan kesulitan berbicara. Apabila orang menderita halitosis (bau mulut), akan mengurangi rasa percaya diri dalam menyampaikan komunikasi. Pada orang yang bergigi ompong, akan menimbulkan bunyi yang aneh saat dia mengucapkan kata-kata tertentu. Jadi seindah dan semenarik apa pun kata-kata yang disampaikan, kalau alat berbicara tidak menunjang, akan berpengaruh buruk pada lawan bicara.
Lebih parah lagi dapat menimbulkan tidak respek, tidak mengerti maksud pembicaraan atau bahkan tidak suka diajak bicara.
Pada akhirnya si penderita menjadi tidak percaya diri dalam berkomunikasi, menjadi pendiam, tertutup, dan tidak suka bergaul.

b. Komunikasi nonverbal, dengan alat utama yaitu bahasa tubuh dan busana yang kita kenakan.
Bahasa tubuh adalah sikap tubuh kita yang sangat berpengaruh pada penilaian cara berkomunikasi seseorang. Oleh sebab itu harus pula dikuasai etika-etika yang dapat menimbulkan kesan positif terhadap orang lain. Contohnya, seseorang yang menutup mulut saat berbicara akan mencerminkan rasa kurang percaya diri.

3. Memerhatikan penampilan.
Penampilan bisa berarti luas, tetapi pada kesempatan ini yang dimaksud dengan penampilan adalah keindahan pribadi yang dilihat dari segi estetika. Penampilan yang kita tampilkan harus menyeluruh dari ujung rambut sampai ujung kaki, meliputi;

a. Keserasian busana.
Busana yang dikenakan harus serasi terhadap postur tubuh, cuaca dan kesempatan. Begitu pula seperti sepatu, tas, dll., harus sesuai dengan busana yang kita kenakan.

b. Kebersihan tubuh.
Kebersihan sangat menunjang penampilan. Bayangkan apabila baju yang kita kenakan kusut, kuku tangan hitam, gigi kotor, dll., pasti orang lain akan enggan mendekat.

c. Sikap ramah.
Penampilan seseorang akan terkesan positif dan menyenangkan apabila memiliki sikap ramah. Dengan tersenyum, akan memengaruhi orang lain menjadi tenang dan aman. Agar senyum menjadi indah, harus ditunjang dengan gigi dan mulut yang terawat.
Jika terlihat gigi yang berantakan, pasti berkesan kurang baik oleh yang melihatnya. Pada intinya penampilan ditunjang oleh beberapa hal di atas, tidak boleh terlewatkan satu pun.
Contohnya, apabila seseorang mengenakan busana yang serasi karya perancang terkenal, ramah, dan supel, tetapi saat tersenyum atau tertawa, terlihat gigi yang berantakan, bibir pecah-pecah dan menderita halitosis, hal itu sangat berpengaruh pada penampilan secara keseluruhan. Yang seharusnya mendapat nilai 9, akan menjadi mendapat nilai 5 saja.

Dengan demikian, jangan disepelekan karena kesehatan gigi dan mulut sangat berpengaruh terhadap rasa percaya diri seseorang dan dengan rasa percaya diri serta ditunjang dengan kemampuan, pasti akan mencapai keberhasilan dalam berkarier.(Sumber: Pikiran Rakyat)***

Menumbuhkan Kebiasaan Membaca pada Anak

Oleh Drs. Sukmana

HIDUP tidak hanya bernapas, tetapi hidup harus lebih baik dari waktu ke waktu. Hari ini harus lebih baik dari hari kemarin. Hari esok harus lebih baik dibandingkan dengan hari ini. Orang yang hari ini lebih jelek dari hari kemarin merupakan orang yang celaka. Orang yang hari ini sama dengan hari kemarin merupakan orang yang merugi. Dan, orang yang hari ini lebih baik dibandingkan dengan hari kemarin merupakan orang yang beruntung. Dalam menjalani kehidupan harus ada kemajuan.
Untuk mencapai kemajuan atau hidup lebih baik harus diusahakan dengan sungguh-sungguh. Di samping itu, untuk menjalani kehidupan dibutuhkan ilmu pengetahuan. Salah satu kunci ilmu pengetahuan, yaitu membaca. Karena dengan membaca dapat membuka cakrawala atau wawasan dalam menangga-pi/menyikap kehidupan. Dengan membaca dapat memahami sesuatu yang sebelumnya tidak diketahui.
Untuk itu setiap orang harus rajin membaca, baik itu membaca alam sekitarnya maupun membaca apa yang tertulis, buku, majalah, atau koran. Kegiatan membaca ini diperintahkan oleh Allah SWT sebagaimana dalam firmanya:
”Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Menciptakan, Dia telah Menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, Tuhanmulah Yang Paling Pemurah, Yang Mengajarkan (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS, 96: 1-5).
Mengingat pentingnya membaca, maka membaca harus ditumbuhkan sejak dini. Artinya, mulai kanak-kanak harus dibiasakan untuk membaca (buku). Buku merupakan jendela informasi dunia.
Buku gudangnya ilmu dan membaca adalah kuncinya. Apabila sejak kanak-kanak sudah biasa membaca, pada saat dewasa tidak akan mengalami kesulitan dalam hal membaca. Ia akan relatif mudah memahami apa yang telah dibacanya. Pada giliranya akan termotivasi (terdorong) untuk mengamalkan sesuatu yang telah dibaca. Untuk menumbuhkan kebiasaan membaca (buku) pada anak dapat dilakukan dengan berbagai cara.

Pertama, perlihatkan buku bergambar. Supaya anak tertarik untuk membaca, perlihatkan buku-buku atau majalah-majalah yang banyak gambarnya.
Gambar yang penuh dengan aneka warna. Dengan seringnya melihat buku atau majalah yang menarik, lama-kelamaan akan tertarik untuk membaca seiring dengan kemampuannya untuk membaca.

Kedua, membacakan buku. Bagi anak yang belum bisa membaca, orang tua hendaknya membacakan buku untuk anak. Buku yang dibaca, yaitu buku cerita yang dekat dengan kehidupan anak sendiri. Bahasanya sederhana dan mudah dipahami oleh anak.
Dalam hal ini, orang tua seyogianya pandai-pandai memilah dan memilih buku yang cocok untuk anak. Jangan sampai anak merasa kesulitan dalam memahami isi bacaan/cerita yang disampaikan oleh orang tua.

Ketiga, teladan orang tua. Perbuatan anak pada awalnya berdasarkan imitasi, contoh atau teladan. Apa yang dilakukan anak banyak yang berdasarkan imitasi atau peniruan dari orang tuanya.
Dalam hal ini anak senang meniru apa yang dilakukan oleh orang tuanya. Dengan demikian, orang tua harus menjadi teladan bagi anaknya.
Orang tua yang rajin membaca cenderung ditiru oleh anaknya. Hal ini terjadi karena seringnya anak melihat orang tuanya membaca. Keteladanan orang tua merupakan metode pendidikan yang baik. Orang tua harus menjadi model dan anutan pembaca buku yang baik.

Keempat, perhatikan minatnya. Untuk mengetahui minat anak terhadap suatu buku, orang tua bisa membawa anak ke toko buku atau perpustakan.
Beri kesempatan kepada anak untuk memilih buku kesukaannya. Buku yang disukai akan mendorong anak untuk membacanya. Menyukai buku merupakan awal tumbuhnya minat baca di kalangan anak.

Kelima, beri buku yang bervariasi. Pemberian buku yang bervariasi (bermacam ragam) agar anak tidak merasa bosan/jenuh dalam membaca buku.
Bisa juga disediakan aneka majalah sebagai selingan. Selain untuk menghindari kejenuhan, variasi bacaan akan menambah luas ilmu pengetahuan dari berbagai sumber bacaan. Dengan demikian anak bisa membaca buku, majalah, koran, atau bentuk tulisan lainnya.

Akhirnya, dengan tumbuhnya kebiasaan membaca pada anak diharapkan setelah dewasa nanti menjadi manusia pembelajar. Manusia yang haus akan ilmu sehingga bersemangat untuk menuntut ilmu (membaca) pada setiap kesempatan. Membaca tidak ada batas umur sehingga timbul moto, ”Tiada hari tanpa membaca”.(Sumber: Pikiran Rakyat)***